Potret Masyarakat Arab sebelum Kenabian Muhammad SAW
- 21 Sep 2026 11:48 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Masyarakat Arab sebelum kenabian Muhammad SAW memiliki kondisi sosial yang berbeda dengan sejumlah wilayah lain yang menjadi pusat kebudayaan pada abad ke-6 Masehi. Jika India, Persia, Romawi dikenal memiliki kebudayaan serta kekuasaan yang menonjol, wilayah Arab pada masa itu tidak menjadi pusat kekuatan politik maupun kebudayaan. Masyarakatnya sebagian bersifat nomaden dan tidak jarang mengalami perselisihan.
Gambaran tersebut dibahas dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto pada Minggu, 20 September 2026. Dalam siaran tersebut, Ustaz Hendro Kuncoro, S. Pt., melanjutkan pembahasan mengenai kondisi masyarakat dunia sebelum kenabian Muhammad SAW dengan memfokuskan pembahasan pada masyarakat Arab.
Melalui pembahasan tersebut, pendengar diajak untuk memahami kondisi sosial dan moral masyarakat Arab sebelum Islam, sekaligus melihat nilai-nilai positif yang masih bertahan di tengah berbagai persoalan kehidupan masa itu.
Menurut Ustaz Hendro, masyarakat Arab pada masa tersebut hidup dalam kelompok-kelompok suku yang sebagian bersifat nomaden dan tidak jarang mengalami perselisihan. “Masyarakat kan terpecah dalam bentuk suku-suku yang nomaden,” ujarnya.
Untuk menggambarkan kondisi masyarakat Arab sebelum kedatangan Rasulullah SAW, Ustaz Hendro merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an. Salah satunya adalah Surah Al-Maidah ayat 90 yang membahas tentang khamar, perjudian, penyembahan berhala, dan praktik pengundian nasib. Khamar disebut telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat pada masa tersebut. Sementara perjudian dipandang sebagai aktivitas yang tidak menghasilkan peningkatan nilai karena harta yang dipertaruhkan hanya berpindah dari satu orang kepada orang lain.
Menurut Ustaz Hendro, persoalan tersebut berkaitan dengan anggapan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan. Kondisi ini dinilai membuat manusia mengabaikan penggunaan akal dan pertimbangan yang seharusnya digunakan dalam mengambil keputusan.
Selain itu, masyarakat Arab juga mengenal praktik penyembahan berhala. Ustaz Hendro menjelaskan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan anggapan bahwa benda-benda tertentu memilili kekuatan. Kondisi ini dinilai membuat manusia mengabaikan penggunaan akal dan pertimbangan yang seharusnya digunakan dalam mengambil keputusan.
Hal serupa terlihat dalam praktik azlam, yaitu mengundi keputusan dengan menggunakan anak panah yang telah diberi tanda tertentu. Ustaz Hendro menjelaskan, masyarakat Arab saat itu mendatangi penjaga Ka’bah ketika hendak melakukan suatu kegitan, seperti menikah atau berpergian. Mereka akan melakukan pengundian dengan anak panah untuk memutuskan apakah kegiatan yang mereka rencanakan tersebut dapat dilakukan atau tidak.
“Jadi apa ya, akal sehat jadi tidak terpakai,” jelas Ustaz Hendro.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah perlakuan terhadap perempuan. Ustaz Hendro merujuk pada Surah Al-An’am ayat 139 yang menggambarkan adanya anggapan bahwa bagian tertentu dari hewan ternak yang diperuntukkan bagi laki-laki.
Selain itu, Surah An-Nahl ayat 58-59 yang menggambarkan sikap sebagian masyarakat yang merasa malu dan marah ketika mendapatkan anak perempuan. Dalam penjelasan Ustaz Hendro, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perempuan pada masa itu mengalami perlakuan yang merendahkan harkat dan martabat.
