Tanamkan Nasionalisme lewat Budaya Positif Sekolah

  • 12 Sep 2026 11:04 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Menanamkan nilai kebangsaan pada anak tidak selalu harus dilakukan melalui pembelajaran yang bersifat formal. Nilai-nilai tersebut dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, mulai dari membangun karakter, menggunakan bahasa yang santun, mengenalkan kearifan lokal, hingga membiasakan anak untuk peduli terhadap lingkungan dan sesama. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Kita Indonesia Pro 1 RRI Purwokerto pada Kamis 10 September 2026.

Dengan mengusung tema “Menanamkan Nilai Kebangsaan Sejak Dini Melalui Budaya Positif Sekolah”. Program tersebut menghadirkan Djahid, S.Pd.SD dari Korwilcam Dindik Purwokerto Utara sebagai narasumber.

Tantangan pendidikan karakter anak saat ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi. Media sosial memang memberikan manfaat dalam mendukung proses belajar, tetapi tanpa pendampingan, anak dapat menerima berbagai konten yang belum sesuai dengan usia maupun tahap perkembangannya.

“Era digital saat ini yang diharapkan tentunya ada dampak positif. Namun, ketika anak-anak kurang dibimbing, anak-anak itu sebelum dibimbing harus dibombong dulu. Hatinya harus dibombong dulu. Ternyata kondisi saat ini anak-anak lebih banyak mendapatkan bimbingan daripada handphone. Sementara handphone itu kalau kita tidak memperhatikan anak-anak secara dekat maupun jauh, kita akan kecurian atau kecolongan, sehingga anak-anak kita lebih terkena dampak negatif daripada teknologi digital, ataupun menjadi toxic kadang-kadang,” ungkap Djahid.

Ketika pengawasan dan komunikasi antara anak dengan orang tua maupun guru lemah, teknologi dapat menjadi sumber pengaruh yang lebih dominan dalam membentuk perilaku anak. Munculnya perundungan pada anak salah satunya juga dapat dipengaruhi lewat paparan tontonan yang belum sesuai dengan usia anak. Selain itu, kondisi keluarga pun dapat menjadi latar belakang yang perlu diperhatikan oleh guru ketika menghadapi perubahan perilaku seorang siswa.

Karena itu, menurutnya, sekolah tidak dapat bekerja sendiri. Guru perlu memahami kondisi anak secara lebih menyeluruh, sementara orang tua juga perlu terbuka untuk membangun komunikasi dengan pihak sekolah. Namun, proses tersebut tetap harus dilakukan dengan menghargai privasi dan kondisi keluarga masing-masing. Pendidikan tidak seharusnya memaksakan semua anak untuk berkembang dengan cara yang sama karena setiap anak memiliki bakat, minat, kemampuan, dan karakteristik yang berbeda.

“Orang tua dan guru itu diibaratkan petani-petani dan anak-anak adalah biji-biji. Bermacam-macam biji. Ketika di kelas ada 20 siswa, berarti ada 20 biji, ada biji jeruk, ada biji semangka dan sebagainya. Jangan mengharapkan jeruk akan berbuah semangka. Semua anak sejatinya punya inti positif sejak lahir ataupun sebagai kodratnya. Tergantung bagaimana kita menuntunnya,” ujar Djahid.

Pendidikan karakter seharusnya berjalan beriringan dengan pengembangan potensi anak. Anak yang memiliki kemampuan tertentu perlu mendapatkan pendampingan agar bakatnya dapat berkembang, sementara anak yang memiliki minat berbeda tidak seharusnya dipaksa mengikuti kemampuan anak lainnya.

Akan tetapi, Anak yang berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya tetap perlu dibimbing agar memiliki nilai spiritual, mental, dan intelektual yang baik. Dari spiritual yang berkembang, anak diharapkan memiliki mental yang baik, seperti disiplin, jujur, dan memiliki semangat. Setelah itu, proses pengembangan intelektual dapat berjalan lebih mudah karena anak sudah memiliki dasar karakter yang kuat. Dalam konteks penanaman nasionalisme, Djahid menegaskan bahwa nilai kebangsaan tidak harus diajarkan melalui cara yang kaku. Nasionalisme justru dapat tumbuh dari karakter positif yang dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyampaikan, guru perlu menggunakan berbagai strategi agar pembelajaran karakter tidak terasa seperti proses menguji anak. Salah satunya dengan menggunakan kalimat positif dan pernyataan pemantik yang dapat membuat anak berpikir tanpa merasa sedang diperintah atau dihakimi.

