Gotong Royong Mewujudkan Indonesia Tangguh, Warga Diminta Tak Mudah Terpecah
- 05 Sep 2026 14:16 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Gotong royong menjadi salah satu kekuatan yang sejak lama melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai tersebut tidak hanya tercermin melalui kegiatan kerja bakti maupun saling membantu ketika terjadi persoalan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, semangat gotong royong dinilai perlu terus dijaga agar masyarakat tidak mudah terpecah.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Kita Indonesia Pro 1 RRI Purwokerto pada Kamis (3/9/2026), bersama Edward Deru Saka Samosir selaku Dandim 0701/Banyumas, dengan mengusung tema “Gotong Royong Mewujudkan Indonesia Tangguh”.
“...dari perjuangannya yang menyatukan itu dari Budi Utomo, Sumpah Pemuda dan lain sebagainya. Ini merupakan suatu sejarah yang penting yang kita perlu pahami bahwa gotong royong yang saat ini kita miliki masih ada. Namun memang secara global atau secara nasional ini ada sedikit pengaruh dari luar yang memang saat ini sudah sangat-sangat sulit untuk bisa dibendung,” ujar Edward.
Menurut Edward, semangat gotong royong di tengah masyarakat hingga kini sebenarnya masih kuat. Hal itu dapat dilihat dari berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat di Kabupaten Banyumas itu sendiri.
Program yang diselenggarakan pemerintah dari TNI AD (Angkatan Darat) seperti koperasi merah putih, program jembatan, sumur bor dan lain sebagainya. Dilaksanakan oleh masyarakat dengan sangat luar biasa dan antusias.
Meski demikian, perkembangan zaman dan pengaruh individualisme membuat nilai kebersamaan tersebut menghadapi tantangan baru. Perubahan pola hidup membuat interaksi sosial tidak lagi berlangsung seintensif sebelumnya. Kesibukan, perkembangan teknologi, serta kecenderungan masyarakat untuk lebih berfokus pada urusan pribadi dapat mengurangi ruang pertemuan antarwarga.
Karena itu, menjaga gotong royong tidak cukup hanya dengan mengingatnya sebagai nilai budaya. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari. Pembentukan karakter menjadi bagian penting dalam mempertahankan semangat kebersamaan tersebut. Ia menjelaskan bahwa karakter seseorang terbentuk melalui proses yang panjang, mulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat. Dengan demikian, penanaman nilai gotong royong juga tidak harus dimulai dari kegiatan besar.
Kebiasaan sederhana di rumah justru dapat menjadi dasar bagi seseorang untuk terbiasa membantu dan peduli terhadap orang lain. Salah satu contoh yang diberikan adalah melakukan pekerjaan rumah bersama-sama.
“Dari keluarga inilah yang menjadi indikator bahwa seseorang atau pribadi harus memiliki semangat ataupun jiwa gotong royong sendiri dari hal-hal kecil .... Kemudian nanti akan dibawa ke lingkungan juga,” ungkap Edward.
Dari keluarga, kebiasaan tersebut kemudian dapat dibawa ke lingkungan yang lebih luas. Kegiatan kerja bakti, ronda, menjaga keamanan lingkungan, maupun kegiatan sosial lainnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali berinteraksi dengan tetangga. Kegiatan tersebut bukan hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membangun hubungan sosial antarmasyarakat.
Masyarakat perlu mengubah pola pikir dari sekadar mempertanyakan keuntungan pribadi menjadi melihat manfaat yang lebih luas. Dalam kehidupan sosial, seseorang tidak dapat berdiri sendiri karena kebutuhan manusia saling berkaitan. Petani, nelayan, pedagang, tenaga kesehatan, hingga berbagai profesi lainnya memiliki peran masing-masing dalam kehidupan masyarakat.
Sehingga gotong royong menjadi penting karena mendorong masyarakat melihat kepentingan bersama sebagai sesuatu yang juga perlu diperjuangkan. Semangat tersebut membuat masyarakat tidak hanya bertanya mengenai apa yang diperoleh untuk dirinya sendiri, tetapi juga mengenai manfaat yang dapat diberikan kepada lingkungan.
Dengan semangat gotong royong dan semangat kebersamaan, Indonesia tangguh dapat diwujudkan. Sebab, Indonesia tangguh bukan hanya berkaitan dengan pertahanan militer. Edward menegaskan bahwa kekuatan militer saja tidak cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang tangguh. Infrastruktur, ketahanan pangan, ekonomi, sumber daya manusia, kesehatan, hingga teknologi juga menjadi bagian yang saling berkaitan.
“Indonesia tangguh itu dimulai dari justru malah dari masyarakatnya sendiri,” tegasnya.
Gotong royong menjadi salah satu bentuk nyata dari ketahanan masyarakat. Ketika warga saling membantu, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, serta mampu bekerja sama ketika menghadapi persoalan, masyarakat akan memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai tantangan.
Terlebih, ancaman yang dihadapi masyarakat saat ini tidak selalu berbentuk ancaman fisik. Perkembangan teknologi dan media sosial menghadirkan tantangan berupa disinformasi, fitnah, ujaran kebencian, hingga informasi yang dapat memicu konflik antarkelompok.
