Istiqamah Menjadi Pegangan agar Tetap Teguh Menjalani Kehidupan
- 08 Sep 2026 11:35 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Dalam menjalani kehidupan, manusia dihadapkan pada berbagai peran, tanggung jawab, serta perubahan keadaan yang tidak selalu dapat diprediksi. Kondisi tersebut membuat seseorang perlu memiliki pegangan agar tetap mampu menjalani kehidupan dengan tenang, konsisten, dan tidak mudah goyah ketika menghadapi berbagai persoalan. Salah satu nilai yang dapat menjadi pegangan tersebut adalah istiqamah. Hal tersebut disampaikan KH. Mintaraga Eman Surya. Lc., M.A. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto pada Senin (7/9/2026).
Dengan mengusung tema “Madep, Mantep, Jejeg Men Uripe Ora Mededeg Bagian 2”, pembahasan tersebut mengajak pendengar memahami makna istiqamah sebagai sikap teguh dan konsisten dalam menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Allah.
Ustaz Mintaraga menjelaskan bahwa keimanan kepada Allah tidak cukup hanya dipahami sebagai keyakinan, tetapi perlu diwujudkan melalui cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari. Menurutnya, manusia perlu menjalankan kewajiban dan perannya dengan baik tanpa terlalu larut dalam kekhawatiran mengenai hal-hal yang berada di luar kendalinya.
“Jadi kemudian yang dimaksud dari amantu billah juga yakinkan bahwa Allah itu sang programmer. Sudahlah gitu tenang aja, kita itu kewajibannya hanya melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba dengan baik. Jalani kehidupan dengan baik, cari nafkah, urus keluarga, urus anak, bertetangga, bermasyarakat, bekerja, ya sudah jalani itu,” ujar Ustaz Mintaraga.
Pemahaman tersebut kemudian berkaitan erat dengan makna istiqamah. Ustaz Mintaraga menerangkan bahwa istiqamah bukan hanya berarti tetap berada pada suatu pendirian, tetapi juga menjalani kehidupan secara konsisten sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Ia menggambarkan kehidupan seperti aliran air yang terus bergerak menuju tujuan, sehingga manusia pun perlu memiliki arah dalam menjalani kehidupannya.
Menjalani kehidupan dengan mengalir bukan berarti hidup tanpa tujuan. Sebaliknya, setiap peran yang dijalankan perlu diarahkan kepada tujuan utama, yakni memperoleh rida Allah. Dengan demikian, seseorang tidak perlu terlalu memikirkan hal-hal yang berada di luar kemampuannya, tetapi fokus menjalankan tanggung jawab yang ada di hadapannya.
“Kalau menurut bahasa istiqamah itu artinya al ikhtidal, lurus dan mapan. Jadi iktidal itu artinya lurus dan mapan....jadi ya bahasa Banyumas madep, mantep gitu kan. Sudah madep, mantep, jejek lah itu maksudnya kayak gitu,” ujar Ustaz Mintaraga.
Istiqamah dimaknai sebagai sikap lurus dan mapan, sedangkan dalam konteks syariat berarti meniti jalan agama Islam tanpa menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Sikap tersebut kemudian diwujudkan melalui konsistensi seseorang dalam menjalankan kewajibannya.
istiqamah juga harus terlihat dalam berbagai posisi yang dimiliki seseorang. Ketika menjadi anggota keluarga, seseorang memiliki tanggung jawab terhadap pasangan, anak, maupun orang tua. Begitu pula ketika berada di lingkungan kerja maupun masyarakat, seseorang perlu memberikan manfaat melalui peran yang dijalankannya.
“Sebagai hamba Allah ya nyong tiap hari ya salat, nyong wudu bae gitu. Sebagai hamba Allah nyong golek duit ya jauhi yang haram, fokus pada yang halal. Kalau sebagai istri ya sudah saya berbakti pada suami, sebagai ibu saya urus anak-anak saya dengan baik, sebagai anak saya tetap menjaga komunikasi dengan baik dengan orang tua, tetap berbuat baik,” ungkap Ustaz Mintaraga.