“Dalam mentransfer karakter perlu metode ataupun strategi. Pertama itu dimulai dari mindset atau pola pikir gurunya dulu, karena guru adalah agen transformasi pendidikan dan transformasi karakter,” ujar Djahid.

Pola komunikasi guru dapat memengaruhi bagaimana pesan diterima oleh anak. Kalimat yang bernada negatif berpotensi lebih mudah direkam oleh anak, sehingga guru maupun orang tua perlu membiasakan penggunaan bahasa yang positif. Karena itu, pembelajaran nasionalisme dapat dikemas melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan anak. Guru tidak harus selalu menggunakan metode ceramah, tetapi dapat memanfaatkan aktivitas, pengalaman, permainan, maupun kebiasaan sehari-hari sebagai media untuk membangun karakter.

Hal tersebut menjadi bagian dari budaya positif. Anak diharapkan tidak hanya melakukan sesuatu karena diperintah, tetapi mampu memahami dan memilih tindakan yang baik berdasarkan kesadaran yang telah terbentuk melalui kebiasaan. Selain melalui komunikasi positif, penanaman nilai kebangsaan juga dapat dilakukan dengan menghidupkan kembali kearifan lokal di lingkungan sekolah. Djahid menilai budaya daerah merupakan bagian dari identitas bangsa yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah penggunaan bahasa Jawa, khususnya bahasa krama, dalam interaksi di lingkungan sekolah. Pembiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelestarian bahasa daerah, tetapi juga dapat melatih anak untuk berbicara dengan lebih santun serta menghormati orang lain.

Kearifan lokal lainnya dapat diterapkan melalui pengenalan budaya yang berkaitan dengan gotong royong. Di Banyumas, terdapat istilah “kesambatan” yang menggambarkan kebiasaan masyarakat saling membantu dalam suatu pekerjaan.

Djahid menilai konsep tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan sekolah, sehingga kegiatan seperti kerja bakti atau Jumat Bersih tidak hanya dilakukan sebagai rutinitas, tetapi dipahami sebagai bentuk gotong royong yang memiliki akar budaya. Dengan cara tersebut, anak tidak sekadar mengetahui bahwa gotong royong merupakan nilai yang harus dilakukan, tetapi juga memahami bahwa sikap tersebut merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat.

Pembiasaan kearifan lokal juga dapat dilakukan melalui kegiatan menulis halus menggunakan aksara Jawa. Kegiatan tersebut memiliki nilai pendidikan karena dapat melatih kesabaran sekaligus mengajak anak melakukan olah pikir dan olah rasa.

Akan tetapi, budaya positif tidak akan terbentuk hanya melalui kegiatan yang dilakukan sesekali. Pembiasaan perlu dilakukan secara terus-menerus dan terjadwal agar nilai yang diberikan benar-benar menjadi bagian dari perilaku anak. Misalnya, apabila sekolah menerapkan satu hari tertentu sebagai hari berbahasa krama, kebiasaan tersebut perlu dilakukan secara konsisten. Dengan pembiasaan yang berulang, anak diharapkan dapat melakukan perilaku tersebut tanpa harus selalu diperintah.

“Budaya positif itu harus ditumbuhkan. Supaya berkembang dan masuk, harus continue, terus-menerus dan terjadwal. Tantangannya ketika di sekolah dan di rumah itu berbeda. Oleh karena itu harus ada kerja sama yang continue dan berkesinambungan antara sekolah dan orang tua. Saya sering mengatakan guru sebagai orang tua di sekolah, orang tua sebagai guru di rumah,” ungkap Djahid.

Sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budaya positif. Perkembangan anak juga perlu dikomunikasikan secara berkala kepada orang tua, bukan hanya melalui nilai akademik pada saat pembagian rapor.

Melalui kolaborasi yang konsisten tersebut, pendidikan karakter diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Nilai-nilai yang diperkenalkan guru dapat terus diterapkan di rumah, sementara orang tua dapat ikut memahami perkembangan dan kebutuhan anak.

Dengan demikian, menanamkan nasionalisme sejak dini bukan sekadar mengenalkan simbol atau konsep kebangsaan kepada anak. Lebih jauh, nasionalisme dapat dibangun melalui karakter positif, penghargaan terhadap keberagaman, kecintaan terhadap budaya lokal, kepedulian sosial, serta kebiasaan hidup bersama yang dilakukan secara konsisten. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....