Keterlibatan Ayah Jadi Kunci Dukung Kesehatan Ibu dan Anak

  • 22 Sep 2026 12:57 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Keterlibatan ayah dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga berperan dalam mendukung kesehatan ibu dan anak. Kehadiran ayah secara fisik maupun emosional menjadi bagian penting dalam pengasuhan serta membangun keluarga yang sehat. Hal tersebut dibahas dalam Program Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto pada Senin (21/9/2026).

Dengan mengusung tema “Keterlibatan Ayah dalam Kesehatan Ibu dan Anak” dan mengundang narasumber dari Dosen Kesehatan Reproduksi Fakultas Ilmu-ilmu UNSOED, Nur Intan Kartika Sari, S.Tr.Keb., M.P.H., menjelaskan pentingnya keterlibatan ayah sejak sebelum memiliki anak hingga mendampingi tumbuh kembangnya.

“Jadi tentang keterlibatan ayah dalam kesehatan ibu dan anak ini sangat menarik kita bahas karena seperti yang kita ketahui ini beberapa waktu ini sangat fenomenal adanya survei ternyata Indonesia ini mengalami kondisi fatherless di mana ayah itu tidak hadir dalam pengasuhan anak dan itu terkait kasusnya itu sekitar satu dari empat anak atau sekitar 25 persen di Indonesia,” ujar Intan.

Kehadiran ayah dalam pengasuhan perlu dilihat sebagai tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Selama ini, pengasuhan anak masih sering dianggap sebagai tugas utama ibu, sementara ayah lebih banyak ditempatkan sebagai pencari nafkah.

Padahal, menurut Intan, pengarusutamaan gender mendorong adanya pembagian peran yang lebih seimbang dalam keluarga. Ayah dan ibu merupakan pasangan yang memiliki tanggung jawab bersama dalam pengasuhan dan kesehatan anak.

“Karena di dalam pengarusutamaan gender ini, keterlibatan ayah dalam kesehatan ibu dan anak itu menempatkan istri ataupun perempuan, ibu dalam hal ini dan juga ayah itu menjadi partner, mitra dalam bertanggung jawab bersama untuk pengasuhan anak demi menciptakan keluarga yang sehat,” jelasnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan ayah tidak berarti menghilangkan peran ibu, melainkan membangun kerja sama dalam keluarga. Dengan adanya pembagian tanggung jawab, pengasuhan anak tidak sepenuhnya dibebankan kepada ibu, sementara ayah hanya berfokus pada pekerjaan dan kebutuhan finansial.

“Jadi fatherless ini pakai bahasa asing ya, bahasa Inggris. Kalau diindonesiakan itu kondisi di mana seorang anak itu tidak memperoleh kehadiran ayah tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional,” ujar Intan.

Kehadiran emosional tersebut dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ayah dapat meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak, mengetahui perasaannya, bermain bersama, maupun mendengarkan cerita anak. Dengan demikian, perhatian kepada anak tidak hanya diukur dari seberapa besar dukungan finansial yang diberikan.

Keterbatasan waktu dan jarak juga tidak selalu menjadi penghalang bagi ayah untuk tetap terlibat. Bagi ayah yang harus bekerja di luar kota atau bahkan di luar negeri, teknologi dapat digunakan untuk menjaga komunikasi dengan anak dan tetap mengikuti perkembangan mereka.

“Jadi kita bisa memanfaatkan digitalisasi misalkan video call atau mungkin voice note. Jadi anak itu tetap bisa merasakan kehadiran ayah meskipun dengan jarak yang jauh sehingga anak ini tidak merasakan kecemasan ataupun anak ini bisa berkomunikasi dengan baik,” tegas Intan.

Ayah yang berada jauh dari keluarga tetap perlu mengetahui perkembangan anak, termasuk kondisi pertumbuhan dan pola makan, khususnya pada masa 1.000 hari pertama kehidupan. Perhatian tersebut juga dapat memberikan dukungan kepada ibu agar tidak merasa menjalankan pengasuhan seorang diri.

“Ada survei yang menarik nih, Mas Rizki. Ternyata anak yang ayahnya itu terlibat secara aktif dalam pengasuhan, dia akan memiliki pola komunikasi yang lebih baik seperti komunikasinya jelas, kemudian juga dia itu bisa memahami instruksi dan dia lebih percaya diri,” lanjut Intan.

