4 Pilar Gernas Rana: Upaya Penguatan Peran Ibu dalam Tumbuh Kembang Anak

  • 08 Sep 2026 11:28 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Peran ibu dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan pengasuhan, tetapi juga mencakup pendidikan, pendampingan, serta perlindungan anak. Kehadiran ibu menjadi penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak, terutama di tengah berbagai tantangan yang muncul baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, maupun ruang digital.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto yang mengangkat tema Menguatkan Peran Ibu dalam Mengawali 4 Pilar Gernas RANA pada Senin (7/9/2026). Pada program ini, RRI turut mengundang Tintin Kustini, S.Si., S.Pd., dari Persaudaraan Muslimah (Salimah) Banyumas sekaligus Kepala Sekolah TK Islam Terpadu Harapan Bunda yang terletak di kawasan Gelanggan Olahraga Satria. Dalam dialog tersebut, Tintin menjelaskan mengenai pentingmya keterlibatan ibu dalam mengawal tumbuh kembang dan perlindungan anak melalui empat pilar Gerna RANA.

Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) menempatkan perlindungan anak sebagai tanggung jawab bersama. Menurut Tintin, anak bukan sekadar amanah, tetapi juga hadir dengan harapan dan potensi yang perlu dijaga sejak masa kehamilan hingga mereka tumbuh dewasa.

Peran tersebut membuat ibu memiliki posisi penting dalam kehidupan anak. Ibu tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga menjadi pendidik pertama, pendamping, sekaligus, sosok yang membantu anak memahami lingkungan di sekitarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kedekatan ibu dengan anak juga membuat ibu kerap menjadi orang pertama yang mengetahui ketika terjadi perubahan pada diri anak. Anak yang biasanya ceria dapat tiba-tiba menjadi murung, lebih pendiam, atau enggan bercerita. Perubahan-perubahan tersebut menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua.

“Ibu itu bukan hanya sekadar pengasuh, bukan hanya sekadar pendengan pertama, tetapi memang pendamping yang betul-betul mendampingi anak dikala dia bahagia, dikala tidak bahagia, betul-betul menjadi garda paling depan,” ujar Tintin.

Meski demikian, penguatan peran ibu tidak berarti seluruh tanggung jawab atas perlindungan dan pengasuhan anak dibebankan kepada perempuan. Ayah, keluarga besar, sekolah serta masyarakat tetap memiliki pertan yang tidak dapat dipisahkan. Perlindungan anak membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak agar tidak muncul ruang kosong dalam proses tumbuh kembang anak.

Dalam dialog tersebut, empat pilar Gernas Rana dijelaskan melalui lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan anak, yaitu keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan ruang digital.

Rumah menjadi ruang pertama yang membentuk rasa aman dan nyaman bagi anak. Dalam lingkungan keluarga, ibu memiliki kedekatan yang memungkinkan terbangunnya komunikasi secara lebih intens dengan anak.

Menurut Tintin, komunikasi antara orang tua dan anak sebaiknya tidak hanya berkutat pada kebutuhan sehari-hari, seperti menanyakan apakah anak sudah makan atau mengerjakan pekerjaan rumah. Orang tua juga perlu menanyakan kondisi emosional anak.

“Perasaan apa yang kamu rasakan hari ini? Nyaman atau tidak?”menjadi salah satu bentuk pertanyaan sederhana yang dapat membuka ruang komunikasi antara orang tua dan anak.

Komunikasi semacam ini menjadi penting karena anak perlu memiliki tempat yang dipercaya untuk menyampaikan perasaan maupun pengalaman yang dialaminya. Dengan hubungan yang terbuka, prang tua dapat lebih cepat mengetahui apabila anak menghadapi suatu persoalan, termasuk ketika mengalami ketidaknyamanan atau tekanan.

Kedekatan tersebut juga dapat dibangun melalui quality time. Kesibukan orang tuan bukan alasan untuk menghilangkan waktu bersama anak. Menurut Tintin, waktu yang diberikan tidak harus selalu panjang, tetapi kualitas interaksi menjadi hal yang penting. Ia menilai keluarga perlu menyediakan waktu untuk berkumpul, berbicara, dan saling mendengarkan. Hal tersebut menjadi semakin penting karena anak mulai tumbuh dewasa dan memiliki lingkungan pertemanan sendiri.

