Kerja Keras Bukan Berarti Terus Memaksa Diri untuk Tetap Produktif
- 21 Sep 2026 11:47 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Menjalani berbagai aktivitas di tengah tuntutan perkuliahan, organisasi, maupun pekerjaan membuat seseorang perlu memiliki kemampuan untuk mengatur waktu dan energi. Kesibukan memang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi terus memaksakan diri untuk produktif tanpa memberikan waktu untuk beristirahat dapat membuat tubuh dan pikiran mengalami kelelahan. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program English Corner Pro 2 RRI Purwokerto bersama R. Hafsyah dan Fahri dari EFEC UNSOED serta Falin selaku co-host, pada Minggu (20/9/2026).
Dengan mengusung tema “Menemukan Keseimbangan: Antara Kesibukan dan Istirahat”, perbincangan tersebut membahas bagaimana seseorang dapat menjaga keseimbangan antara menyelesaikan tanggung jawab dan memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Dalam perbincangannya, para narasumber membagikan pengalaman mengenai cara mengelola kesibukan, mengisi kembali energi, menghadapi rasa malas, hingga mengenali tanda-tanda ketika tubuh sudah membutuhkan waktu untuk berhenti.
“Bagiku, hari ideal adalah ketika aku tidak perlu memikirkan tugas dan deadline. Aku bisa bangun agak telat, melakukan hobiku, melakukan stretching, dan tidak memikirkan homework, assignment, atau apa pun,” ujar Hafsyah.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa waktu istirahat tidak selalu harus diisi dengan kegiatan yang menghasilkan sesuatu secara langsung. Bagi Hafsyah, terbebas sejenak dari tekanan akademik justru menjadi bagian dari cara untuk memulihkan energi.
Ia juga menyebutkan beberapa kegiatan yang biasa dilakukan ketika memiliki waktu luang, seperti bermain gitar dan membaca komik. Aktivitas tersebut menjadi bentuk rekreasi sederhana yang dapat dilakukan tanpa tekanan untuk mencapai target tertentu.
“Bagiku, hari libur adalah hari ketika aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan. Aku orang yang cukup mengikuti suasana hati. Ketika sedang termotivasi, aku bisa menyelesaikan tugas atau melakukan sesuatu seperti bepergian. Tetapi ketika merasa lelah karena perkuliahan atau kegiatan lainnya, aku akan menjadi malas, bangun terlambat, tidak melakukan apa-apa, menonton YouTube, atau bermain gim,” ujar Fahri.
Fahri memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai hari libur. Menurutnya, waktu luang dapat digunakan sesuai dengan kondisi dan suasana hati. Ketika memiliki energi dan motivasi, ia masih dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk menyelesaikan tugas maupun melakukan aktivitas lain.
Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa kebutuhan seseorang terhadap istirahat dapat berbeda-beda. Ada yang merasa kembali berenergi setelah melakukan hobi, sementara sebagian lainnya justru membutuhkan waktu tanpa aktivitas untuk memulihkan kondisi tubuh dan pikiran.
Dalam diskusi tersebut, pembawa acara juga menanyakan cara para narasumber mengisi kembali energi setelah melewati hari yang padat. Fahri menyebutkan bahwa makan dan menonton podcast menjadi salah satu cara yang membuatnya merasa lebih rileks.
Namun, Hafsyah memiliki cara berbeda. Setelah menjalani aktivitas seharian, ia lebih memilih tidur karena merasa energinya sudah benar-benar terkuras.
“Kalau sudah seharian penuh beraktivitas, aku pasti hanya ingin tidur karena sudah tidak punya energi lagi untuk melakukan apa pun. Aku tidak bisa bermain YouTube atau gim,” ungkapnya.
Memulihkan energi tidak selalu harus dilakukan dengan aktivitas tambahan. Ketika tubuh sudah berada dalam kondisi lelah, tidur dan beristirahat dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai dibandingkan memaksakan diri untuk tetap melakukan kegiatan lain.
Pembahasan kemudian berlanjut pada bagaimana seseorang menghadapi banyak tugas dalam satu waktu. Fahri mengaku memiliki keinginan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaannya, tetapi jumlah tugas yang banyak membuatnya perlu membagi pekerjaan berdasarkan tingkat kepentingannya.
Ia menilai bahwa menyelesaikan pekerjaan secara bertahap dapat membantu seseorang menghindari kelelahan yang berlebihan. Hal tersebut juga berkaitan dengan kemampuan untuk mengatur energi, bukan sekadar mengatur waktu.
