Maknai Kemerdekaan dengan Sikap Moderat terhadap Kehidupan Dunia
- 18 Agt 2026 14:33 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Kemerdekaan sejati tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan di dunia, tetapi juga sebagai upaya meraih keselamatan di akhirat. Karena itu, manusia perlu menempatkan kehidupan dunia secara seimbang dan tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir.
Hal tersebut disampaikan H. Muhammad Rifqi Ridho, Lc., M.H., Dosen UNU Purwokerto, dalam program Moderasi Beragama Pro 1 RRI Purwokerto bertema “Merdeka dari Jerat Dunia: Sikap Moderat Menyikapi Pernak-Pernik Dunia” pada Selasa, (18/08/2026). Menurutnya, sikap moderat dalam menjalani kehidupan berarti mampu menempatkan kepentingan dunia dan akhirat secara proporsional.
“Moderat berarti seimbang. Akhirat harus dikejar, tetapi dunia tidak boleh dilupakan karena kehidupan dunia dapat menjadi jalan menuju kehidupan akhirat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, manusia tetap memiliki hak untuk menikmati berbagai hal yang ada di dunia. Namun, kebebasan tersebut harus berada dalam batas kewajaran dan tidak berlebihan. Sebagian rezeki yang dimiliki juga terdapat hak Allah yang harus ditunaikan, seperti zakat dan sedekah.
Sikap moderat juga dapat diwujudkan melalui qanaah atau kemampuan menerima dan merasa cukup atas apa yang dimiliki. Menurutnya, sifat merasa kurang dapat membuat manusia terus mengejar kenikmatan dunia tanpa batas.
“Jangan sampai dunia dijadikan tujuan final kehidupan. Jadikan dunia sebagai perantara untuk kehidupan akhirat,” jelasnya.
Di tengah perkembangan media sosial, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan pengakuan manusia sebagai ukuran utama dalam menjalani kehidupan. Media sosial sebaiknya digunakan secara wajar tanpa berlebihan dalam menampilkan kepemilikan atau pencapaian pribadi.
Ia menilai, kebiasaan memamerkan kekayaan atau flexing dapat membuat seseorang semakin terikat dengan kehidupan dunia. Oleh karena itu, setiap aktivitas di media sosial perlu disertai kesadaran mengenai tujuan hidup dan batasan dalam menggunakan harta.
Untuk menjaga diri agar tidak terlena oleh dunia, umenyampaikan beberapa langkah. Pertama, memahami hakikat kehidupan dunia yang sifatnya sementara. Kedua, mengetahui batasan yang telah ditetapkan Allah mengenai sesuatu yang diperbolehkan dan dilarang.
Ketiga, menyisihkan sebagian harta untuk didermakan di jalan Allah sebagai bekal kehidupan akhirat. Keempat, menyadari bahwa seluruh yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan titipan Allah.
Ia juga mengutip perumpamaan Rasulullah SAW mengenai kehidupan dunia dan akhirat. Dunia diibaratkan seperti air yang menempel pada jari seseorang setelah dicelupkan ke laut, sedangkan akhirat diibaratkan sebagai luasnya lautan.
“Berlomba-lomba mencari dunia hendaknya dijadikan sebagai wasilah atau perantara menuju akhirat. Apa pun yang kita dapatkan perlu disikapi dengan rasa menerima dan tidak berlebihan,” pungkasnya. (Fauziyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....