Bagi pasangan yang sama-sama bekerja, Intan menilai orang tua tidak harus selalu berada di sisi anak selama 24 jam. Hal yang lebih penting adalah kualitas kehadiran ketika orang tua memiliki waktu bersama anak.

“Nah, kira-kira apa yang bisa kita lakukan adalah sebenarnya anak itu tidak menuntut kita hadir secara 24 jam penuh, tetapi bagaimana saat kita hadir itu berkualitas. Jadi misalkan kita bekerja dari Senin sampai Jumat, berarti kan anak didampingi oleh pengasuh, entah ART ataupun neneknya ataupun di daycare. Nah, nanti kita sebagai orang tua di malam hari ternyata juga masih bertugas sebagai menjalankan tugas sebagai orang tua. Kita bisa membacakan buku. Kemudian tadi sesederhana kita itu makan bersama di meja makan. Lalu kita menanyakan bagaimana kabar hari ini, apa yang dirasakan, apa yang sudah dilakukan hari ini,” jelas Intan.

Ia menambahkan, waktu bersama anak dapat dimanfaatkan melalui kegiatan sederhana pada akhir pekan, seperti berjalan pagi, pergi ke ruang terbuka, atau memberikan permainan yang bersifat edukatif. Orang tua juga perlu memperhatikan perasaan anak dan memberikan ruang bagi mereka untuk bercerita.

Peran tersebut idealnya sudah dimulai sejak sebelum kehamilan. Calon ayah dan calon ibu perlu mempersiapkan diri, termasuk melalui kelas parenting maupun pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Karena kesehatan ibu dan anak tidak hanya ditentukan ketika kehamilan sudah berlangsung. Calon ayah juga perlu mulai membangun pola hidup sehat dan memberikan dukungan kepada calon ibu sejak masa prakonsepsi.

“Jadi, kalau misalkan ada calon pengantin mau menikah, nah itu namanya prakonsepsi ya, belum terjadi pembuahan. Kemudian sampai akhirnya adalah di usia anak itu dua tahun. Nah, itu jadi dari prakonsepsi hingga dua tahun. Nah, di sinilah anak ini seharusnya diberikan dukungan, baik secara fisik maupun emosional. Jadi kalau misalkan di masa prakonsepsi atau di masa kehamilan itu ayah juga memberikan sounding ke anak. Bayi di dalam kandungan ibu itu sebenarnya sudah bisa diajak komunikasi,” jelas Intan.

Setelah anak lahir, bentuk keterlibatan ayah dapat semakin beragam, mulai dari membantu memandikan dan mengganti pakaian, menyuapi saat anak mulai mendapatkan makanan pendamping ASI, hingga memberikan stimulasi melalui permainan dan kegiatan edukatif.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak pada masa awal kehidupannya. Ayah tidak hanya menjadi pencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian dari proses pengasuhan, komunikasi, dan pemberian stimulasi kepada anak.

Di sisi lain, Intan menyebut masih terdapat hambatan dalam mendorong keterlibatan ayah. Salah satunya adalah pandangan yang menempatkan ayah sebagai pihak yang dominan dalam pengambilan keputusan dan ibu sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap urusan domestik serta pengasuhan.

Lingkungan keluarga juga dapat memengaruhi pola pengasuhan. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak tidak hanya perlu diberikan kepada pasangan, tetapi juga dapat melibatkan orang tua maupun mertua agar informasi yang diterima keluarga sejalan dengan perkembangan pengetahuan kesehatan.

“Jadi pesan untuk calon ayah dan ayah-ayah di luar sana adalah anak itu tidak hanya membutuhkan kehadiran ayah secara fisik, tetapi juga secara emosional. Sehingga ayah-ayah di luar sana diharapkan bisa hadir untuk mendengarkan suara dari anak, mendengarkan pendapat anak, mendengarkan bagaimana perasaan anak, kemudian juga ikut bermain dan berkomunikasi dengan anak, ikut membacakan buku cerita mungkin, kemudian juga ikut mengasuh ataupun membersamai anak di dalam kehidupan sehari-harinya,” ujar Intan.

Melalui pembagian peran yang lebih seimbang, ayah dan ibu dapat menjadi mitra dalam menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung kesehatan fisik maupun emosional ibu dan anak. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....