Memilih antara Mengejar Target dan Memberi Diri Waktu untuk Istirahat
- 21 Sep 2026 11:42 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Kesibukan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tugas kuliah, pekerjaan, organisasi, hingga berbagai tanggung jawab lainnya membuat seseorang terbiasa untuk menjalani hari dengan target yang harus diselesaikan.
Bahkan ketika memiliki waktu luang, tidak sedikit yang tetap merasa harus melakukan sesuatu agar waktunya tidak terbuang sia-sia. Namun, terus memaksakan diri untuk produktif juga dapat membuat tubuh dan pikiran kehabisan energi. Karena itu, kemampuan untuk menentukan kapan harus terus berusaha dan kapan perlu berhenti menjadi hal penting dalam menjaga keseimbangan aktivitas.
Topik tersebut dibahas dalam program English Corner Pro 2 Purwokerto melalui perbincangan bersama R. Hafsyah dan Fahri, yang dipandu oleh Rofi dan juga Falin. Keduanya berbagi pengalaman mengenai cara mengisi waktu luang, mengatur pekerjaan, menghadapi kegiatan organisasi, hingga mengenali tanda ketika tubuh membutuhkan istirahat.
Bagi Hafsyah, hari ideal adalah ketika dirinya dapat terbebas dari tekanan tugas dan tenggat waktu. Di mana ia memiliki waktu untuk bangun sedikit terlambat, melakukan hobi, melakukan stretching, hingga sekadar berbaring tanpa memikirkan pekerjaan.
Sementara itu, Fahri memiliki pandangan yang lebih fleksibel terhadap waktu libur. Ketika sedang memiliki motivasi, ia dapat menggunakan waktu tersebut untuk menyelesaikan tugas, mengerjakan pekerjaan rumah, berpergian, atau melakukan aktivitas lain. Namun, ketika energi sudah terkuras karena perkuliahan maupun kegiatan lainnya, ia memilih untuk beristirahat.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa istirahat tidak selalu berarti melakukan hal yang sama bagi setiap orang. Ada yang merasa kembali berenergi setelah tidur, sementara yang lain justru membutuhkan aktivitas ringan atau hiburan.
Fahri sendiri memilih untuk makan dan menonton podcast sebagai salah satu cara untuk mengisi kembali energinya setelah menjalani hari yang padat. Di sisi lain, Hafsyah mengatakan bahwa ketika sudah benar-benar kehabisan energi, ia lebih memilih untuk langsung tidur karena tidak memiliki tenaga untuk melakukan aktivitas lain.
Ketika berbagai pekerjaan datang bersamaan, keinginan untuk menyelesaikan semuanya sekaligus sering kali muncul. Namun, menurut Fahri, membagi pekerjssn berdasarkan prioritas dapat menjadi cara untuk menghindari beban yang terlalu berat.
“Aku menentukan tugas mana yang benar-benar perlu diselesaikan terlebih dahulu dan mencoba untuk menyelesaikannya secara bertahap,” ujarnya.
Cara tersebut membuat pekerjaan dapat dikerjakan sedikit demi sedikit tanpa harus menghabiskan waktu. Hafsyah juga memilih pendeketan yang berbeda dengan mengambil jeda di sela-sela pekerjaan. Ia biasanya menggunakan waktu tersebut untuk tidur atau keluar sebentar untuk mencari udara segar.
Mengatur pekerjaan dengan mempertimbangkan kondisi tubuh menjadi penting karena terlalu memaksakan diri dapat membuat fokus menurun. Dalam perbincangan tersebut, Rofi dan Falin, sebagai host juga menekankan bahwa pekerjaan yang dilakukan ketika energi sudah habis berisiko tidak terselesaikan secara maksimal.
Dengan demikian, produktivitas tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak tugas yang dapat diselesaikan, tetapi juga bagaimana seseorang mengatur energi agar tetap mampu menjalankan aktivitas lainnya.
Kebiasaan untuk terus produktif juga muncul ketika seseorang sebenarnya memiliki waktu luang. Hafsyah mengaku tetap berusaha untuk menggunakan waktu tersebut untuk mengerjakan tugas sedikit demi sedikit atau menyelesaikan pekerjaan lain agar tidak menumpuk.
Namun, Fahri memiliki batas tertentu. Ketika energi sudah benar-benar habis akibat kegiatan organisasi, ia memilih untuk menggunakan waktu luangnya untuk beristirahat. Menurutnya, memaksakan diri dalam kondisi tersebut justru dapat membuat pekerjaan tidak maksimal dan berbagai aktivitas menjadi berantakan.
Istirahat pun tidak selalu berarti tidur sepanjang waktu. Mendengarkan musik atau podcast juga dapat menjadi cara terbaik untuk membuat aktivitas terasa lebih menyenangkan. Hafsyah, misalnya, terbiasa untuk mendengarkan musik favorit atau podcast ketika mengerjakan tugas karena suasana tersebut membuatnya menjadi lebih bersemangat.
Kesibukan menjadi persoalan ketika seseorang mulai mengabaikan kebutuhan tubuh demi mengejar target. Hafsyah mengatakan bahwa seseorang perlu mulai berhenti ketika ambisinya berubah menjadi beban dan mulai memberikan dampak pada kondisi fisik.
“Kita harus menyadarinya ketika ambisi kita mulai menjadi beban dan menyakiti diri kita sendiri,” ujar Hafsyah.
Ia menceritakan bahwa kurang tidur hingga tubuh menunjukkan reaksi tertentu menjadi salah satu tanda baginya untuk berhenti dan mengambil waktu untuk istirahat. Menurutnya, tidak selalu ada tanda dari luar yang mengingatkan seseorang untuk berhenti. Kesadaran tersebut perlu datang dari diri sendiri.
Fahri juga menilai bahwa Ketika aktivitas mulai terasa sangat berat, membuat kewalahan, atau menghilangkan rasa bahagia, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa seseorang perlu untuk memperlambat diri..
“Ketika ambisi mulai mempengaruhi kesehatan kita, membuat waktu tidur berkurang, dan mulai membuat tidak bahagia, kamu harus sadar kalau kamu harus berhenti,” kata Fahri.
Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu pribadi bukan perkara mudah, terutama bagi mereka yang memiliki banyak kegiatan. Fahri mengungkapkan bahwa kepanitiaan dan tugas dapat membuat seseorang tetap memiliki tanggung jawab bahkan pada akhir pekan. Sementara itu, Hafsyah melihat jumlah kegiatan dan keterbatasan waktu sebagai salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keseimbangan.
Karena itu, memberikan waktu untuk beristirahat bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Justru, mengenali batas kemampuan dapat membantu seseorang dalam menjaga kondisi tubuh dan tetap menjalankan aktivitas dengan lebih baik. Kepada mereka yang terbiasa untuk memaksakan diri, Hafsyah menyampaikan pesan sederhana.
“Semuanya tidak harus sempurna. Semua membutuhkan waktu,” ujar Hafsyah.
Pesan tersebut sejalan dengan pandangan Fahri bahwa memperlambat diri bukanlah tanda kegagalan. Menjaga kesehatan dan memberikan kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat merupakan bagian dari upaya untuk mencintai diri sendiri.
Pada akhirnya, mengejar target dan memberikan waktu untuk beristirahat bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satunya. Keduanya dapat berjalan beriringan selama seseorang mampu mengenali prioritas, mengatur energi, serta memahami batas dirinya. Sebab, menjadi produktif bukan berarti harus selalu sibuk, dan beristirahat bukan berarti berhenti berusaha. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....