Edward menilai masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. Literasi digital menjadi salah satu kemampuan yang penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum diketahui kebenarannya.
“Saring dulu baru sharing,” ujar Edward.
Kemudahan menyebarkan informasi membuat sebuah kabar dapat diterima oleh banyak orang dalam waktu singkat. Apabila informasi tersebut tidak benar, dampaknya juga dapat meluas dengan cepat.
Masyarakat karena itu perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, melihat data, serta tidak langsung mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang beredar di media sosial. Sikap tersebut menjadi bentuk tanggung jawab sosial karena informasi yang disebarkan seseorang dapat memengaruhi orang lain.
Selain itu, masyarakat juga diharapkan tidak mudah terpancing oleh informasi yang sengaja mendiskreditkan kelompok tertentu. Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan masyarakat yang plural. Persoalan muncul ketika perbedaan tersebut dianggap sebagai alasan untuk memusuhi pihak lain.
Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, budaya, serta pandangan masyarakat. Keberagaman tersebut membuat perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Dalam dialog Kita Indonesia, salah satu pendengar mempertanyakan mengenai hubungan antarwarga yang terkadang renggang akibat perbedaan pilihan maupun pandangan.
“Berbeda pendapat itu tidak masalah. Di situlah kita punya musyawarah dan mufakat,” tanggap Edward.
Perbedaan pendapat tidak seharusnya langsung membuat seseorang menganggap pihak lain sebagai lawan. Justru, apabila disikapi secara dewasa, keberagaman pandangan dapat memperkaya proses pengambilan keputusan dalam kehidupan bermasyarakat.
Gotong royong dalam konteks ini tidak berarti seluruh masyarakat harus mempunyai pendapat yang sama. Gotong royong lebih menekankan kemampuan untuk tetap bekerja sama meskipun terdapat perbedaan.
Hubungan sosial yang kuat di lingkungan masyarakat dapat menjadi salah satu cara menghadapi ancaman tersebut. Ketika warga saling mengenal dan memiliki kepercayaan satu sama lain, informasi dari luar tidak akan mudah memengaruhi hubungan yang sudah terbangun.
Kondisi tersebut tercermin dalam kehidupan masyarakat Banyumas yang dikenal memiliki suasana sosial yang guyub dan rukun.
“Solid, kompak, guyub, dan rukun. Saya yakin saya juga mengambil itu dari kondisi situasi sosial Banyumas yang begitu luar biasa. Saya salut, hormat dan bangga kepada warga Banyumas yang sangat-sangat kompak dan rukun,” ungkap Edward.
Upaya menjaga gotong royong juga tidak dapat dilepaskan dari peran generasi muda. Kelompok anak muda merupakan bagian penting dari masyarakat sekaligus calon penerus bangsa. Di tengah perkembangan teknologi, generasi muda memiliki akses informasi yang luas dan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara kreatif.
“Anak-anak muda ini pastinya akan lebih kreatif, lebih bisa memberikan dampak yang positif apabila bisa menyaring atau men-sharing ataupun memanfaatkan usia-usia produktif mereka untuk melakukan hal-hal yang positif,” jelas Edward.
Generasi muda tidak hanya dapat berperan melalui kegiatan sosial konvensional, tetapi juga melalui berbagai bidang yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Keterlibatan mahasiswa juga menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang dilakukan oleh TNI dengan masyarakat. Edward menjelaskan bahwa mahasiswa pernah dilibatkan dalam program TNI Manunggal Membangun Desa, pengawasan pembangunan gedung koperasi, kegiatan bela negara, hingga penanaman pohon.
Keterlibatan mahasiswa tersebut bukan sekadar memberikan pengalaman kepada generasi muda, tetapi juga membuka ruang dialog antara mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa dapat menyampaikan gagasan berdasarkan sudut pandang mereka, sementara kegiatan di lapangan memberikan kesempatan untuk memahami persoalan masyarakat secara langsung. Nilai kebersamaan akan lebih mudah dipahami ketika seseorang ikut terlibat dalam kegiatan yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Dalam menghadapi kemungkinan krisis besar, keberanian, kedisiplinan, kepedulian, dan persatuan menjadi hal yang sama-sama dibutuhkan. Namun, Edward menempatkan persatuan sebagai salah satu unsur yang sangat penting karena berbagai kemampuan tersebut membutuhkan kerja sama banyak pihak.
“Kalau kita melihat sesuatu dari harga, kita akan berpikir apa untungnya buat saya. Tetapi kalau kita melihatnya dari value atau nilai, kita akan berpikir bagaimana manfaatnya buat orang-orang di sekitar saya,” pungkas Edward.
Pesan tersebut menjadi penting dalam menjaga semangat gotong royong di tengah perubahan zaman. Ketika masyarakat mulai memikirkan manfaat bagi lingkungan dan tidak hanya kepentingan pribadi, hubungan sosial akan menjadi lebih kuat.
Sebab, Indonesia yang tangguh bukan hanya Indonesia yang kuat dalam menghadapi ancaman, tetapi juga Indonesia yang masyarakatnya mampu tetap bersatu ketika menghadapi tantangan bersama. (Novita Widya Putri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....