Menjaga Batas Kerja dan Rumah agar Pikiran bisa Beristirahat

  • 30 Sep 2026 11:44 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Bagi sebagian orang, berakhirnya jam kerja bukan berarti pekerjaan benar-benar selesai. Laptop masih dibuka di rumah, notifikasi pekerjaan terus masuk, bahkan persoalan dari tempat kerja tetap memenuhi pikiran meskipun tubuh sudah berada di rumah. Kondisi tersebut menjadi pembahasan dalam program Ruang Psikologi Pro 1 RRI Purwokerto yang mengusung tema Kerja Selesai, Pikiran Belum: Saat Pekerjaan Terbawa ke Rumah, pada Senin (28/9/2026).

Dalam dialog yang menghadirkan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Dr. Ugung Dwi Ario Wibowo, M.Psi. menjelaskan bahwa persoalan membawa pekerjaan ke ruamh perlu dilihat berdasarkan jenis dan karakter pekerjaan.

Menurutnya, tidak semua profesi dapat menerapkan batas waktu kerja dengan cara yang sama. Beberapa pekerjaan, terutama yang berbasis layanan, memiliki tuntutan yang memungkinkan seseorang harus bekerja di luar jam kantor. Rumah sakit, perguruan tinggi, hingga pekerjaan yang berhubungan dengan klien dari negara dengan perbedaan waktu menjadi contoh pekerjaan yang memiliki karakter berbeda dari pekerjaan dengan sistem office hour.

Sementara itu, pada pekerjaan yang memang memiliki jam kerja dan beban kerja yang jelas, batas antara pekerjaan dan kehidupan di rumah perlu dijaga. Ugung menjelaskan bahwa batas tersebut berkaitan dengan konsep work-life balance.

“Kalau ini dalam konteks manufaktur, ya betul saya sepakat harus ada boundary yang jelas antara pekerjaan dan urusan rumah,” jelasnya.

Menurut ugung, salah satu penyebab seseorang sulit berhenti memikirkan pekerjaan adalah psychological detachment failure. Istilah terebut merujuk pada kondisi seseorang gagal melepaskan diri secara psikologis dari pekerjaan meskipun aktivitas kerjanya sudah berakhir.

Kondisi ini dapat terjadi ketika boundary atau batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mulai “bocor”. Seseorang mungkin sudah meninggalkan kantor, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh email yang belum dibalas, pekerjaan yang belum selesai, atau persoalan yang harus ditangani keesokan harinya.

Namun, Ugung menekankan bahwa pekerjaan di luar jam kantor tidak selalu berarti pelanggaran batas. Pada profesi tertentu, pekerja memang memiliki karakter berbasis layanan atau ketuntasan pekerjaan. Dalam kondisi tertentu seperti akreditasi, sertifikasi, atau pekerjaan darurat, tambahan waktu kerja dapat menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan.

Karena itu, menurutnya, beban kerja perlu dianalisis terlebih dahulu. Jika seseorang sudah memahami beban kerja selama jam kerja dan masih mendapat tambahan pekerjaa di luar waktu tersebut, pekerjaan tambahan tersebut semestinya diperhitungkan sebagai lembur.

Selain batas kerja yang bocor, Ugung juga mengingatkan mengenai hustle culture, yaitu budaya yang membuat seseorang memandang pekerjaan sebagai segala-galanya dan merasa perlu terus terlihat sibuk. Menurutnya, seseorang dapat merasa bangga ketika menceritakan bahwa dirinya pulang larut malam demi pekerjaan. Padahal, kebiasaan tersebut perlu dilihat kembali, terutama ketika mulai mengganggu kehidupan pribadi dan keluarga.

“Hustle culture ini jadi jangan sampai dia itu menyamar jadi loyalitas,” jelas Ugung.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memberikan dampak terhadap kondisi seseorang. Ugung menyebut beberapa dampak yang dapat muncul, seperti emotional exhaustion, kelelahan fisik, hingga burnout. Kelelahan emosional juga dapat membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi.

Untuk membantu seseorang melepaskan diri dari pekerjaan. Ugung menyarankan adanya “ritual penutup” setelah aktivitas kerja selesai. Salah satunya dengan memisahkan perangkat atau nomor yang digunakan khusus untuk urusan pekerjaan sehingga tidak terus terbawa ke rumah.

Selain itu, ia menjelaskan tentan teknis transisi yang dapat membantu seseorang berpindah dari peran sebagai pekerja menjadi anggota keluarga ketika berasa di rumah. Pertama, transisi fisik, misalnya dengan mengganti pakaian kerja setelah sampai di rumah. Kedua, transisi mental, seperti melakukan aktivitas yang membantu menenangkan pikiran. Dalam dialog tersebut, Ugung mencontogkan wudu sebagai salah satu bentuk grounding.

Ketiga, transisi peran, yaitu menyadari bahwa ketika sudah berada di rumah, seseorang tidak lagi menjalankan peran yang sama seperti ketika berada di tempat kerja. Hal tersebut dapat dilakukan melalui self-talk, misalnya dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa saat berada di rumah, dirinya berperan sebagai ayah, ibu, pasangan, atau anggota keluarga.

“Teknik-teknik transisi, contoh aja tiga ya, transisi fisik, misalnya ganti baju, kemudian transisi mental, termasuk misalnya ketika wudu, kemudian transisi peran,” jelasnya.

Ugung juga menyarankan adanya ”wadah curhat 15 menit”, yaitu memberikan waktu terbatas untuk membicarakan persoalan pekerjaan bersama pasangan setelah waktu terbatas untuk membicarakan persoalan pekerjaan bersama pasangan setelah sampai di rumah. Setelah waktu tersebut selesao, pembicaraan mengenai pekerjaan dapat dihentikan agar kehidupan di rumah tidak sepenuhya dipenuhi dengan persoalan kantor.

Pada akhirnya, menjaga batas antara pekerjaan dan rumah tidak berarti setiap orang harus menerapkan aturan yang sama. Karakter pekerjaan, tanggung jawab profesi, sistem kerja, hingga kondisi tertentu perlu menjadi pertimbangan.

Pekerjaan berbasis layanan seperti tenaga kesehatan, pemadam kebakaran, atau profesi lain yang menghadapi situasi darurat memiliki tuntutan yang berbada dengan pekerjaan manufaktur atau administrasi dengan jam kerja yang lebih terukur. Karena itu, menurut Ugung, seseorag perlu memahami karakter pekerjaannya sekaligus tetap memiliki kemampuan untuk berpindah peran ketika pekerjaan telah selesai.

“Kita bukan robot. Kita itu khalifah yang punya banyak peran dan kita semua tidak bisa menyenangkan sesame orang,” pungkasnya

Dengan memahami batas kerja dan membangun transisi yang jelas dari tempat kerja menuju rumah, seseorang diharapkan tidak hanya menyelesaikan pekerjaannya, tetapi juga dapat benar-benar hadir dalam kehidupan pribadi dan keluarga (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....