Kakang Mbekayu Purbalingga Dorong Generasi Muda Kenali Wisata dan Budaya Lokal
- 21 Sep 2026 11:46 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Potensi wisata dan budaya di Kabupaten Purbalingga terus didorong agar semakin dikenal, khususnya oleh generasi muda. Tidak hanya memiliki sejumlah destinasi wisata alam, Purbalingga juga menyimpan kekayaan sejarah, kuliner, kesenian, bahasa, hingga kerajinan batik yang menjadi bagian dari identitas daerah. Hal tersebut disampaikan dalam program SPADA Pro 2 RRI Purwokerto, Minggu (20/9/2026).
Dengan mengusung tema “Potensi Wisata dan Budaya Purbalingga”. Program tersebut menghadirkan tiga perwakilan duta wisata Purbalingga, yakni Pengurus Kayulingga 2026–2030 Titan Aurellya Ramadhani, Kakang Purbalingga 2026 Ghaly Putra Hengkara, dan Mbekayu Purbalingga 2026 Yasmin Naafi Rasifa Anwar. Ketiganya membagikan pengalaman sekaligus pandangan mengenai berbagai potensi yang dimiliki Purbalingga serta cara mengenalkannya kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Kalau dari aku ya, Purbalingga itu kan sebenarnya memiliki landscape yang enggak jauh berbeda dengan Banyumas. Kita mungkin yang lebih terkenal ya ada di D’Las Serang. Jadi kalau di daerah pegunungan itu kan hawanya sejuk, dan itu aku sangat merekomendasikan kepada teman-teman karena selain hawanya sejuk juga tempat wisatanya itu banyak banget,” ujar Titan.
Sejumlah destinasi lainnya seperti Goa Lawa Purbalingga, Bukit Jelir, Bukit Kelir, dan Gunung Beser juga dapat menjadi alternatif bagi wisatawan, termasuk mereka yang menyukai aktivitas di alam.
“Kalau dari saya, saya punya rekomendasi yang paling menonjol, yaitu water park terbesar di Jawa Tengah, Owabong, Objek Wisata Air Bojongsari. Karena saya banyak sekali memiliki memori baik di Owabong,” ujar Ghaly.
Selain wisata alam dan wisata buatan, Purbalingga juga memiliki potensi sejarah yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Yasmin Naafi Rasifa Anwar mengatakan Purbalingga memiliki keterkaitan dengan sejumlah tokoh dan peninggalan sejarah, salah satunya Jenderal Besar Sudirman yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.
“Kalau dari saya, Purbalingga termasuk dalam tempat lahirnya Jenderal Sudirman dan di Purbalingga itu ada Museum Jenderal Sudirman. Terus juga di situ ada makam dari Adipati Onje dan banyak lagi sejarah-sejarah lainnya,” ujar Yasmin.
Tidak hanya sejarah, kekayaan budaya Purbalingga juga terlihat dari kesenian dan tradisi yang masih berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya adalah kesenian ebeg. Kesenian tradisional tersebut dinilai masih memiliki kedekatan dengan masyarakat, termasuk generasi muda.
“Jadi di setiap desa itu pasti ada ebeg-nya. Tidak mungkin di desa Purbalingga enggak ada ebegnya, setiap tahun pasti ada banyak,” ungkap Ghaly.
Adapun keberadaan Festival Gunung Slamet sebagai salah satu kegiatan yang dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kebudayaan Purbalingga kepada masyarakat.
Festival tersebut memadukan unsur tradisi, kesenian, dan pertunjukan yang dikemas dalam sebuah kegiatan yang dapat menarik perhatian masyarakat.
Kegiatan semacam festival dinilai penting karena budaya tidak hanya diperkenalkan dalam bentuk informasi, tetapi juga dapat disaksikan dan dialami secara langsung oleh masyarakat. Hal tersebut sekaligus membuka peluang agar tradisi lokal lebih dekat dengan generasi muda.
Upaya mengenalkan budaya Purbalingga juga diarahkan pada berbagai kekayaan budaya yang belum banyak diketahui masyarakat. Salah satunya adalah batik khas Purbalingga. Titan menjelaskan bahwa Purbalingga memiliki beragam motif batik yang memiliki karakter dan cerita tersendiri.
“Sebenarnya Purbalingga itu memiliki banyak sekali motif batik yang jarang diketahui. Kita selama ini mungkin mengenalnya batik Banyumasan, tapi Purbalingga memiliki batik tersendiri. Kemarin ada baru launching dari pemerintah daerah, Batik Naga Tapa ..... terus juga kita ada Batik Sudirman karena mengingat bahwa Purbalingga adalah tempat kelahiran Jenderal Besar Sudirman,” ungkap Titan.
Pengenalan terhadap budaya lokal menjadi salah satu bagian dari peran duta wisata. Sebagai perwakilan generasi muda, Kakang dan Mbekayu Purbalingga tidak hanya dituntut mengenal destinasi wisata, tetapi juga memahami berbagai unsur budaya yang ada di daerahnya.
