Bukan Dengki, Iri Melihat Kebaikan Bisa Jadi Motivasi Beramal
- 09 Agt 2026 07:48 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Fenomena masyarakat yang ingin memiliki kemampuan finansial agar dapat membantu orang lain dinilai dapat menjadi bentuk iri yang positif. Keinginan tersebut berbeda dengan rasa dengki karena muncul dari dorongan untuk meniru kebaikan, bukan berharap kenikmatan orang lain hilang.
Irham M. Azama, Lc., M.A, selaku Dosen FEB UMP dalam Dialog Tasbih, Jumat (7/8/26), mengatakan fenomena tersebut sebenarnya telah ditemukan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Ia mengungkapkan, para sahabat yang tidak memiliki banyak harta pernah mengeluhkan kondisi mereka karena tidak dapat bersedekah sebanyak orang-orang kaya.
Dalam riwayat yang dibawakan Imam Muslim, kaum Muhajirin yang memiliki keterbatasan harta mengeluhkan kepada Nabi karena tidak dapat melakukan sedekah sebagaimana orang-orang kaya. Namun, Nabi kemudian menjelaskan bahwa sedekah tidak hanya dapat dilakukan melalui harta.
| Baca juga: Kesepian bukan Sekedar tentang Kesendirian |
Menurut Irham, ucapan dan tindakan yang baik juga dapat bernilai sedekah. Berdzikir, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, hingga melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bentuk amal yang dapat dilakukan meskipun seseorang tidak memiliki banyak uang.
“Sedekah itu bukan hanya dengan uang, tapi juga bisa dengan ucapan dan tindakan,” ujarnya.
Ia menilai, keinginan seseorang untuk dapat melakukan kebaikan seperti orang lain merupakan bentuk iri yang baik. Dalam konteks tersebut, seseorang tidak berharap orang lain kehilangan hartanya, tetapi justru berharap dirinya juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan kebaikan yang sama.
Fenomena serupa dapat ditemukan di media sosial. Ketika seseorang membagikan aksi sedekah, pembangunan fasilitas umum, atau pelayanan gratis kepada masyarakat, tidak sedikit warganet yang menyampaikan keinginan untuk melakukan hal serupa apabila memiliki kemampuan finansial.
Islam juga memberikan ruang bagi orang yang tidak memiliki harta untuk mendapatkan kemuliaan melalui amalan lainnya. Nabi Muhammad SAW, menurut Irham, pernah memberikan alternatif berupa zikir setelah salat, seperti membaca tasbih, tahmid, dan takbir.
Namun, ia mengingatkan agar keinginan untuk menyamai orang lain dalam kebaikan tidak berubah menjadi iri yang negatif. Seseorang perlu tetap menerima ketetapan Allah, bersyukur dengan apa yang dimiliki, serta melakukan kebaikan sesuai kemampuan.
Ia juga menambahkan, kemuliaan tidak ditentukan semata-mata oleh kemampuan finansial. Orang kaya memiliki kesempatan melakukan amal dengan hartanya, sementara orang yang tidak memiliki banyak harta dapat memperoleh kemuliaan melalui kesabaran, usaha, hati yang bersih, dan berbagai kebaikan yang mampu dilakukannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....