Hafsyah pun memiliki pandangan serupa. Ia mengatakan dirinya bukan tipe orang yang mampu menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus sehingga lebih memilih mengambil jeda di antara pekerjaan. Ketika beristirahat, ia biasanya tidur atau keluar untuk mendapatkan udara segar.
Cara tersebut menunjukkan bahwa jeda bukan berarti seseorang meninggalkan tanggung jawab. Istirahat dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga kemampuan agar tetap dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Fahri menambahkan bahwa kondisi tubuh juga perlu menjadi pertimbangan ketika seseorang memiliki banyak pekerjaan. Menurutnya, selain tugas kuliah, dirinya juga memiliki tanggung jawab dalam organisasi dan kepanitiaan. Ketika energi sudah habis karena aktivitas tersebut, ia memilih untuk beristirahat daripada memaksakan diri.
“Kalau dalam sehari energiku sudah benar-benar habis karena kegiatan organisasi, di waktu luang aku akan memilih untuk beristirahat dan tidak melakukan apa-apa. Kalau aku memaksakan diri menyelesaikan tugas dalam kondisi seperti itu, hasilnya juga tidak akan maksimal dan semuanya bisa menjadi kacau,” tambah Fahri.
Dalam kondisi tertentu, memaksakan pekerjaan justru dapat membuat hasil yang diperoleh tidak maksimal. Karena itu, kemampuan mengenali kapan harus berhenti menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas.
Pembahasan mengenai keseimbangan kemudian mengarah pada pentingnya mengenali tanda-tanda ketika ambisi mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat. Hafsyah menyebut bahwa kondisi tubuh dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan.
“Aku pikir kita harus menyadarinya ketika ambisi mulai menjadi beban dan menyakiti kita,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa tubuh memiliki batas. Ketika aktivitas mulai mengganggu kebutuhan dasar seperti tidur, seseorang perlu mengevaluasi kembali pola aktivitas yang dijalani.
Fahri juga menyampaikan bahwa gangguan terhadap waktu tidur maupun makan dapat menjadi tanda bahwa seseorang perlu memperhatikan kondisi tubuhnya. Selain kondisi fisik, rasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitas juga perlu menjadi pertimbangan. Menurutnya, seseorang perlu menyadari ketika aktivitas yang sebelumnya dijalani dengan semangat mulai terasa membebani dan membuat dirinya tidak lagi menikmati proses.
Kelelahan yang berlangsung terus-menerus juga berkaitan dengan tantangan mahasiswa dalam membagi waktu antara perkuliahan dan organisasi. Salah satu kesulitan terbesar adalah ketika tidak memiliki waktu untuk diri sendiri karena tugas dan kegiatan organisasi tetap berjalan bahkan pada akhir pekan.
“Siapa pun kamu, tolong jangan memaksakan diri. Semuanya tidak harus sempurna dan semuanya membutuhkan waktu. Kamu juga harus menjaga tubuh dan kesehatanmu,” tegas Hafsyah.
Pesan tersebut kemudian diperkuat oleh Fahri yang menekankan pentingnya mencintai diri sendiri. Menurutnya, menjaga kesehatan dan kebahagiaan menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
“Untuk teman Pro 2, jangan memaksakan diri. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencintai diri sendiri. Salah satu cara untuk mencintai diri sendiri adalah menjaga kesehatan dan tetap bahagia,” ungkap Fahri.
Pernyataan tersebut menjadi penutup pembahasan mengenai pentingnya menemukan keseimbangan antara kesibukan dan istirahat. Kerja keras tetap dibutuhkan untuk mencapai tujuan, tetapi produktivitas tidak harus diwujudkan dengan terus memaksa diri tanpa memperhatikan kondisi tubuh.
Istirahat justru dapat menjadi bagian dari proses untuk mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang. Dengan mengenali batas kemampuan, mengatur waktu, memberikan jeda, serta memperhatikan kebutuhan fisik dan mental, seseorang dapat menjalankan berbagai tanggung jawab secara lebih seimbang.
Dalam perbincangan English Corner Pro 2 yang membahas tema “Finding the Balance: Between Hustle and Rest”, mengajak pendengar untuk memahami bahwa kesibukan bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Kerja keras penting, tetapi mengetahui kapan harus berhenti dan beristirahat juga merupakan bagian dari proses menjalani kehidupan secara sehat dan berkelanjutan. (Novita Widya Putri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....