Moderasi Beragama: Sikap Moderat Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat
- 19 Agt 2026 08:39 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan dalam menjalani kehidupan dunia, tetapi juga bagaimana manusia mampu membebaskan diri dari keterikatan berlebihan terhadap harta, gaya hidup, dan berbagai pernak-pernik dunia. Sikap moderat menjadi penting agar kebutuhan duniawi tetap terpenuhi tanpa mengabaikan kehidupan akhirat.
Hal tersebut disampaikan Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Haji Muhammad Rifqi Ridho, Lc., M.H., dalam program Moderasi Beragama Pro 1 RRI Purwokerto, edisi Selasa (18/8/2026) yang mengangkat tema “Merdeka dari Jerat Dunia, Sikap Moderat Menyikapi Pernak-pernik Dunia”. Menurutnya, kemerdekaan yang sejati seharusnya mencakup kehidupan dunia sekaligus akhirat.
“Kalau berbicara tentang kemerdekaan, merdeka itu kan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi idealnya kalau orang merdeka itu di dunianya juga dia merdeka, di akhiratnya juga merdeka,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keterikatan manusia terhadap dunia semakin terlihat ketika kesuksesan sering kali hanya diukur berdasarkan hal-hal yang tampak, seperti karier, jabatan, kekayaan, kendaraan, maupun berbagai pencapaian material. Padahal, ukuran tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan keberhasilan seseorang.
Menurutnya, manusia cenderung menjadikan sesuatu yang terlihat sebagai standar kesuksesan karena kehidupan yang sedang dijalani berada di dunia. Sementara itu, keberhasilan dalam perspektif akhirat memiliki ukuran yang berbeda dan tidak dapat semata-mata dinilai berdasarkan pencapaian material. Dalam menyikapi kenikmatan dunia, ia menekankan pentingnya sikap seimbang. Dunia tidak harus ditinggalkan, karena manusia tetap memiliki kebutuhan jasmani. Namun, kenikmatan tersebut tidak boleh membuat seseorang melupakan tujuan akhirat.
“Kalau kita diberi dunia, gunakan dunia itu untuk urusan akhirat kita,” katanya. Ia menambahkan, manusia tetap diperbolehkan menikmati rezeki yang diperoleh, seperti makanan, pakaian, maupun fasilitas kehidupan lainnya, selama digunakan secara secukupnya dan tidak berlebihan.
Batas antara menikmati hasil kerja keras dan perilaku konsumtif, lanjutnya, dapat dilihat dari kebutuhan dan kecukupan yang wajar. Ia mencontohkan, seseorang diperbolehkan menikmati berbagai makanan, tetapi ketika jumlahnya melebihi kebutuhan, hal tersebut dapat masuk dalam perilaku berlebihan atau israf. Beliau juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan media sosial sebagai ukuran harga diri. Fenomena flexing atau memamerkan kekayaan dapat membuat seseorang terjebak dalam kebutuhan akan pengakuan dari manusia, padahal yang lebih utama adalah memperoleh pengakuan dari Tuhan.
“Yang memandang kita itu siapa. Hakikatnya kita manusia itu kan baik dan di inti adanya. Kita harus menurut cara pandang Tuhan, bukan cara pandang manusia semata,” jelasnya.
Beliau juga mengingatkan agar masyarakat memiliki qana'ah, yakni menerima apa yang telah diberikan Allah tanpa berhenti berusaha. Menurutnya, menerima bukan berarti pasif atau tidak memiliki cita-cita, melainkan mampu mengelola rezeki sesuai kebutuhan sehingga tidak terus-menerus dikuasai keinginan untuk mendapatkan lebih banyak.
Dengan demikian, moderasi dalam menyikapi kehidupan dunia bukan berarti menolak kemajuan atau kenikmatan, melainkan mampu menempatkan dunia sesuai porsinya. Dunia digunakan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menjadi jalan menuju kehidupan akhirat, sehingga manusia tidak mudah terjebak dalam materialisme dan tekanan untuk terus mengejar pengakuan sosial. (Safira)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....