BNNK Purbalingga Bantu Anak Muda Pilih Circle Positif untuk Jauhi Narkoba

  • 18 Sep 2026 14:06 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Memilih lingkungan pertemanan menjadi salah satu hal penting bagi anak muda dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang sehat dapat memberikan rasa nyaman dan saling mendukung, sedangkan pertemanan yang diwarnai tekanan atau paksaan dapat membawa seseorang pada pilihan yang tidak sesuai dengan prinsip dan tujuan hidupnya. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan Asni Setiyasih, S.Sos. selaku Katim P2M BNN Kabupaten Purbalingga dalam program SPADA Pro 2 RRI Purwokerto, Kamis (17/9/2026).

Dengan mengusung tema “Cek Circlemu, Kenali Potensimu”, pembahasan tersebut menyoroti pentingnya anak muda untuk lebih cermat dalam memilih circle pertemanan. Tidak hanya untuk menciptakan lingkungan yang saling mendukung, pemilihan circle juga menjadi bagian dari upaya menjauhkan diri dari penyalahgunaan narkoba serta berbagai perilaku berisiko lainnya.

“Jadi memang kodratnya ya sebagai manusia apalagi remaja itu kan pasti sebagai makhluk sosial tetap membutuhkan teman-teman. Itu pasti untuk baik untuk sekadar sharing atau mungkin untuk melakukan segala macam aktivitas, dukungan, support dan lain-lain. Kita pasti butuh teman. Cuma kadang-kadang lingkungan itu tidak selalu lingkungan yang baik,” ujar Asni.

Memiliki teman bukan berarti harus menerima seluruh pengaruh yang muncul dari lingkungan tersebut. Anak muda tetap perlu mempertahankan kemampuan untuk menentukan pilihan dalam pergaulan.

“Jadi, kalau untuk membedakan bagaimana sih pertemanan yang baik itu tentunya dalam lingkungan itu ada kenyamanan, antar saling nyaman. Terus tidak ada keterpaksaan, tidak ada juga yang namanya kamu harus selalu ngikut apa mauku. Jadi, ada kebebasan untuk memilih di situ. Jadi, yang namanya pertemanan yang baik ya tentunya kita saling support, saling dukung untuk menuju suatu kebaikan,” jelas Asni.

Kualitas sebuah circle dapat dilihat dari cara anggota di dalamnya memperlakukan satu sama lain. Seseorang juga tidak selalu dapat mengetahui karakter orang lain sejak pertama kali bertemu. Penilaian terhadap lingkungan pertemanan biasanya terbentuk melalui proses komunikasi dan pengalaman ketika menghadapi berbagai persoalan bersama. Dari proses tersebut, seseorang dapat melihat apakah hubungan yang terjalin memberikan kenyamanan atau justru mulai memberikan tekanan.

Kebebasan dalam menentukan pilihan menjadi hal yang penting karena setiap individu memiliki prinsip dan batasan masing-masing. Dalam pertemanan yang sehat, perbedaan pilihan tidak seharusnya menjadi alasan seseorang mendapatkan tekanan atau ancaman. Sebaliknya, ketika sebuah hubungan mulai diwarnai paksaan, seseorang perlu lebih waspada.

“Contohnya, ‘Aku enggak mau nanti jadi teman kamu kalau kamu enggak mau ngikutin kemauanku.’ Misalnya kan diajakin coba-coba rokok dari awalnya gitu ya, mungkin coba-coba obat-obatan. Nah, itu kalau sampai ada ancaman-ancaman gitu kan kalau dengan secara baik secara verbal maupun secara fisik gitu ya,” ungkap Asni.

Ancaman yang disertai ajakan terhadap perilaku berisiko perlu menjadi perhatian. Ketika seseorang mulai mendapatkan tekanan agar melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan, ia perlu mengambil langkah untuk melindungi dirinya.

Lingkungan pertemanan kemudian menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan penyalahgunaan narkoba. Dalam program tersebut, Asni menyampaikan data penelitian mengenai sumber narkoba yang diperoleh anak muda. Menurutnya, teman menjadi salah satu pihak yang disebut dalam hasil penelitian tersebut.

“Jadi memang hasil ini penelitian ya, pengukuran angka prevalensi itu menunjukkan bahwa sebagian besar maja itu hampir lebih dari 80% yang sudah pernah pakai narkoba itu menyatakan kalau dia dapat narkoba itu dari temannya sendiri,” ungkap Asni.

Karena itu, anak muda perlu kembali melihat tujuan hidup dan kenyamanan dirinya ketika berada dalam sebuah circle. Keinginan untuk mempertahankan pertemanan tidak seharusnya membuat seseorang mengorbankan tujuan yang ingin dicapai.

Anak muda tidak perlu takut ketika harus menghadapi kesepian sementara karena memilih menjauh dari lingkungan yang memberikan pengaruh buruk. Jarak dari circle tertentu dapat dilakukan secara perlahan dengan mengurangi intensitas pertemuan dan komunikasi.

