Saka Milenial Banyumas Ajak Generasi Muda Bijak Bermedia Sosial

  • 29 Sep 2026 10:32 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Perkembangan teknologi digital membuat media sosial semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Kemudahan mengakses informasi dan berkomunikasi melalui berbagai platform digital memberikan banyak manfaat, tetapi juga membawa risiko apabila tidak digunakan secara bijak. Karena itu, kemampuan untuk memahami, menyaring, dan menggunakan informasi digital menjadi hal penting agar masyarakat dapat tetap aman di dunia maya.

Hal tersebut dibahas dalam program Sore Ceria - Pramuka di Pro 2 RRI Purwokerto pada Senin (28/9/2026), dengan mengangkat tema “Saka Milenial Banyumas: Cerdas Bermedia, Aman di Dunia Maya”. Program tersebut menghadirkan Ketua Dewan Saka Milenial, Damar Ghendis H Y, Pamong Saka Milenial Sarlan Sobarudin, serta Duta Humas Kwarcab Banyumas, Rizka Dwi Nuraini.

Saka Milenial menjadi salah satu wadah bagi anggota Pramuka Penegak dan Pandega yang memiliki minat terhadap teknologi informasi dan dunia digital. Dalam kegiatannya, Saka Milenial memiliki lima krida, yaitu literasi digital, big data atau pengamanan data, telemetri dan robotika, inovasi perangkat lunak, serta animasi dan multimedia.

“Jadi secara umum mungkin orang sudah mengenal Gerakan Pramuka secara umumnya ya. Tapi kalau Saka Milenial mungkin masih agak belum begitu banyak mendengar. Memang secara rasional satuan Karya Pramuka Saka Milenial. Nah, ini kepanjangannya adalah mitra inovasi, literasi, informasi dan teknologi digital. Kurang lebih itu. Jadi disingkatnya milenial ini adalah sebuah wadah untuk kegiatan kepramukaan khususnya untuk anggota pramuka penegak dan pandega,” ujar Sarlan.

Keberadaan Saka Milenial ditujukan untuk memberikan ruang kepada anggota Pramuka untuk mengembangkan kemampuan di bidang teknologi dan informasi. Anggota yang memiliki ketertarikan terhadap dunia digital dapat mengeksplorasi kemampuan melalui berbagai kegiatan yang tersedia di dalam Saka Milenial.

Literasi digital juga diperlukan untuk membantu generasi muda mengenali berbagai bentuk penipuan digital yang masih banyak ditemukan. Melalui kegiatan di Saka Milenial, anggota mendapatkan pembelajaran mengenai cara membedakan tautan yang aman dan tautan yang berpotensi menjadi penipuan.

“Untuk melihat fenomena untuk literasi digital sekarang ini tuh sangat sangat miris, Kak. Soalnya kenapa sekarang itu masih banyak penipuan yang bergedok ini apa namanya lewat WhatsApp atau lewat link-link yang enggak jelas gitu. Di Saka Milenial itu kita diajarin cara membedakan antara link yang itu termasuk phishing atau link yang tidak termasuk phising. Cara membedakan dan kita juga diajari tentang berliterasi, Kak. Berarti itu kita membaca dulu. Terus mencari faktanya baru kita berkomentar gitu, Kak,” ungkap Damar.

Kebiasaan mencari fakta sebelum memberikan komentar juga menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya perundungan di media sosial. Hal ini berkaitan dengan masih banyaknya komentar yang dapat menyakiti orang lain meskipun disampaikan dengan alasan sebagai kritik.

Selain mengajarkan cara mengenali informasi yang berisiko, Saka Milenial juga mendorong anggotanya untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi. Damar menyampaikan bahwa konten mengenai penipuan, penyebaran hoaks, dan berbagai persoalan literasi digital dapat dibagikan melalui media sosial agar semakin banyak masyarakat yang memperoleh informasi.

“Untuk cara membangun literasi digital kita biasanya sering-sering itu, Kak, mengupload di media sosial seperti kayak ancaman penipuan, lalu seperti penyebaran hoax dan masih banyak lagi gitu, Kak. Biasanya kita membikin konten juga, Kak, di media sosial kita di IG Sakmil Banyumas atau enggak di IG masing-masing gitu, Kak,” ujar Damar.

