Istiqomah dalam Kebaikan, Menjaga Hati Tetap Tenang

  • 21 Sep 2026 17:11 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Istiqomah tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan untuk terus bertahan dalam menjalankan ketaatan, tetapi juga sebagai bentuk konsistensi dalam menjalani peran dan kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. Dengan istiqomah, seseorang diharapkan mampu menjaga keyakinan, menghadapi berbagai keadaan dengan tenang, serta tetap berusaha berada di jalan kebaikan.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto pada hari Senin, 21 September 2026, dengan mengusung tema Madep, Mantep, Jejeg Men Uripe Ora Mededeg Bagian 4. Pada sesi kali ini, Ustaz Mintaraga Eman Surya, Lc.,M.A yang menjelaskan mengenai sejumlah keutamaan istiqomah dalam kehidupan seorang muslim.

Menurutnya, istiqomah pada dasarnya merupakan sikap konsisten dalam menjalakan peran dan ketaatan kepada Allah. Ia menggambarkannya dengan seseorang yang mampu menjalani setiap tanggung jawab dengan baik, baik sebagai anggota keluarga maupun dalam pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat.

Salah satu keutamaan istiqomah yang dibahas adalah kedudukannya sebagai perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Ustaz Mintaraga merujuk pada Surah Hud ayat 112 yang memerintahkan untuk tetap istiqomah sebagaimana yang diperintahkan.

" Perintah tersebut jelas menunjukkan bahwa istiqomah merupakan hal penting dalam kehidupan beragama., jika Nabi Muhammad SAW saja diperintahkan untuk istiqomah, maka umatnya juga perlu berusaha menjaga konsistensi dalam menjalankan ketaatan, Nabi saja diperintahkan, apalagi kita umatnya,” Tegasnya.

Istiqomah kemudian tidak hanya dipandang sebagai sikap, tetapi juga bagian dari ibadah karena berkaitan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Keutamaan berikutnya berkaitan dengan ketenangan hati. Dalam pembahasannya, Ustaz Mintaraga menjelaskan bahwa orang yang istiqomah akan mendapatkan kabar gembira dari malaikat sebagaimana disebutkan dalam Surah Fussilat ayat 30.

Pesan tersebut berkaitan dengan tidak perlu takut terhadap apa yang akan terhadi dan tidak bersedih atas apa yang telah berlalu. Bagi Ustaz Mintaraga, keyakinan tersebut dapat menjadi dasar bagi seseorang untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan optimis.

“Kalau orang Istiqomah, itu insyaAllah hatinya selalu tenang, tapi ketenangan itu bukan berarti seseorang terbebas dari persoalan, berbagai perubahan dan ketidakpastian tetap dapat terjadi dalam kehidupan. Namun, istiqomah membantu seseorang untuk tetap menjalani keadaan dengan keyakinan kepada Allah dan tidak larut dalam ketakutan maupun kesedihan, " Tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan yang telah dilakukan tidak seharusnya membuat seseorang berputus asa. Kesalahan dapat dijadikan Pelajaran, kemudian diikuti dengan upaya memperbaiki diri dan bertobat.

Selain ketenangan, Ustaz Mintaraga menjelaskan keutamaan istiqomah lainnya, yaitu adanya kelapangan rezeki. Ia merujuk pada Surah Al-Jinn ayat 16 yang dalam pembahasannya dikaitkan dengan orang yang tetap berada di jalan Islam.

" Rejeki tidak selalu hadir dalam bentuk barang atau pemberian secara langsung. Rezeki dapat melalui berbagai perantara dan kemampuan yang diberikan Allah kepada seseorang, sebagai contoh seseorang yang memiliki kemampuan dalam membeli kebutuhan sendiri, dalam kondisi tersebut, kemampuan untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan juga dapat dipahami sebagai bentuk rezeki, “Rezeki mengalir itu tidak selamanya berarti berupa langsung barangnya.” Tambahnya.

Dengan pemahaman tersebut, seseorang tidak perlu membatasi makna rezeki hanya pada apa yang diterima secara langsung. Kemudahan memperoleh penghasilan, bantuan orang lain, maupun kesempatan untuk memenuhi kebutuhan juga dapat menjadi bagain dari rezeki.

Pembahasan tentang istiqomah juga berlanjut pada pertanyaan mengenai bagaimana membantu orang lain agar dapat berubah menjadi lebih baik. Ustaz Mintaraga menekankan bahwa seseorang tidak memiliki kewajiban untuk memaksakan perubahan terhadap orang lain.

Menurutnya, manusia memiliki peran untuk menyampaikan, mengajak, dan mendoakan. Sementara perubahan dalam diri seseorang membutuhkan kemauan dari orang tersebut dan kehendak Allah.

“Karena kewajiban kit aitu hanya menyampaikan, mengajak,” kata Ustaz Mintaraga.

Karena itu, pendekatan dalam mengajak seseorang kepada kebaikan perlu dilakukan secara bertahap. Ia menyarankan untuk mendekati orang tersebut dengan baik, mengajaknya melakukan kegiatan positif bersama, memberikan nasihat, dan tetap mendoakannya.

Perubahan karakter juga tidak dapat terjadi dalam waktu singkat. Setiap orang tumbuh dalam lingkungan dan pengalaman yang berbeda sehingga proses perubahan membutuhkan waktu dan kesungguhan dari individu yang bersangkutan.

" Jadi istiqomah bukan sekadar tentang melakukan sesuatu sekali lalu berhenti, melainkan menjaga konsistensi dalam kebaikan. Dengan tetap berada di jalan yang diyakini, seseorang diharapkan mampu menghadapi kehidupan dengan lebih tenang, optimis, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, " Ujarnya.

Istiqomah juga mengajarkan bahwa memperbaiki diri merupakan proses yang membutuhkan waktu. Karena itu, selain berusaha menjaga diri sendiri tetap berada dalam kebaikan, seseorang dapat mengajak orang lain dengan cara yang bijaksana tanpa memaksakan perubahan. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....