Memilih Jodoh Tak Cukup karena Cinta, Kenali Agama dan Akhlaknya

  • 02 Okt 2026 07:48 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Memilih pasangan hidup menjadi salah satu keputusan penting yang perlu dipersiapkan dengan matang. Dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Hj. Sri Ningsih, S.Pd., M.Si., membahas berbagai persoalan dalam rumah tangga, khususnya mengenai pentingnya mengenali calon pasangan sebelum memutuskan untuk menikah, pada Rabu (30/9/2026).

Dengan mengusung tema “Seribu Satu Problema Rumah Tangga dan Solusinya dalam Islam Bagian 5”, pembahasan menyoroti bahwa keputusan menikah tidak cukup didasarkan pada rasa cinta. Calon pasangan perlu dikenali melalui agama, akhlak, tanggung jawab, serta perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang tidak dianjurkan mengambil keputusan secara terburu-buru hanya karena adanya desakan usia maupun kekhawatiran terlambat menikah. Kesabaran dalam menentukan pilihan dengan mempertimbangkan agama dan akhlak dinilai penting agar keputusan yang diambil dapat menjadi pertimbangan untuk kehidupan rumah tangga ke depan.

“Sekalipun Islam itu melarang pacaran sebelum menikah, Islam tidak memerintahkan seseorang menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Maka dalam proses menuju pernikahan calon pasangan boleh melihat calon pasangannya dengan cara yang dibenarkan oleh syariah,” ujar Ustazah Ning.

Mengenali calon pasangan diperlukan agar keputusan menikah tidak hanya didasarkan pada perasaan. Proses tersebut menjadi bagian dari pertimbangan sebelum seseorang menentukan pilihan, sehingga calon suami maupun istri dapat mengetahui karakter dan kondisi pasangan secara lebih objektif.

Bahkan salat istikharah dalam menentukan pasangan tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan. Istikharah perlu berjalan bersama dengan ikhtiar, termasuk mencari informasi, bertanya kepada orang lain, mempertimbangkan berbagai hal, bermusyawarah, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah melalui tawakal.

“Jadi ikhtiar tetap harus dilakukan. Nah, di antara ikhtiar yang harus dilakukan itu adalah bertanya, mencari informasi, mempertimbangkan, bermusyawarah, kemudian istikharah dan tawakal,” jelas Ustazah Ning.

Dengan demikian, istikharah bukan berarti seseorang mengabaikan fakta yang sudah diketahui mengenai calon pasangan. Apabila sejak awal telah ditemukan perilaku atau karakter yang tidak sesuai, hal tersebut tetap perlu menjadi bahan pertimbangan. Menurut Ustazah Ning, seseorang tidak seharusnya beranggapan bahwa setelah menikah, sifat buruk pasangan akan otomatis berubah.

“Nah, istikharah bukan berarti untuk menghapus pertimbangan akal. Ketika kita katakanlah sudah mengetahui secara fakta misalnya orang yang dikenalkan kepada kita dari informasi yang kita peroleh ternyata ada hal yang tidak cocok…..kita tidak bisa mengatakan bahwa toh nanti karena saya sudah istikharah berarti Allah nanti akan merubah dia,” ujarnya.

Perasaan cinta yang sudah terlalu kuat dapat membuat seseorang mengabaikan berbagai pertimbangan penting. Karena itu, calon pasangan perlu dilihat tidak hanya dari perasaan yang muncul, tetapi juga dari perilaku nyata yang ditunjukkan sebelum pernikahan.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan, seperti kebiasaan berbohong, merendahkan orang lain, tidak bertanggung jawab, sulit mengendalikan amarah, mengabaikan agama, tidak menghormati batas pergaulan, hingga menyembunyikan kebiasaan buruk.

“Kalau sebelum menikah sudah terbiasa berbohong, maka jangan berharap akad nikah akan otomatis mengubahnya. Kemudian suka mudah untuk menghina atau merendahkan terutama ketika sedang berbeda pendapat. Kemudian tidak bertanggung jawab, yaitu di antaranya selalu menyalahkan orang lain, kemudian tidak mampu mengendalikan amarahnya,” jelas Ustazah Ning.

Berbagai tanda tersebut menunjukkan bahwa mengenali calon pasangan sebelum menikah bukan sekadar mengetahui hal-hal yang disukai atau tidak disukai, tetapi juga memahami bagaimana seseorang bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

“Khusus bagi para perempuan ini, jangan hanya bertanya apakah dia mencintai saya, tetapi tanyakan apakah dia bertanggung jawab atau tidak. Kemudian apakah dia menjaga salatnya, kemudian juga bagaimana akhlaknya, bagaimana dia memperlakukan ibunya, dan bagaimana dia memperlakukan orang yang lebih lemah daripadanya,” tegas Ustazah Ning.

Sementara itu, bagi laki-laki, pertimbangan terhadap calon istri juga tidak semestinya hanya berpusat pada penampilan. Penting untuk melihat agama, akhlak, hubungan dengan orang tua, kemampuan mengelola emosi, serta sikap amanah.

Penampilan merupakan sesuatu yang dapat menjadi biasa ketika pasangan telah dilihat setiap hari dalam kehidupan rumah tangga. Berbeda dengan akhlak yang akan terus berhadapan dengan pasangan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa proses memilih pasangan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang dicintai, tetapi juga memastikan adanya kesiapan untuk menjalani kehidupan bersama. Cinta dapat menjadi bagian dari hubungan, tetapi agama, akhlak, tanggung jawab, dan karakter menjadi hal yang perlu diperhatikan agar seseorang tidak hanya melihat pasangan berdasarkan perasaan sesaat.

“Jangan hanya karena jatuh cinta lalu memilih apa yang dicintai walaupun kemudian dalam perjalanannya ternyata tidak sesuai. Maka minimalisir persoalan-persoalan yang mungkin terjadi setelah pernikahan,” pesan Ustazah Ning.

Dengan pertimbangan yang lebih matang, keputusan menikah diharapkan tidak hanya lahir dari perasaan, tetapi juga dari kesiapan untuk menerima pasangan beserta karakter dan tanggung jawab yang akan dijalani bersama. Sebab, mengenali calon pasangan sebelum menikah menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan kehidupan rumah tangga yang akan dijalani setelah akad. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....