Istiqomah sebagai Landasan untuk Tetap Teguh dalam Kehidupan
- 14 Sep 2026 15:55 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Istiqomah menjadi salah satu sikap penting dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Istiqomah tidak hanya berkaitan dengan ketekunan dalam beribadah, tetapi juga tentang kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar, menjalankan ketentuan Allah, serta tidak mudah menyimpang ketika menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto edisi Senin, (14/9/2026). Pada bagian ketiga yang mengusung tema Madep, Mantep, Jejeg Men Urip Ora Mededeg ini, masih bersama KH. Mintaraga Eman Surya, Lc., M.A. yang mengajak pendengar untuk memahami makna istiqomah sebagai sikap untuk tetap teguh dan berjalan lurus dalam kehidupan.
Dalam pembahasan tersebut, istiqomah dijelaskan sebagai sikap meniti jalan yang lurus tanpa menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Maknanya mencakup seluruh bentuk ketaatan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Konsep tersebut merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW ketika seorang sahabat meminta nasihat mengenai Islam yang dapat menjadi pegangan. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian istiqomahlah.” Hadis tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai pentingnya konsistensi dalam menjalankan keimanan.
Menurut Ustaz Mintaraga, istiqomah bukan sekadar mengetahui ajaran agama, tetapi bagaimana seseorang dapat menerapkannya dalam kehidupan. Ia menekankan pentingnya memiliki kemauan untuk terus belajar dan memahami ajaran Islam agar apa yang dilakukan tidak berhenti pada pengetahuan atau teori semata.
Salah satu Pelajaran yang dibahas dari hadis tersebut adalah semangat para sahabat dalam mencari ilmu. Mereka tidak ragu bertanya karena ingin memahami ajaran agama dan mengetahui bagaimana cara mengamalkannya.
Menurut Ustaz Mintaraga, pertanyaan seharusnya tidak hanya berputar pada persoalan teoritis atau sesuatu yang belum tentu terjadi. Sebaliknya, seseorang dianjurkan bertanya mengenai persoalan yang dekat dengan kehidupannya dan dapat langsung diterapkan.
“Jadi tanyalah sesuatu yang memang kaitannya dengan bagaimana cara kita hidup dengan baik, yang aplikatif, yang bisa kita langsung amalkan. Jadi bukannya sekadar teori-teori saja,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ketika mencati penjelasan mengenai persoalan agama, seseorang perlu memperhatikan dasar yang digunakan. Penjelasan yang merujuk pada Al-Qur’an dan hadis, serta pengalaman para ulama, menjadi hal yang ditekankan dalam pembahasan tersebut.
Istiqomah bukan berarti seseorang akan terbebas dari berbagai persoalan. Kehidupan tetap memiliki dinamika, tetapi orang yang istiqomah berusaha untuk mempertahankan keyakinan dan tetap menjalankan ketentuan Allah di tengah berbagai keadaan.
Dalam pembahasannya, Ustaz Mintaraga mengutip makna ayat Al-Qur’an mengenai orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Allah kemudian tetap istiqomah. Mereka tidak perlu takut dan tidak perlu bersedih karena memperoleh kabar gembira dari Allah.
Ia kemudian menjelaskan bahwa sikap tersebut dapat membuat seseorang lebih tenang dalam menghadapi apa yang akan terjadi, enggak usah berperan terhadap apa yang telah terjadi,” ujarnya.
Dengan demikian, istqomah dapat menjadi landasan untuk menghadapi masa depan tanpa berlebihan dalam kekhawatiran sekaligus tidak terus terjebak pada hal-hal yang telah berlalu.
Istiqomah juga tidak hanya diwujudkan melalui ibadah secara personal. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tersebut dapat diterapkan dengan menjalankan tanggung jawab sesuai peran masing-masing.
Ustaz Mintaraga memberikan gambaran bahwa seseorang memiliki berbagai peran dalam kehidupan. Sebagai pasangan, orang tua, anak, tetangga, teman, maupun pekerja, setiap peran memiliki tanggung jawab yang perlu dijalankan.
“Udahlah jalani kehidupan. Yang pernah kemarin saya sampaukan. Saya sebagai istri. Ya udahlah kewajiban istri. Saya punya anak sebagai ibu begini. Saya punya orang tua masih hidup. Sebagai anak harusnya begini,” tuturnya.
Menurutnya seseorang tidak perlu mempersulit kehidupan dengan memikirkan terlalu banyak hal di luar tanggung jawabnya. Berpegang pada ketentuan Allah dan menjalankan kewajiban sesuai peran menjadi salah satu cara untuk menjaga keteguhan dalam menjalani kehidupan.
Pembahasan mengenai istiqomah kemudian diarahkan pada introspeksi diri. Istiqomah tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu terlihat dalam konsistensi seseorang dalam menjalankan kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang dilarang.
Ustaz Mintaraga menjelaskan bahwa meninggalkan kewajiban maupun melakukan perbuatan yang diharamkan menunjukkan adanya ketidakonsistenan dalam menjalankan ajaran agama. Karena itu, setiap orang perlu melihat kembali bagaimana praktik keberagamannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau ada kewajiban yang tertinggal, ada yang haram yang kita lakukan, berarti kita dianggap belum istiqomah. Oh, ternyata sederhana, itu makna istiqomah,” jelasnya.
Dengan pemahaman tersebut, istiqomah menjadi proses untuk terus memperbaiki diri. Ketika seseorang menyadari masih ada kekurangan, ia dianjurkan untuk kembalu kepada Allah dan berusaha untuk memperbaiki amalannya.
Dalam sesi tanya jawab, pembahasan juga menyentuh bagaimana seseorang menentukan jalan hidupnya. Ustaz Mintaraga menjelaskan bahwa manusia memiliki akal, hati, dan ilmu yang dapat digunakan untuk memilih jalan kehidupan. Karena itu, manusia tidak hanya pasif menerima keadaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memilih dan berikhtiar.
Ia kemudian mengibaratkan kehidupan sebagai sebuah permainan dan manusia sebagai pemain di dalamya. Setiap orang dapat menghadapi kemenangan maupun kekalahan dalam perjalanan hidup.
“So, be a good player. Jadilah pemain yang baik,” katanya.
Menurutnya, menjadi pemain yang baik membutuhkan ilmu, tekad yang kuat, kemauan belajar dari kesalahan, serta kesungguhan dalam menjalani sesuatu. Pada akhirnya, istiqomah bukan hanya tentang bertahan dalam suatu keadaan, tetapi tentang terus memilih jalan yang benar, menjalankan perintah Allah, dan memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan. Keteguhan tersebut perlu diwujudkan melalui ilmu, amal, serta konsistensi dalam menjalankan berbagai tanggung jawab kehidupan.
Melalui pembahasan Mutiara Pagi, pendengar diajak untuk tidak sekadar memahami arti istiqomah, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Seperti pesan di akhir dialog.
“Mari kita istiqomah dalam jalan kebenaran, jalankan perintah Allah, dan jangan melampaui batas dari perintah Allah,” tegas Ustaz Mintaraga. (Tiara Chelsea)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....