Menjaga Kesehatan Mental di tengah Tuntutan Produktivitas
- 09 Sep 2026 10:48 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Menjaga kesehatan mental menjadi salah satu hal penting dalam menjalani berbagai tuntutan kehidupan, termasuk dalam bekerja, belajar, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, upaya untuk tetap produktif terkadang justru membuat seseorang mengabaikan kondisi dirinya sendiri. Di sisi lain, persoalan kesehatan mental juga tidak semestinya dijadikan alasan untuk terus menghindari tanggung jawab.
Hal tersebut dibahas dalam program Ruang Psikologi Pro 1 RRI Purwokerto yang mengusung tema Kesehatan Mental dan Produktivitas pada Senin, (7/9/2026). Program yang menghadirkan Imam Faisal Hamzah, S.Psi., M.A dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), yang membahas hubungan antara kesehatan mental, kemampuan dalam menghadapi tekanan, dan produktivitas.
Dalam pembahasannya, Imam menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya gangguan psikologis. Kemampuan seseorang untuk menjalankan fungsi dan aktivitas secara produktif juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
“Jadi kesehatan itu tidak hanya kemudian kaitannya tidak adanya disorder atau tidak adanya penyakit gitu ya, tapi orang-orang yang kemudian tidak produktif gitu ya, itu juga dianggap sakit gitu ya oleh WHO,” ujar Imam.
Meski demikian, kondisi mental tidak dapat dilihat secara sederhana hanya dari produktif atau tidaknya seseorang. Menurut Imam, seseorang perlu memahami penyebab kesulitan dalam menjalankan aktivitas. Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan pekerjaan, tuntunan akademik, maupun persoalan sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Persoalannya muncul ketika kesehatan mental digunakan sebagai alasan untuk sepenuhnya menghindari tanggung jawab. Misalnya, seseorang memilih berhenti mengerjakan tugas akhir karena merasa pembimbingannya terlalu sulit dihadapi atau menggunakan kondisi psikologis sebagai alasan untuk tidak menyelesaikan pekerjaan.
Imam menekankan bahwa kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh. Bisa jadi persoalan utamanya bukan semata-mata kondisi mental, melainkan kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan dan menyelesaikan masalah.
Salah satu konsep yang dibahas dalam program tersebut adalah coping, yaitu cara seseorang menghadapi dan merespons tekanan atau masalah. Kemampuan coping menjadi penting karena setiap orang akan menghadapi persoalan dalam berbagai tahap kehidupannya.
“Masalahnya bukan kemudian apakah mental kita merasa aman atau tidak, tetapi pada keterampilan coping kita,” jelas Imam.
Ia menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua pendekatan coping yang dapat dilakukan, yaitu emotional-focused coping dan problem-focused coping. Emotional-focused coping dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan ketegangan emosional yang muncul ketika seseorang menghadapi masalah.
Contohnya adalah mengambil jeda, menonton film, atau melakukan aktivitas lain yang dapat membantu seseorang merasa lebih tenang. Cara tersebut dapat menjasi langkah awal agar kondisi emosional tidak semakin meningkat.
Setelah emosi lebih terkendali, seseorang dapat menggunakan problem-focused coping dengan mulai menghadapi persoalan yang menjadi sumber tekanan. Dengan kondisi yang lebih tenang, seseorang dapat berpikir lebih jernih untuk menentukan langkah penyelesaian.
Menurut Imam, penyelesaian masalah juga dapat dilakukan dengan cara yang berbeda. Ada persoalan yang dapat diselesaikan secara heuristic, yakni dengan menggunakan cara praktis berdasarkan pengalaman dan situasi yang dihadapi. Ada pula persoalan yang membutuhkan pendekatan algoritmik atau prosedural, yaitu mengikuti langkah atau prosedur tertentu untuk mendapatkan penyelesaian.
Dalam kehidupan sehari-hari, mengambil jarak dari masalah memang terkadang diperlukan. Namun, menghindari persoalan secara terus-menerus tidak selalu membuat masalah selesai. Sebaliknya, persoalan yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi tekanan baru.
Kemampuan menghadapi masalah juga tidak semata-mata ditentukan oleh usia. Imam menjelaskan bahwa kematangan usia seseorang lebih berkaitan dengan bagaimana ia menghadapi tugas dan persoalan dalam tahap kehidupannya.
Karena itu, pengalaman menjadi salah satu hal yang dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kemampuan coping. Bagi mahasiswa, misalnya, kegiatan organisasi, magang, kerja kelompok, maupun berbagai aktivitas di luar perkuliahan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah.
Kemampuan tersebut nantinya dapat menjadi bekal ketika seseorang memasuki dunia kerja. Dengan demikian, berbagai pengalaman yang menghadirkan tantangan tidak selalu harus dipandang sebagai beban, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan.
Menjaga produktivitas tidak berarti seseorang harus bekerja atau belajar tanpa henti. Tubuh dan pikiran tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat agar dapat kembali menjalankan aktivitas secara optimal. Imam mengingatkan pentingnya menyediakan waktu jeda di tengah aktivitas. Waktu istirahat makan siang, akhir pekan, maupun tidur yang cukup dapat membentu seseorang menjaga kondisi fisik dan emosional.
“Ketika kemudian kita bekerja tapi kita perlu kemudia tetap ada waktu jeda,” ungkapnya.
Tidur yang cukup juga memiliki kaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi dan mempertahankan fokus. Karena itu, mengejar produktivitas dengan mengorbankan waktu istirahat justru dapat berdampak pada kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas.
Selain mengatut waktu istirahat, cara pandang terhadap masalahh juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menghadapinya. Imam mengajak masyarakat untuk melihat persoalan sebagai bagian dari proses belajar dan pengembangan keterampilan.
“Cobalah untuk melihat bahwa setiap masalah itu akan meningkatkan keterampilan kita,” katanya.
Menurutnya, pengalaman menghadapi berbagai persoalan dapat memberikan pembelajaran baru. Seseorang dapat menemukan kemampuan yang sebelumnya belum dimiliki setelah mengadapi situasi tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahwa masalah tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental dan mempertahankan produktivitas bukanlah dua hal yang harus dipertimbangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila seseorang mampu mengenali kondisi dirinya, mengelola tekanan, serta mengembangkan kemampuan coping. Mengambil waktu untuk beristirahat bukan berarti tidak produktif. Begitu pula menghadapi masalah tidak berarti seseorang harus mengabaikan kondisi emosionalnya. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk mengetahui kapan harus mengambil jeda dan kapan harus kembali menghadapi persoalan.
Melalui kemampuan coping yang terus dilatih, seseorang dapat belajar menghadapi tekanan yang lebih adaptif. Masalah yang muncul dalam kehidupan pun dapat menjadi pengalaman untuk meningkatkan keterampilan, baik dalam kehidupan akademik, pekerjaan, maupun hubungan sosial.
Dengan demikian, produktivitas tidak seharusnya diukur hanya dari seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan, tetapi juga dari kemampuan seseorang menjaga keseimbangan antara tuntutan aktivitas dan kebutuhan dirinya. Menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting agar produktivitas dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kesejahteraan diri. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....