Ia menjelaskan bahwa anak perempuan pada masa tersebut kerap dipandang sebagai beban karena kehidupan masyarakat Arab berlangsung dalam kondisi yang sulit.
Perempuan juga dianggap tidak memiliki kemampuan yang sama dalam aktivitas tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan berat maupun peperangan.
Dengan demikian, kehidupan masyarakat Arab sebelum Islam tidak hanya menghadapi persoalan kepercayaan dan kebiasaan sosial, tetapi juga persoalan ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat.
Meski demikian, Ustaz Hendro menjelaskan bahwa masyarakat Arab pada masa tersebut tidak sepenuhnya kehilangan nilai-nilai positif. Keterisolasian masyarakat Arab dari pengaruh India, Persia, dan Romawi membuat sejumlah karakter baik masih bertahan. Nilai keberanian, kesetaraan, kejujuran, dan komitmen disebut masih melekat dalam kehidupan masyarakat Arab. Mereka juga dikenal tidak menyukai sifat pengecut dan kemunafikan.
“Mereka benci dengan orang-orang penakut dan munafik,” kata Ustaz Hendro.
Ia memberikan gambaran mengenai keberanian masyarakat Arab melalui kisah seorang rakyat biasa yang berani menolak permintaan seorang penguasa. Menurutnya, masyarakat Arab masih memiliki rasa bebas dan tidak sepenuhnya tunduk kepada kekuasaan.
Dalam hal kepercayaan, masyarakat Arab sebelum Islam juga tidak sepenuhnya asing dengan konsep ketuhanan. Menurut Ustaz Hendro, mereka pada dasarnya masih mengenal Allah, tetapi keyakinan tersebut telah bercampur dengan kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala.
“Orang Arab pra Islam itu sebetulnya ya sudah percaya sama Allah,” ujarnya.
Kondisi tersebut kemudian digambarkan melalui sebuah perumpamaan. Ustaz Hendro menyebut masyarakat Arab seperti sesuatu yang memiliki nilai, tetapi tertutup oleh berbagai persoalan.
“Orang Arab itu seperti mutiara yang tertutup dengan kotoran,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadiran Rasulullah SAW kemudian menjadi bagian dari proses membersihkan berbagai persoalan tersebut sehingga nilai-nilai positif yang telah dimiliki masyarakat Arab dapat berkembang dalam ajaran Islam.
Ustaz Hendro juga membandingkan masyarakat Arab dengan masyarakat India, Persia, dan Romawi yang dibahas dalam episode sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa kerusakan di sejumlah wilayah tersebut dapat dipahami sebagai persoalan yang telah melekat dalam struktur sosial, sedangkan persoalan masyarakat Arab lebih banyak berada pada tingkat individu.
“Kerusakan yang ada pada orang-orang Arab itu lebih kepada kerusakan personal,” jelasnya.
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Salah satu contoh yang disampaikan adalah Baiat Aqabah II, kaetika masyarakat
Madinah menyatakan kesediaan untuk melindungi Rasulullah SAW sebagaimana mereka melindungki keluarga sendiri.
Kesediaan tersebut menunjukkan keberanian dan komitmen yang telah menjadi bagian dari karakter sebagain masyarakat Arab. Menurut Ustaz Hendro, nilai-nilai tersebut kemudian dapat diarahkan dan berkembang setelah hadirnya ajaran Islam.
Pada akhirnya, Ustaz Hendro mengajak para pendengar untuk bersyukur, karena saat ini kita hidup di masa setelah hadirnya Rasulullah SAW dan juga nilai-nilai Islam. Karena menurutnya, nilai-nilai Islam banyak mengubah kehidupan di dunia menjadi lebih baik.
“Oleh karena itu para pendengar rahimakumullah, Islam memang kemudian banyak mengubah ya kehidupan ini sehingga kita bersyukur kepada Allah SWT bahwa dengan kehadiran Rasulullah SAW kita mengalami kehidupan yang jauh lebih baik,” tutupnya. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....