Memenuhi Kebutuhan dan Dambaan Hidup dengan Sikap Saling Menghormati

  • 18 Sep 2026 15:51 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Setiap manusia memiliki kebutuhan dan dambaan yang menjadi bagian dari perjalanan hidup. Kebutuhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga mencakup kebutuhan rohani, hubungan sosial, kebahagiaan, serta penghargaan dari orang lain. Dalam menjalani kehidupan, manusia perlu memahami kebutuhan tersebut secara seimbang agar tidak hanya mengejar kesenangan pribadi, tetapi juga mampu membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Drs. KH. Achmad Kifni dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto dengan tema “Kebutuhan dan Dambaan Manusia Bagian 2”, Kamis (17/9/2026). Pada pembahasan bagian kedua, Ustaz Kifni menjelaskan tiga kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan untuk bergaul dan bermasyarakat, kebutuhan untuk memperoleh kesenangan dengan tetap menjaga batas, serta kebutuhan untuk dihargai dan menghargai orang lain.

“Karena makhluk manusia itu ya makhluk sosial, makhluk individual. Dia makhluk ada pada dirinya sendiri tapi juga makhluk sosial. Perlu pertolongan, bantuan kontak dengan pihak lain sesama manusia,” ujar Ustaz Kifni.

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki dua sisi yang berjalan bersamaan, yakni sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat. Manusia memang memiliki kebutuhan pribadi, tetapi pada saat yang sama membutuhkan orang lain untuk berinteraksi, bekerja sama, dan memperoleh bantuan dalam kehidupan.

Ustaz Kifni juga menjelaskan bahwa ajaran Islam mendorong manusia untuk saling mengenal dan membangun hubungan sosial. Hal tersebut dikaitkan dengan Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

“Pada dasarnya manusia sangat membutuhkan pertolongan orang lain. Dengan demikian kebutuhan ini jangan diabaikan, bergaul, bermasyarakat, berkomunitas, bersaudara, berorganisasi, berpaguyuban, berpersatuan, ikatan,” jelas Ustaz Kifni.

Bergaul dan membangun hubungan dengan sesama bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi menjadi bagian dari kebutuhan manusia. Kehidupan bermasyarakat memungkinkan seseorang untuk saling membantu, membangun persaudaraan, serta menciptakan ikatan sosial yang dapat mendukung kehidupan bersama.

Selain kebutuhan untuk berinteraksi, Ustaz Kifni menjelaskan bahwa manusia juga memiliki kebutuhan untuk merasakan kegembiraan dan kesenangan. Menurutnya, menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam kehidupan diperbolehkan selama tetap berada dalam batas kewajaran.

“Jadi, manusia ini butuh ingin senang. Rumah bagus boleh, tapi jangan lupa masjid. Pakaian bagus boleh, tapi jangan lupa pakaian ihram dan kain kafan. Makan senang-senang boleh, tapi usus terbatas. Jadi indah sekali Al-Qur'an itu dan kebutuhan manusia itu makan minum tetapi jangan melampaui batas,” ujar Ustaz Kifni.

Pentingnya keseimbangan antara menikmati kehidupan dunia dan mengingat kehidupan akhirat. Menurut Ustaz Kifni, kesenangan bukan sesuatu yang harus ditinggalkan, tetapi perlu dikendalikan agar tidak berubah menjadi perilaku berlebihan.

“Jadi dengan demikian boleh berumah baik, bermobil baik, berpakaian baik, bermakan enak, wisata boleh, tetapi kuncinya satu, wala tusrifu jangan berlebih-lebihan,” pungkasnya.

Kebutuhan manusia selanjutnya berkaitan dengan penghargaan. Manusia pada dasarnya membutuhkan penghormatan, penghargaan, dan perlakuan yang memuliakan dari orang lain. Namun, kebutuhan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kewajiban untuk memberikan penghargaan yang sama kepada sesama.

Menurutnya, seseorang tidak seharusnya hanya menuntut untuk dihormati tanpa menunjukkan sikap menghormati orang lain. Hubungan sosial yang baik justru dibangun melalui sikap timbal balik.

“Jadi manusia ini butuh dan mendambahkan dirinya dimuliakan oleh sesamanya. Tetapi harus sadar dimuliakan itu pun saling saling menghormati, saling menghargai, saling memuliakan. Jangan dia ingin dimuliakan tapi pada orang lain sukanya merendahkan,” ujar Ustaz Kifni.

Dengan demikian, penghargaan tidak hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang ingin diterima, tetapi juga sesuatu yang perlu diberikan kepada orang lain. Sikap tersebut dapat diterapkan dalam hubungan keluarga, pertemanan, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat.

“Maka saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi. Jadi orang yang selalu ingin dihargai tapi tidak mau menghargai orang lain itu tidak membahagiakan. Dan bukan itu yang didambahkan. Maunya dikunjungi terus gak mau mengunjungi. Maunya dimintai maaf terus tidak pernah minta maaf. Maunya disalami terus tidak mau menyalami,” ungkap Ustaz Kifni.

Kebutuhan manusia terhadap penghargaan perlu diwujudkan melalui hubungan yang saling memberi. Menghormati orang lain menjadi bagian penting agar hubungan sosial tidak berjalan secara sepihak.

Pembahasan mengenai kebutuhan dan dambaan manusia juga dikaitkan dengan gaya hidup. Dalam sesi dialog, seorang pendengar menanyakan cara membedakan kebutuhan dan keinginan di tengah gaya hidup konsumtif.

Menanggapi hal tersebut, Ustaz Kifni menjelaskan bahwa mengikuti gaya hidup yang terus berubah dapat membuat seseorang tidak pernah merasa selesai dalam memenuhi keinginannya. Sebaliknya, kebutuhan memiliki batas yang lebih jelas sehingga dapat diukur dan diprioritaskan.

Menurutnya, kebutuhan makan misalnya, dapat dipenuhi dengan makanan yang halal, baik, bergizi, dan bermanfaat tanpa harus mengikuti gaya tertentu. Begitu pula dengan pakaian yang pada dasarnya berfungsi untuk menutup aurat dan melindungi tubuh.

Ustaz Kifni menekankan bahwa manusia perlu memahami tujuan utama dari suatu kebutuhan agar tidak mudah terbawa oleh perubahan gaya. Sikap tersebut sejalan dengan pembahasan sebelumnya mengenai larangan berlebihan. Ketika manusia mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, pemenuhan kebutuhan dapat dilakukan secara lebih terukur. Dengan begitu, manusia tidak mudah terjebak dalam keinginan yang terus berkembang hanya karena mengikuti tren atau gaya hidup.

Pada akhirnya, pembahasan Ustaz Kifni mengenai kebutuhan dan dambaan manusia mengarah pada pentingnya keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan hubungan sosial, membutuhkan kegembiraan, serta membutuhkan penghargaan. Namun, seluruh kebutuhan tersebut perlu dijalankan dengan batas dan tanggung jawab.

Pemenuhan kebutuhan juga perlu disertai kesadaran untuk memperhatikan orang lain. Saling menghormati, menghargai, menyayangi, mendengarkan, dan tidak memaksakan kehendak menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang sehat dalam kehidupan bersama. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....