Sekolah menjadi lingkungan kedua yang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Karena itu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga perlu menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Tintin menjelaskan bahwa sekolah dapat menjadi “orang tua kedua” bagi anak, terutama bagi mereka yang baru memasuki lingkungan sekolah. Rasa aman dapat dibangun melalui kehadiran guru dan lingkungan yang dapat dipercaya. Orang tua juga dapat mendukung proses tersebut juga dapat mendukung proses tersebut dengan meyakinkan anak bahwa sekolah merupakan tempat yang aman.

Masyarakat menjadi pilar ketiga dalam perlindungan anak. Anak berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas setelah berada di rumah dan sekolah. Menurut Tintin, orang tua perlu memperhatikan lingkungan pergaulan anak karena masyarakat dapar mempengaruhi cara anak berkomunikasi, bersikap, dan berinteraksi. Karena itu, perlindungan anak membutuhkan lingkungan masyarakat yang peduli dan mampu memeberikan rasa aman.

Ruang digital menjadi tantangan tersendiri seiring semakin dekatnya anak dengan gawai dan media sosial. Orang tua perlu memiliki literasi digital dan mengetahui konten yang dikonsumsi oleh anak, aktivitasnya di ruang digital, serta kemungkinan adanya perundungan atau konten yang tidak sesuai usia.

“Jangan sampai setelah terjadi sesuatu kita baru bingung sebagai orang tua karena tidak pernah nge-chat, tidak pernah ngecek anaknya seperti apa dengan ruang-ruang digital,” jelas Tintin.

Meski demikian, pengawasan tidak berarti pembatasan secara berlebihan. Terutama pada anak remaja, komunikasi perlu dibangun agar mereka tetap merasa dipercaya. Orang tua perlu berada di tengah-tengan, yaitu tidak terlau mengekang, tetapi juga tidak membiarkan anak tanpa pengawasan.

Komunikasi perlu dibangun sebelum anak menghadapi persoalan. Orang tua dapat membiasakan anak bercerita mengenai pengalaman sehari-hari, termasuk hal yang membuat mereka senang maupun tidak nyaman.

“Sering-seringlah ajak anak berkomunikasi dari hati ke hati,” kata Tintin.

Menjadi teman bukan berarti menghilangkan batasan. Orang tua tetap perlu memberikan aturan dan disiplin tanpa harus menggunakan kemarahan. Dengan komunikasi yang terbuka, anak diharapkan memiliki keberanian untuk menyampaikan ketika merasa tidak nyaman atau membutuhkan bantuan.

Perlindungan anak juga mencakup edukasi mengenai batas tubuh. Anak perlu mengetahui bahwa mereka berhak menyampaikan ketidaknyamanan terhadap sentuhan atau perlakuan tertentu. Selain itu, ibu juga berperan sebagai teladan karena anak belajar melalui perilaku yang mereka lihat setiap hari.

“Anak itu butuh orang tua yang hadir. Anak itu butuh orang tua yang mau mendengarkan apa yang dia keluhkan atau dia rasakan,” ujar Tintin.

Penguatan peran ibu bukan berarti seluruh tanggung jawab pengasuhan dibebankan kepada ibu. Ayah tetap memiliki peran penting dalam memberikan dukungan, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab. Perlindungan anak membutuhkan kolaborasi antara ayah, ibu, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam pengasuhan, orang tua juga perlu mampu mengelola emosi.

“Ketika lelah, ketika kita emosinya belum turun, regulasi diri dulu,” tutur Tintin.

Jika melakukan kesalahan, orang tua juga tidak perlu gengsi untuk meminta maaf kepada anak. Menurutnya, tidak ada orang tua yang sempurna sehingga evaluasi diri menjadi bagian dari proses pengasuhan.

Empat pilar Gernas RANA, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, dan ruang digital, saling berkaitan dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Ibu menjadi salah satu garda terdepan dalam keluarga, tetapi perannya perlu diperkuat melalui keterlibatan ayah, guru, keluarga besar, dan masyarakat.

“Mari kita sama-sama untuk selalu mengevaluasi diri. Sudah pantaskah kita menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak kita?” pesan Tintin.

Upaya menciptakan ruang aman bagi anak perlu dimulai dari lingkungan terdekat dan dilakukan secara berkelanjutan. Ketika keluarga, sekolah, masyarakat, dan ruang digital mampu menjalankan perannya secara bersama, empat pilar Gernas RANA dapat menjadi bagian dari upaya untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....