Dalam menjalankan perannya, pemanfaatan media sosial menjadi salah satu strategi yang dianggap penting. Titan menilai media sosial dapat menjadi sarana untuk menjangkau anak muda yang sehari-hari dekat dengan teknologi digital.
“Karena kita itu target utamanya adalah anak muda, kita harus memanfaatkan teknologi dan juga media sosial. Selain itu, kita juga harus aktif berkolaborasi. Contohnya seperti saat ini, berkolaborasi sama RRI Purwokerto agar pemasaran kita lebih luas dan jangkauan kita juga lebih banyak,” ujarnya.
Peran tersebut membuat promosi tidak hanya dilakukan secara satu arah. Duta wisata juga dapat menjadi pihak yang membantu memperkenalkan informasi mengenai destinasi, budaya, serta kegiatan lokal kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi.
“Kalau dari saya kebetulan Kayulingga itu ada program kerja di mana sosialisasi di tiap-tiap sekolah. Dengan cara itu kami bisa secara langsung mengenalkan ataupun mempromosikan wisata yang ada di Purbalingga, terutama kepada para pelajar,” tambah Yasmin.
Penggunaan media sosial dinilai perlu memperhatikan cara pengemasan konten. Konten mengenai wisata dan budaya tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi perlu dibuat menarik agar mampu mempertahankan perhatian pengguna. Karena tren di media sosial bergerak dengan cepat. Duta wisata perlu mengikuti perkembangan tersebut tanpa menghilangkan substansi budaya yang ingin disampaikan.
Salah satu tantangan dalam mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda adalah munculnya anggapan bahwa budaya tradisional merupakan sesuatu yang kuno. Padahal, budaya memiliki hubungan erat dengan identitas suatu daerah dan bangsa. Generasi muda tetap dapat mengikuti perkembangan budaya luar dengan tetap menjaga budayanya sendiri. Karena itu, diperlukan cara baru untuk membuat budaya lokal tetap relevan dan menarik bagi generasi muda.
Di samping persoalan ketertarikan, minimnya informasi juga menjadi tantangan. Dengan melihat masih banyak masyarakat, termasuk anak muda, yang belum mengetahui berbagai destinasi wisata dan budaya yang ada di Purbalingga.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa promosi masih perlu diperluas. Masyarakat selama ini cenderung mengenal beberapa destinasi yang sudah populer, sementara masih banyak potensi lain yang belum mendapatkan perhatian serupa.
Menariknya, keterlibatan sebagai duta wisata juga membuat ketiga narasumber menemukan berbagai hal baru mengenai daerahnya sendiri. Titan mengaku baru mengetahui keberadaan Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis setelah terlibat langsung sebagai duta wisata.
Keberadaan Pokdarwis memperlihatkan bahwa pengelolaan wisata tidak hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat lokal juga mempunyai peran dalam merintis, merawat, mempromosikan, serta menggerakkan perekonomian melalui desa wisata.
“Saran saya untuk teman-teman Pro 2 yang mungkin nanti akan berkunjung ke Purbalingga adalah pelajari budaya yang ada di Purbalingga. Enggak hanya sekadar berkunjung ke tempat wisata hanya untuk mungkin berenang atau mungkin ke curug-curug, tapi juga belajar budaya yang ada di Purbalingga,” ujar Titan.
Bagi Ghaly, kunjungan ke Purbalingga juga diharapkan dapat memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan mengenai sejarah daerah. Sementara itu, Yasmin menyampaikan pesan yang menjadi penutup perbincangan mereka mengenai pentingnya mengenal dan membanggakan potensi daerah sendiri.
“Kenali daerahnya, banggakan budayanya, dan majukan pariwisatanya. Satu langkah mengenal sejuta cita-cita untuk Purbalingga. Mayuh Dolan Purbalingga, Purbalingga Memikat,” tutup Yasmin.
Melalui peran sebagai duta wisata, Kakang dan Mbekayu Purbalingga berupaya menjadi penghubung antara masyarakat dengan potensi wisata dan budaya daerah. Pemanfaatan media sosial, kolaborasi, sosialisasi, serta keterlibatan generasi muda menjadi bagian dari upaya agar kekayaan lokal Purbalingga semakin dikenal.
Tidak hanya memperkenalkan destinasi yang sudah populer, promosi juga diarahkan pada berbagai potensi yang belum banyak diketahui, mulai dari desa wisata, batik khas Purbalingga, kesenian ebeg dan kentongan, hingga berbagai peninggalan sejarah.
Dengan semakin luasnya informasi mengenai potensi tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton perkembangan pariwisata daerah, tetapi turut mengenal, menjaga, dan memperkenalkan kekayaan budaya yang menjadi identitas Purbalingga. (Novita Widya Putri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....