Asni juga menyarankan agar pembicaraan dalam hubungan pertemanan secara perlahan diarahkan kepada hal-hal positif. Di sisi lain, anak muda dapat mulai mencari lingkungan baru yang memiliki hobi, minat, maupun aktivitas positif yang sama. Dengan cara tersebut, proses menjauh dari lingkungan negatif dapat dilakukan secara bertahap.

Selain tekanan secara langsung dari teman, pengaruh lingkungan juga dapat muncul melalui tren di media sosial. Salah satunya adalah FOMO atau fear of missing out, yaitu kondisi ketika seseorang merasa perlu mengikuti sesuatu agar tidak merasa tertinggal dari orang lain.

“Jadi yang namanya FOMO itu kan berarti kita meletakkan standar keren, gaul itu melalui standar orang lain gitu kan. Nah, jadi kita tahulah sekarang zaman media sosial gitu ya ada influencer baik lokal maupun global itu yang kadang-kadang menawarkan gaya hidup yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang kita anut,” jelas Asni.

Ia menilai bahwa anak muda perlu memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai tren yang muncul di media sosial. Tidak semua hal yang dilakukan orang lain harus ditiru. Sebaliknya, anak muda dapat memilih tren yang memberikan manfaat dan sesuai dengan nilai maupun tujuan hidupnya.

Asni bahkan mendorong anak muda untuk menjadi trendsetter dengan menciptakan atau mengikuti tren yang positif. Ia mencontohkan kegiatan hidup sehat, olahraga, kreativitas, hingga kegiatan kewirausahaan sebagai aktivitas yang dapat memberikan manfaat sekaligus menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitar.

“Memang tidak semua remaja itu bisa langsung mengenali ya, aku punya potensi apa, mungkin enggak sadar gitu ya. Padahal dia tuh punya misalnya ternyata itu dia hobi ngomong gitu ya. Dia enggak sadar kalau dia ternyata public speaking-nya bagus atau dia punya kemampuan untuk mempengaruhi teman-teman yang lain dengan ceritanya gitu,” ujar Asni.

Dalam sesi berikutnya, Asni memberikan dorongan kepada anak muda yang merasa memiliki keterbatasan biaya atau kurang percaya diri dalam mengembangkan potensi. Menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mencoba karena saat ini tersedia banyak media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan.

“Karena sekarang media untuk mengembangkan potensi diri itu banyak. Media untuk belajar ya di zaman internet ibaratnya gitu. Materi-materi apapun kita bisa pelajari gratis ibaratnya kayak gitu. Jadi kuncinya itu untuk bisa mengembangkan potensi adalah niat ya, kemauan sama konsistensi ya,” ujar Asni.

Seseorang tidak harus langsung berhasil pada percobaan pertama. Dengan terus mencoba dan melakukan evaluasi, kemampuan yang dimiliki dapat semakin terasah. Kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuan juga dapat membantu anak muda mengisi waktu dengan aktivitas yang positif. Menurut Asni, ketika seseorang memiliki tujuan dan kesibukan yang ingin dicapai, perhatian terhadap kegiatan yang berisiko dapat berkurang.

Hal tersebut juga berkaitan dengan upaya menjauhkan anak muda dari penyalahgunaan narkoba. Asni menjelaskan bahwa seseorang yang tidak mengenali potensi dirinya dapat mengalami rasa rendah diri dan kurang percaya diri. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat seseorang mengalami tekanan dan stres.

Selain mengenali diri sendiri, keberadaan teman yang suportif juga dibutuhkan dalam proses mengembangkan potensi. Circle yang sehat tidak hanya memberikan tempat untuk berkumpul, tetapi juga mendorong setiap anggotanya untuk berkembang.

“Jadi ya kembali lagi kita untuk milih circle pertemanan itu pokoknya kita cari teman. Jadi kalau teman yang baik itu kan kita bersama-sama tumbuh ya, bukan bersama-sama runtuh ibaratnya seperti itu. Jadi pilihlah teman yang suportif yang mungkin kalau bisa ya memiliki minat dan hobi yang sama, satu frekuensi, saling memahami ya, bisa membuat kita nyaman,” jelas Asni.

Dukungan keluarga juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Asni menyebut bahwa orang tua dapat memberikan dukungan sekaligus arahan kepada anak sesuai dengan potensi dan tujuan yang ingin dicapai.

Akan tetapi, ia juga menegaskan bahwa memilih teman bukan berarti seseorang harus membatasi pergaulan secara berlebihan. Pemilihan tersebut lebih berkaitan dengan kemampuan mengenali lingkungan yang memberikan pengaruh positif dan lingkungan yang justru dapat menjerumuskan.

Melalui program SPADA Pro 2 RRI Purwokerto tersebut, anak muda diajak untuk tidak hanya melihat pertemanan sebagai tempat mencari penerimaan, tetapi juga sebagai lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan diri. Dengan memilih circle yang suportif, mengenali potensi, mengembangkan kemampuan secara konsisten, serta berani menolak pengaruh negatif, anak muda dapat memiliki ruang yang lebih sehat untuk bertumbuh sekaligus menjauhkan diri dari penyalahgunaan narkoba. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....