PHBI Dinilai Efektif Menjadi Media Dakwah di tengah Perkembangan Zaman

  • 20 Agt 2026 16:00 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dinilai tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat. Hal tersebut disampaikan dalam Dialog Interaktif Mutiara Pagi RRI Purwokerto edisi Kamis (20/8/2026) dengan tema “PHBI sebagai Media Dakwah”.

Dalam dialognya, Ustaz Drs. KH. Achmad Kifni menerangkan bahwa PHBI merupakan bagian dari budaya masyarakat Muslim Indonesia. Beberapa kegiatan yang termasuk PHBI di antaranya peringatan Maulid Nabi, Isra Mikraj, Nuzulul Quran, Tahun Baru Islam, hingga halal bihalal. Menurutnya, PHBI perlu dibedakan dengan hari raya Islam.

Dalam Islam, hari raya yang dikenal adalah Idulfitri dan Iduladha, sedangkan berbagai peringatan keislaman lainnya merupakan bagian dari budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

“Memperingati hari besar Islam itu dari segi fikih tidak haram, tetapi tidak wajib juga, tidak sunnah juga, tidak makruh, tetapi mubah, artinya boleh,” jelasnya.

Beliau juga menekankan bahwa penyelenggaraan PHBI dapat menjadi sarana menyampaikan nasihat dan pembelajaran agama atau mau’izhah hasanah. Karena itu, kegiatan seperti Maulid Nabi maupun peringatan hari besar Islam lainnya seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi memiliki pesan keagamaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

“Jadikanlah peringatan hari-hari besar Islam itu sebagai media dakwah, mau’izhah hasanah, nasihat yang baik, sebagai taklim, belajar ilmu-ilmu Islam, sebagai peringatan agar orang tidak lupa,” ujarnya.

Ditengah maraknya perkembangan teknologi pelaksanaan PHBI juga bisa dilakukan melalui media daring seperti zoom, Video Reels pendek, maupun media sosial lainnya cara tersebut dinilai efektif, karena bisa di akses dengan mudah oleh semua orang. Radio juga dinilai tetap menjadi salah satu media dakwah yang mampu menjangkau masyarakat secara luas melalui perkembangan teknologi internet.

Inti dari peringatan Maulid Nabi bukan hanya dari segi seremonial saja, melainkan sebagai upaya dalam meningkatkan keimanan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, umat Islam dapat mengambil nilai dari peringatan tersebut dengan mengimani dan memuliakan Rasulullah, membantu menegakkan agamanya, serta mengikuti Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya.

Ia juga mengingatkan agar penyelenggaraan PHBI tidak justru menghilangkan substansi dakwah. Konsep acara boleh berkembang mengikuti budaya dan zaman, tetapi isi keagamaannya harus tetap menjadi perhatian utama.

“Tidak harus gegap gempita, tapi maknanya. Jangan sampai nanti kita lupa, gegap gempita kulitnya, tapi tidak ada isinya,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut beliau juga kembali menegaskan bahwa PHBI dapat dimaknai sebagai metode dalam menyampaikan ajaran islam melalui budaya masyarakat.

Menurutnya, berbagai bentuk kegiatan seperti pengajian mingguan, bulanan, selapanan, maupun halal bihalal merupakan budaya yang dapat menjadi wadah penyampaian ilmu dan nasihat agama selama pelaksanaannya tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Pada bagian akhir dialog, ia mengajak masyarakat untuk bersikap selektif terhadap budaya. Budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam dapat diterima dan dimanfaatkan sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai keislaman. (Safira)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....