Memilih Pasangan dengan Bijak Sesuai Tuntutan Islam
- 17 Sep 2026 11:10 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Pernikahan dalam Islam tidak hanya dipandang sebagai ikatan antara dua orang, tetapi juga sebagai ibadah dan amanah untuk membangun kehidupan bersama. Karena itu, proses memilih pasangan menjadi salah satu tahap penting yang perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustazah Hj. Sri Ningsih, S.Pd., M.Si. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto edisi Rabu, (16/9/2026). Tausiyah kali ini membahas Seribu Satu Problema Rumah Tangga dan Solusinya dalam Islam Bagian 3. Ustazah Ning mengajak pendengar untuk memilih pasangan dengan bijak agar tidak salah melangkah sejak awal.
Menurutnya, pernikahan bukan sekadar mencaei tema hidup, kebahagiaan, ataupun memenuhi kebutuhan biologis. Pernikahan merupakan ibadah, amanah, sekaligus perjalanan untuk membangun keluarga yang mengarah pada keridaan Allah SWT.
“Pernikahan adalah ibadah, amanah, tempat mencari ketenangan dan kebahagiaan di mana membangun keluarga itu adalah merupakan perjalanan menuju keridaan Allah SWT,” ujar Ustazah Ning.
Ia menjelaskan, keputusan untuk menikah sebenarnya sudah dimulai sebelum ijab kabul, yakni ketika seseorang menentukan siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Oleh sebab itu, Islam memberikan perhatian terhadap proses memilih pasangan.
Ustazah Ning mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan wajah, harta, pekerjaan, kedudukan, popularitas, maupun rasa cinta sebagai satu-satunya dasar dalam menentukan pasangan. Berbagai hak tersebut memang dapat menjadi pertimbangan, tetapi bukan fondasi utama.
Dalam penjelasannya, ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa perempuan dinikahi karena empat perkara, yaitu, harta, keturunan, kecantikan, dan agama. Dari keempat pertimbangan tersebut, Rasululah SAW memberikan penekanan untuk mengutamakan agama.
“Utamakanlah yang memiliki agama,” tegasnya.
Namun, menurut Ustazah Ning, memahami seseorang yang memiliki agama tidak cukup hanya dengan melihat aktivitas ibadah atau penampilan religius. Nilai agama justru perlu dilihat melalui akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena bukan hanya itu, agama harus terlihat dari akhlak dan perilaku seseorang,” jelasnya. Ia menyebut beberapa hal yang dapat diperhatikan, seperti kejujuran, amanah, kemampuan menjaga kehormatan, menepati janji, menjaga lisan, menghormati orang tua, serta memiliki rasa tanggung jawab.
Menurut Ustazah Ning, seseorang juga perlu melihat bagaimana calon pasangan memperlakukan orang lain. Hal ini penting karena perilaku seseorang terhadap orang-orang di sekitarnya dapat menjadi salah satu gambaran mengenai bagaiamana ia beinteraksi dalam kehidupan rumah tangga nantinya.
“Bagaimana dia memperlakukan orang lain. Bagaimana dia memperlakukan orang tua, bagaimana dia memperlakukan saudara, teman. Kalau dia itu seorang atasan, bagaimana dia memperlakukan bawahannya. Bagaimana ketika dia menghadapi orang yang berbeda pendapat dengannya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masa pendekatan dapat membuat seseorang hanya menunjukkan sisi positif dirinya. Karena itu, informasi dari orang-orang terdekat calon pasangan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan.
Informasi tersebut, lanjutnya, perlu diberikan secara jujur dan berimbang, termasuk mengenai kelebihan maupun kekurangan calon pasangan. Dengan demikian, seseorang memiliki gambaran yang lebih utuh sebelum mengambil keputusan untuk menikah.
Selain akhlak secara umum, kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi juga dinilai penting. Ustazah Ning menekankan bahwa orang baik bukan berarti orang yang tidak pernah marah. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bersikap ketika sedang marah.
“Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dia ketika marah. Apakah ketika dia marah itu menghina, mengancam, memukul, merusak barang, membuka aib, mengucapkan kata-kata yang mengandung perpisahan atau kata-kata talak yang sembarangan atau mampu menahan dirinya,” tuturnya.
Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri ketika marah merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum membangun kehidupan bersama. Sebab, rumah tangga mempertmukan dua individu dengan latar belakang, pemikiran, dan karakter yang berbeda sehingga dinamika serta permasalahan merupakan hal yang mungkin muncul.
Dalam menghadapi dinamika tersebut, pasangan perlu memiliki kesadaran terhadap hak dan kewajiban masing-masing serta membangun kesabaran dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Pembahasan juga menyinggung persoalan hubungan dengan pasangan yang berbeda agama. Ustazah Ning menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam yang disampaikan dalam kajian tersebut, agama menjadi salah satu rambu penting dalam menentukan pasangan.
Ia menekankan bahwa kecintaan kepada Allah SWT semestinya menjadi pedoman dalam menentukan pilihan, termasuk ketika seseorang menghadapi perasaan cinta kepada orang lain.
“Kalau dia benar-benar mencintai karena Allah maka dia tidak akan pernah mengorbankan agamanya demi manusia yang dicintai,” katanya.
Karena itu, memilih pasangan tidak hanya berkaitan dengan perasaan, tetapi juga dengan nilai dan prinsip yang menjadi dasar kehidupan bersama. Pemilihan yang dilakukan secara bijak sejak awal diharapkan dapat membantu pasangan untuk menjalani rumah tangga dengan lebih siap dalam menghadapi berbagai dinamika.
Pada akhir pembahasan, Ustazah Ning mengingatkan bahwa kehidupan rumah tangga merupakan proses adaptasi yang berlangsung secara terus-menerus. Masalah yang muncul pun perlu dihadapi dengan kesabaran, instrospeksi, serta upaya mencari akar persoalan dan solusinya.
“Rumah tangga itu adalah sebuah dinamika yang kesabaraan iu dari mulai awal meniah, itu sampai dengan katakanlah meninggal dunia, itu adalah sebuah adaptasi terus-menerus. Selamanya adaptasi,” pungkasnya. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....