Tak Berharta Bukan Berarti Tak Mulia, Ini Pandangan Islam
- 09 Agt 2026 07:46 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Kemuliaan seseorang dalam Islam tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki. Orang yang berada dalam keterbatasan ekonomi tetap memiliki kesempatan meraih kemuliaan melalui kesabaran, usaha, rasa syukur, dan penerimaan terhadap ketetapan Allah SWT.
Dosen FEB UMP, Irham M. Azama, Lc., M.A, menjelaskan setiap manusia memiliki kondisi rezeki yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT sekaligus menjadi ujian bagi setiap orang.
Ia merujuk pada Surat An-Nahl ayat 71 yang menjelaskan bahwa Allah melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain dalam hal rezeki. Oleh karena itu, kondisi kaya maupun tidak berharta tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan kemuliaan seseorang.
Menurutnya, orang yang memiliki keterbatasan harta diuji dengan kesabaran. Sementara orang yang memiliki kelapangan rezeki justru memiliki tanggung jawab lebih besar untuk memanfaatkan hartanya, termasuk melalui sedekah dan berbagai amal kebaikan.
“Orang yang tidak punya juga bisa mendapatkan kemuliaan dengan cara yang lain,” jelasnya dalam Dialog Tasbih Pro 2, Jumat (7/8/26).
Irham menegaskan, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk merasa rendah diri. Seseorang tetap dapat memperoleh kemuliaan ketika mampu menerima keadaan, terus berusaha, tidak berprasangka buruk kepada Allah, serta tetap berbuat baik sesuai kemampuannya.
Ia juga mengingatkan bahwa berusaha menjadi lebih sejahtera tetap dianjurkan. Namun, hasil akhir dari usaha tidak selalu sama bagi setiap orang, sehingga manusia perlu bertawakal dan mensyukuri apa yang telah diperolehnya.
Menurut Irham, kekayaan yang sesungguhnya juga berkaitan dengan kondisi hati. Seseorang yang memiliki sedikit harta tetapi mampu merasa cukup, bersyukur, dan tidak banyak mengeluhkan keadaan dapat memiliki kemuliaan yang tidak kalah dibandingkan orang yang memiliki kekayaan melimpah.
Bahkan, ia mengutip pandangan Imam Syafi'i mengenai orang yang mampu menutupi kefakirannya sehingga orang lain melihatnya sebagai pribadi yang berkecukupan. Sikap tersebut menunjukkan kemampuan seseorang menjaga kehormatan diri tanpa terus-menerus mengeluhkan keterbatasan yang dimilikinya.
Dengan demikian, Islam memandang orang kaya maupun orang yang tidak berharta sebagai sama-sama hamba Allah. Perbedaannya terletak pada cara masing-masing memperoleh kemuliaan sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....