Mengungkap Makna di Balik Estafet Tunas Kelapa Banyumas
- 08 Sep 2026 11:12 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Efek Tunas Kelapa (ETK) menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam menyambut Hari Pramuka ke-65 tingkat Provinsi Jawa Tengah yang tahun ini berlangsung di Kabupaten Banyumas. Lebih dari sekadar perjalanan membawa tunas kelapa dari satu daerah ke daerah lain, kegiatan ini menyimpan sejarah, filosofi, serta nilai kebersamaan yang menjadi bagian dari Gerakan Pramuka.
Hal tersebut dibahas dalam program Sore Ceria Pro 2 RRI Purwokerto yang mengusung tema Estafet Tuna Kelapa Kwarcab Banyumas; Bukan Sekadar Perjalan bersama Kak Rumaisa S.Si selaku panitia Estafet Tunas Kelapa, Kak Kris atau Dr. Andes Krisanto selaku Wakil Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banyumas bidang Pengabdian Masyarakat dan Pramuka Peduli, serta Kak Kuat Prayuga selaku Ketua Dewan Kerja Cabang Banyumas pada Senin, (7/9/2026). Dalam siaran tersebut, mereka mengungkap tentang perjalanan ETK hingga berbagai kegiatan yang menyertainya.
Estafet Tunas Kelapa merupakan bagian yang dilakukan secara berurutan dan berkelanjutan dengan membawa tunas kelapa dari satu wilayah ke wilayah berikutnya. Tunas kelapa sendiri menjasi simbol yang identic dengan Gerakan Pramuka.
Menurut Kak Rumaisha, kegiatan ini telah dilasanakan sejak 1979. Pada awalnya, ETK bertujuan sebagai sarana syiar atau memperkenalkan Gerakan Parmuka kepada masyarakat. Seiring berjalannya wktu, kegiatan tersebut berkembang menjadi salah satu bentuk nyata kedekatan Pramuka dengan masyarakat.
“Bukan Cuma sekadar mengoper tunas kelapa, tapi memang ada tujuan dan maksudnya,” ujar Kak Rumaisha.
Pada 2026, Kabupaten Banyumas menjadi titik akhir perjalanan ETK karena dipercaya menjadi tuan rumah peringatan Hari Pramuka tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Perjalanan tersebut dimulai dari Kwartir Cabang Jepara dan melibatkan sejumlah kabupaten hingga akhirnya mencapai Banyumas. Setiap kabupaten menyiapkan satu rangkaian pasukan yang membawa tunas kelapa, kemudian dilakukan proses timbang terima atau serah terima antardaerah.
Di Banyumas sendiri, tunas kelapa diterima dari dua arah, yakni Cilacap dan Purbalingga. Dari Cilacap, proses timbang terima berlangsung di wilayah Cindaga, Kebasen, kemudian dilanjutkan melalui sejumlah etape hingga menuju Kwartir Cabang Banyumas. Sementara itu, tunas kelapa dari Purbalingga juga diserahkan kepada Banyumas untuk kemudian disemayamkan di Kwarcab Banyumas.
Perjalanan ETK tidak dilakukan sengan kendaraan, melainkan dengan berjalan kaki. Dari jalur Cilacap, misalnya, pasukan menempuh beberapa etape mulai dari Cindaga, Tumiyang, Patikraja, Purwokerto Selatan, hingga Purwokerto Timur sebelum mencapai titik akhir di Kwarcab Banyumas.Menurut Kak Yuga, setiap perpindahan etape juga menjadi momentum timbang terima antarkecamatan. Rangkaian pasukan tersebut memiliki formasi tertentu yang tidak dibuat tanpa alasan. Jumlah anggota dalam setiap formasi mengandung simbol dan nilai kepramukaan.
Formasi 17 orang melambangkan tanggal 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. sementara itu, Sembilan orang melambangkan 9 Maret 1961 yang dikenal sebagai Hari Tunas, ketika berbagai organisasi kepanduan bersatu menjadi Gerakan Pramuka.