Upaya edukasi tersebut tidak hanya dilakukan melalui media sosial. Duta Humas Kwarcab Banyumas, Rizka Dwi Nuraini, mengatakan bahwa Saka Milenial juga berupaya turun langsung ke masyarakat. Edukasi dilakukan melalui berbagai kegiatan, termasuk mendatangi sekolah dan forum perkumpulan anak-anak untuk memberikan pemahaman mengenai literasi digital dan dampaknya.

“Mungkin peran sebagai duta humasnya itu kita lebih turun lebih ke terjun ke masyarakat ya, Kak. Jadi mengedukasi mungkin ada program untuk mengedukasi di sekolah-sekolah. Terus nanti hubungannya dengan masyarakat mungkin nanti kita ada di forum atau perkumpulan anak-anak gitu. Untuk menjelaskan apa sih itu literasi digital, terus dampaknya apa seperti itu. Terus nanti kita juga bisa membuat konten edukasi melalui Instagram seperti Saka Milenial juga, Kak,” jelas Rizka.

Dalam membangun budaya bermedia yang bijak, Sarlan menilai langkah tersebut perlu dimulai dari lingkungan Saka Milenial sendiri. Anggota tidak hanya didorong untuk mengedukasi masyarakat, tetapi juga harus mampu menjadi contoh dalam menggunakan media dan teknologi secara tepat.

“Baik, saya melihat dari sisi yang paling simpel, paling kecil dulu ya. Jadi kita kan membina anggota pramuka di Saka Milenial ini para anggota pramuka dari berbagai wilayah mungkin kecil kalau dari sisi jumlah ya. Tapi kita mulai dulu dari teman-teman kita, kakak-kakak di Saka Milenial ini minimal mereka harus jadi contoh dulu. Nah, karena kita gembar-gembor mengedukasi banyak orang manakala kita sendiri tidak bisa memberi contoh kan berarti ibarat lilin ya. Kita menerangi orang tapi kita kebakar istilahnya begitu,” jelas Sarlan.

Di sisi lain, tantangan dalam penggunaan media sosial juga menjadi perhatian ketika Saka Milenial terjun ke sekolah dan masyarakat. Rizka mengatakan, salah satu persoalan yang banyak ditemui di kalangan remaja adalah cyberbullying. Komentar negatif di media sosial dapat memengaruhi cara seseorang melihat lingkungan digital dan bahkan membuat pengguna hanya terpaku pada sisi negatif media sosial.

“Baik, mungkin untuk anak remaja sekarang itu banyak banget yang namanya cyber bullying ya, Kak. Di media sosial tuh banyak banget komentar-komentar yang negatif. Nah, dari situ kita bisa lihat dari teman-teman yang mungkin itu komennya itu di rumah aja. Jadinya dia tuh hanya melihat dari sisi buruknya saja. Nah, dia terpaku dengan media sosial yang itu-itu saja, Kak. Maksudnya tidak mau berkembang,” ujar Rizka.

Penggunaan media digital oleh anak dan remaja juga membutuhkan perhatian dari orang tua. Pengawasan menjadi penting karena aktivitas digital tidak selalu dapat diketahui secara langsung oleh orang tua, terlebih ketika anak memiliki akses yang luas terhadap berbagai platform dan permainan digital.

Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah anak mencari ruang berbagi cerita di tempat yang tidak aman. Dunia maya memiliki banyak ruang komunikasi yang belum tentu sehat dan dapat berisiko ketika seseorang membagikan informasi pribadi tanpa mempertimbangkan siapa saja yang dapat mengaksesnya.

Penggunaan media sosial secara bijak pada tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dengan sikap dalam menerima dan menyebarkan informasi. Generasi muda perlu memahami bahwa setiap unggahan, komentar, maupun informasi yang dibagikan dapat berdampak kepada orang lain.

Melalui Saka Milenial, edukasi ini dilakukan dengan memadukan pembelajaran teknologi, kegiatan kepramukaan, pembuatan konten edukasi, serta keterlibatan langsung di masyarakat. Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga diharapkan mampu menjadi bagian dari pencipta lingkungan digital yang lebih aman dan bertanggung jawab.

Bagi Saka Milenial Banyumas, kecerdasan bermedia dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni membaca informasi dengan teliti, mencari fakta, menjaga data pribadi, memperhatikan cara berkomentar, serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sikap tersebut menjadi bagian penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat sekaligus membantu generasi muda tetap aman dalam menggunakan media sosial. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....