Mengenal ISPA dan Gejala yang Perlu Diperhatikan

  • 17 Sep 2026 15:05 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu gangguan kesehatan yang cukup umum terjadi dan dapat menyerang berbagai kelompok usia. Kondisi ini berkaitan dengan infeksi pada saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Perubahan cuaca, kualitas udara yang buruk, serta paparan asap dan debu menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi saluran pernapasan.

Pembahasan mengenai ISPA tersebut disampaikan oleh dr. Choirul Mufied, yang merupakan seorang dokter di Klinik Tanjung. Dalam program Dialog Kesehatan Pro 1 RRI Purwokerto pada Selasa, (15/9/2026), dengan mengusung tema Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA, ia menjelaskan pengertian mengenai ISPA, gejala yang dapat muncul, faktor yang memengaruhi, hingga langkah yang dapat dilakukan ketika seseirang mengalami keluhan pada saluran pernapasan.

dr. Mufied menjelaskan bahwa istilah “akut” merujuk pada kondisi yang muncul secara mendadak. Infeksi tersebut dapat terjadi pada saluran pernapasan bagian atas hingga bagian bawah, mulai dari hidung sampai paru-paru.

“ISPA atau istilahnya infeksi saluran pernapasan akut. Ini memang umum-umum terjadi,” ujar dr. Mufied.

Ia juga menjelaskan baahwa ISPA mudah menular, terutama dalam kondisi tertentu seperti perubahan musim dan kualitas udara yang kurang baik. Menurutnya, ISPA dapat menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang lanjut usia. Risiko kondisi yang lebih berat dapat meningkat pada kelompok tertentu, seperti anak-anak, orang dengan penyakit penyerta, maupun mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah.

“Jadi penyakit ini bisa menyerang siapa saja mas ya. Jadi bukan hanya untuk orang tua atau orang-orang yang bekerja di tempat-tempat, ya memang itu ada pengaruh juga ya. Tapi yang bahwa ini bisa mulai dari anak dari bayi sampai orang tua,” jelasnya.

Secara umum, penyebab ISPA dapat berasal dari virus maupun bakteri. Perbedaan penyebeb tersebut juga berpengaruh terhadap penanganannya. dr. Mufied menjelaskan bahwa ISPA yang disebabkan oleh virus tidak selalu membutuhkan antibiotic dan dapat membaik dengan istirahat serta penanganan terhadap gejalanya.

Gejala ISPA dapat beragam, mulai dari keluhan ringan hingga kondisi yang lebih berat. Beberapa gejala yang disebutkaan dalam dialog antara lain batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, hingga sesak napas.

“ISPA itu, tadi saya katakan ya. Jadi gejalanya sebetulnya banyak. Seperti ada merasa batuk, pilek, demam ya. Tenggorokan terkadang sakit ya. Bahkan kadang-kadang kalau yang sampai berat itu sampai sesak napas karena banyak sekali lender yang diproduksi ya,” terang dr. Mufied.

Ia menambahkan, kondisi ISPA dapat berbeda pada setiap orang. Pada sebagian orang, gejala dapat berlangsung ringan. Namun, pada kelompok yang lebih rentan, atau orang dengan daya tahan tubuh rendah, gejala dapat berkembang menjadi lebih berat. Karena itu, keluhan pada saluran pernapasan perlu diperhatikan, terutama ketika gejala semakin berat atau tidak menunjukkan perubahan setelah beberapa waktu.

Selain faktor infeksi, kondisi lingkungan juga menjadi perhatian dalam pembahasan ISPA. Paparan asap dan debu dapat memberikan rangsangan pada saluran pernapasan. Hal ini dapat terjadi, misalnya, ketika seseorang berada di lingkungan dengan banyak asap pembakaran atau debu vulkanik.

Ketika pararel asing masuk dan terhitup, tubuh dapat memberikan respons berupa batuk atau bersin sebagai mekanisme untuk mengeluarkan benda asing tersebut. dr. Mufied menjelaskan bahwa paparan tertentu juga perlu diwaspadai apabila terjadi dalam waktu lama.

“Jadi ada sesuatu barang yang masuk ke dalam paru-paru, terhirup. Itu merupaan suatu benda asing. Jadi otomatis benda asing yang masuk ke dalam itu akan menimbulkan refleks. Refleksnya orang itu batuk,” jelasnya.

Paparan asap dari pembakaran sampah juga dapat menganggu saluran pernapasan. Menurut dr. Mufied, asap dapat merangsang tubuh sehingga muncul batuk, bersin, maupun mata berair, khususnya pada orang yang rentan. Apabila seseorang mengalami keluhan pernapasan yang berat setelah terpapar asap atau debu, ia menyarankan agar segera mendapatkan bantuan.

Dalam dialog tersebut, dr. Mufied juga menjelaskan bahwa keluhan seperti hidung mampet dan pilek yang muncul setiap pagi belum tentu merupakan ISPA. Jika keluhan terjadi berulang, misalnya muncul ketika udara dingin kemudian membaik saat siang hari, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan alergi.

Ia menyebut udara dingin, debu, serta bulu binatang sebagai beberapa hal yang dapat memicu alergi. Dengan demikian, penting untuk memperhatikan pola munculnya gejala agar kondisi yang dialami dapat dibedakan dengan lebih tepat.

Menurut dr. Mufied, ISPA pada dasarnya tidak selalu berbahaya apabila ditangani dengan cepat. Untuk keluhan yang masih ringan ia menekankan pentingnya beristirahat, mencukupi kebutuhan cairan, mengonsumsi vitamin dan sayuran, serta tidaka memaksakan tubuh melakukan aktivitas berlebihan.

“Jadi penyakit ini sebetulnya tidak berbahaya asal ditangani secara cepat,” katanya.

Namun, apabila keluhan tidak membaik selama beberapa hari atau justru semakin berat, pemeriksaan oleh tenaga keseharan diperlukan. Terlebih apabila muncul sesak napas atau kondisi yang mengarah pada keadaan darurat.

Menjaga kesehatan saluran pernapasan pada akhirnya tidak hanya dilakukan ketika gejala sudah muncul. Memperlihatkan kondisi tubuh, menghindari paparan asap atau debu secara berlebihan, serta segera mencari pertolongan ketika keluhan semakin berat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan pernapasan. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....