Menjaga Tubuh dan Kesehatan Jadi Tanggung Jawab Amanah terhadap Diri Sendiri

  • 28 Sep 2026 16:37 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Menjaga tubuh dan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan upaya mempertahankan kondisi fisik agar tetap bugar. Dalam kehidupan seorang muslim, tubuh juga merupakan amanah yang diberikan Allah dan harus digunakan serta dirawat dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, menjaga kesehatan menjadi bagian dari tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Dr. Shofiyulloh, M.H.I. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Minggu (27/9/2026). Dalam pembahasan bertema “Amanah dalam Kehidupan: Antara Tanggung Jawab dan Pertanggungjawaban 4”, ia menjelaskan bahwa amanah tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah maupun kepada orang lain, tetapi juga menyangkut tanggung jawab terhadap diri sendiri.

“Jadi di dalam karyanya Syekh Fakruddin Arrazi menyebutkan bahwa wa ammal qismutalit wahua amanatul insan maa nafsihi. Yaitu amanahnya seseorang terhadap dirinya sendiri. Bahwa kita ini ternyata hidup memiliki banyak tanggung jawab dan juga yang nantinya dipertanggungjawabkan tubuh kita ini,” ujar Ustaz Shofiyulloh.

Termasuk bagi seseorang yang sedang menempuh pendidikan, menjaga diri juga berkaitan dengan kesungguhan dalam mempersiapkan masa depan. Menuntut ilmu, mengembangkan kemampuan, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri.

“Orang yang sedang belajar itu harus memiliki komitmen tanggung jawab untuk dirinya ya. Agar membawa dirinya ke depan menjadi orang yang sukses, orang yang betul-betul menjaga diri dari hal-hal yang buruk. Nah, itu harus harus ada niatan seperti itu,” ungkap Ustaz Shofiyulloh.

Komitmen tersebut tidak cukup hanya diwujudkan melalui keinginan. Manusia perlu menjalani proses dan melakukan usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Hal itu sejalan dengan prinsip bahwa hasil yang baik membutuhkan kesungguhan dalam menjalani proses.

“Man jadda wajada kan gitu ya. orang bersungguh-sungguh ya akan sukses, akan menemukan hasil dari apa yang dia harapkan,” jelas Ustaz Shofiyulloh.

Menurutnya, seseorang perlu terus berusaha meningkatkan kemampuan karena ilmu dan keterampilan menjadi bekal untuk menjalankan kehidupan sekaligus memberikan manfaat. Keberhasilan tidak dapat diperoleh hanya dengan berharap, tetapi membutuhkan kerja keras dan kesungguhan.

Dengan kemampuan yang terus dikembangkan, seseorang juga memiliki kesempatan lebih besar untuk memberikan kontribusi bagi keluarga maupun masyarakat. Tanggung jawab tersebut bahkan memiliki kaitan dengan generasi setelah seseorang meninggal dunia. Ustaz Shofiyulloh mengingatkan bahwa terdapat amal yang tetap memberikan manfaat setelah seseorang meninggal, salah satunya ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh.

“Bahwa anak saleh ini akan bisa membantu orang tua misalkan gitu ya gambarannya. Anak yang saleh itu akan memberi syafaat kepada orang tuanya,” ujar Ustaz Shofiyulloh.

Dalam konteks menjaga diri, usaha tersebut juga mencakup bagaimana seseorang merawat kemampuan fisik maupun mentalnya. Tubuh yang dijaga dengan baik akan membantu seseorang menjalankan aktivitas, belajar, bekerja, beribadah, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menjaga kesehatan. Kondisi tubuh yang baik tidak terlepas dari kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Pola hidup, aktivitas, istirahat, hingga perhatian terhadap kondisi tubuh menjadi bagian dari usaha seseorang dalam menjaga amanah tersebut.

Ustaz Shofiyulloh mengingatkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan dan mengalami lupa. Kondisi tersebut merupakan bagian dari sifat manusia sehingga perlu diantisipasi dengan berbagai upaya agar tidak membuat seseorang mengabaikan tanggung jawabnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah terus menjaga kemampuan berpikir dan pengetahuan melalui kegiatan belajar. Membaca kembali, mengulang pelajaran, serta terus menambah wawasan menjadi cara untuk menjaga agar pengetahuan yang telah diperoleh tidak mudah hilang.

Hal tersebut juga berkaitan dengan kesehatan secara keseluruhan. Menjaga kondisi tubuh dan kemampuan berpikir akan membantu seseorang tetap menjalankan aktivitasnya dengan baik dan tidak kehilangan kesempatan untuk melakukan berbagai hal yang bermanfaat.

“Karena tubuh kita ini ya memang diamanahi oleh Allah, gitu ya. Kita menempati tubuh kita ini kalau bahasa istilahnya itu jiwa kita, roh kita itu menempati fisik tubuh kita kan gitu. Nah, begitu yang apa meninggal dunia dan begitu seterusnya maka roh kita akan terlepas dari itu. Tapi apa yang sudah diperbuat oleh tubuh kita ini, fisik kita ini, itu akan dipertanggungjawabkan. Nah, tidak hanya itu, tidak hanya persoalan persoalan kaitannya dengan itu, tapi juga kaitannya dengan kesehatan,” jelas Ustaz Shofiyulloh.

Dengan demikian, menjaga kesehatan tidak berhenti pada upaya agar tubuh terhindar dari gangguan kesehatan. Lebih dari itu, kesehatan menjadi modal agar seseorang dapat menjalankan kehidupan dengan baik dan menggunakan potensi yang dimilikinya untuk memberikan manfaat.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk tanggung jawab tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Memberikan tubuh waktu untuk beristirahat, memperhatikan pola makan, menjaga aktivitas fisik, serta tidak mengabaikan kondisi kesehatan merupakan bagian dari usaha merawat amanah.

Selain itu, seseorang juga perlu memperhatikan kesehatan mental dan kemampuan berpikir. Menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat menjadi penting agar tubuh tidak dipaksa terus-menerus bekerja tanpa memberikan kesempatan untuk memulihkan diri.

Menjaga tubuh juga berarti menjaga kesempatan untuk terus belajar, bekerja, beribadah, serta membantu orang lain. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan sebaiknya tidak hanya muncul ketika tubuh mulai mengalami gangguan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Melalui tema “Amanah dalam Kehidupan: Antara Tanggung Jawab dan Pertanggungjawaban 4”, Ustaz Shofiyulloh mengingatkan bahwa amanah memiliki konsekuensi yang tidak berhenti pada kehidupan dunia. Setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk bagaimana manusia memperlakukan dirinya sendiri. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....