Selanjutnya, tiga orang melambangkan Trisatya, 14 melambangkan Hari Pramuka yang diperingati setiap tanggal 14 Agustus, delapan melambangkan bulan Agustus, dan 10 melambangkan Desa Darma sebagai kode moral dalam Gerakan Pramuka. Dengan demikian, formasi dalam ETK tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari barisan, tetapi juga menjadi cara untuk membawa sejarah dan nilai-nilai kepramukaan dalam setiap perjalanan.
Rangkaian TK juga berjalan beriringan dengan Kemah Bakti yang dipusatkan di Lapangan Desa Silado, Kecamatan Sumbang. Mengusung tema Mengabsi dengan Hati, Berkarya dengan Aksi untuk Bumi Pertiwi, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anggota Pramuka untuk mengamalkan Trisatya dan Dasa Darma secara langsung di tengah masyarakat.
Berbagai kegiatan dilakukan, mulai dari pelatihan semi-hidroponik menggunakan gallon bekas, penanaman dan pembagian bibit pucuk merah serta tunas kelapa, pembersihan musala, lingkungan, dan makam, hingga pengecatan tugu dan jembatan. Peserta juga mengikuti simulasi pemadaman kebakaran, belajar pengelolaan sampah di
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Karangcegak, pelatihan wirausaha sablon, pemeriksaan kesehatan, serta donor darah.
Kemah Bakti tersebut melibatkan sekitar 305 peserta yang terbagi dalam kurang lebih 40 regu. Kegiatan berlangsung selama tigas hari dua malam, mulai dari hari Jumat hingga Minggu. Bagi penyelenggara, kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan prestasi, tetapi juga membangun persaudaraan dan keakraban antarpeserta.
“Kemah itu tidak merasa dibebani oleh kejuaraan. Biar jadi nanti dia senang, tenang, berkesan. Yang paling penting adalah persaudaraan,” ungkap Kak Kris.
Puncak rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 10 September 2026 melalui peringatan Hari Pramuka ke-65 tingkat Provinsi Jawa Tengah di Gelanggang Olahraga Satria Purwokerto.
Sebanyak 35 kabupaten/kota dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut. Sebagai tuan rumah, Kwarcab Banyumas tidak hanya mempersiapkan upacara, tetapi juga menampilkan atraksi yang melibatkan berbagai golongan Pramuka, mulai dari Siaga, Penggalang, Penegak, Pandega, hingga Pembina. Pertunjukkan tersebut memandukan gerak tari, olah vokal, dan music untuk menunjukkan bahwa Pramuka tidak hanya identik dengan tali-menali, tongkat, dan baris-berbaris.
Persiapan juga dilakukan oleh Pasukan Tunas Muda yang menjadi petugas utama dalam upacara. Sebanyak 39 anggota terlibat, dengan empat orang bertugas sebagai pengucap dan 35 lainnya sebagai pembawa acara, pemimpin upacara, serta pasukan inti pengibaran bendera. Mereka telah menjalani proses seleksi dan pelatihan sejak awal Agustus 2026.
Pada akhirnya, Estafet Tunas Kelapa bukan hanya tentang siapa yang membawa tunas kelapa hingga garis akhir. Di dalamnya terdapat perjalanan sejarah, simbol kemerdekaan, nilai kepramukaan, pengabdian kepada masyarakat, serta semangat persaudaraan. Perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain menjadi gambaran bahwa semangat Pramuka terus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Melalui ETK dan rangkaian Hari Pramuka di Bayumas, masyarakat juga diajak melihat bahwa Gerakan Pramuka terus berkembang mengikuti zaman tanpa meninggalkan nilai yang menjadi dasarnya. Seperti pesan yang disampaikan dalam siaran tersebut, mengikuti Pramuka bukan sekadar hadir dalam kegiatan, tetapi mengambil nilai dan pengalaman yang dapat diterapkan salam kehidupan sehari-hari. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....