Menurutnya, seseorang perlu memahami bahwa setiap posisi memiliki tanggung jawab masing-masing. Ketika berada di tempat kerja, seseorang perlu fokus terhadap pekerjaannya. Ketika kembali ke rumah, ia perlu menjalankan perannya sebagai anggota keluarga. Dengan demikian, kehidupan dapat dijalani secara lebih teratur dan tidak dipenuhi dengan pikiran yang saling bercampur.
Selain berkaitan dengan tanggung jawab, istiqamah juga mengajarkan seseorang untuk menerima berbagai keadaan yang terjadi dalam kehidupan. Ustaz Mintaraga menjelaskan bahwa takdir Allah, baik yang dirasakan sebagai kesulitan maupun kemudahan, perlu disikapi sebagai bagian dari proses kehidupan. Ketika menghadapi musibah, seseorang dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan introspeksi, sedangkan ketika memperoleh keberhasilan, ia perlu tetap mengingat Allah.
“Pokoknya apa pun yang menjadi takdir Allah untuk kita mungkin itu yang terbaik,” ujarnya.
Sikap tersebut menjadi penting karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan manusia. Ketika memperoleh kebaikan, seseorang perlu melihatnya sebagai kesempatan untuk membuktikan apakah dirinya tetap berada di jalan kebaikan. Begitu pula ketika menghadapi kesulitan, seseorang dapat menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki diri.
Menurutnya, manusia tidak perlu terlalu takut terhadap ketidakpastian selama tetap berusaha, menjalankan kewajiban, dan menjaga hubungan dengan Allah. Ia mengingatkan bahwa tujuan utama manusia adalah tetap berada dalam kebaikan dan kebenaran hingga akhir kehidupan.
Dalam konteks tersebut, ia menjelaskan kandungan Surat Fussilat ayat 30 yang menyebutkan orang-orang yang mengatakan Allah sebagai Tuhan mereka kemudian tetap istiqamah. Menurutnya, keteguhan tersebut menjadi dasar bagi seseorang untuk tidak mudah takut dan bersedih dalam menjalani kehidupan.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap dalam pendiriannya akan turun malaikat-malaikat kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” Ayat tersebut menjadi penguat bahwa keteguhan dalam menjalankan keimanan merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Ustaz Mintaraga juga menekankan bahwa tauhid tidak berhenti pada pemahaman secara teoritis. Keyakinan kepada Allah perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Menurutnya, manusia perlu menyadari bahwa Allah adalah pihak yang paling mengetahui kehidupan manusia sehingga manusia perlu menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya.
Memasuki kehidupan di era digital, menjaga istiqamah juga menghadirkan tantangan tersendiri. Arus informasi yang cepat membuat seseorang mudah terpengaruh oleh berbagai hal. Karena itu, Ustaz Mintaraga mengingatkan pentingnya kemampuan memilih informasi, lingkungan, serta kebiasaan yang memberikan manfaat.
Masyarakat tidak harus menjauhi teknologi digital, tetapi perlu menggunakannya secara bijak. Media sosial dapat menjadi sarana belajar dan mendapatkan informasi selama seseorang mampu memilih konten yang bermanfaat dan tidak membiarkan dirinya terbawa oleh arus informasi yang tidak diperlukan.
Selain memilah informasi, ia juga menyarankan agar seseorang memperhatikan lingkungan pergaulannya. Lingkungan yang memberikan manfaat dapat membantu seseorang menjaga konsistensi dalam kebaikan. Sebaliknya, berbagai hal yang tidak memberikan manfaat tidak harus selalu diikuti meskipun hubungan baik dengan orang lain tetap perlu dijaga.
“Kita pilah lingkungan yang baik. Jadi, mana yang terbaik, circle-circle kita, kita rubah ya. Kita cari circle yang membawa kemanfaatan lah .... ya okelah kita tetep menjaga hubungan baik dengan mereka, kita tidak keluar dari grup. Tapi kita pasif saja lah,” ujar Ustaz Mintaraga.
Untuk memperkuat istiqamah, Ustaz Mintaraga juga menyarankan agar seseorang memiliki setidaknya satu amalan sunnah yang dapat dijalankan secara konsisten. Amalan tersebut tidak harus dalam bentuk yang besar, tetapi dapat berupa kebiasaan sederhana yang mampu dipertahankan dalam jangka panjang, seperti puasa sunnah, sedekah, zikir, salat duha, maupun membaca Al-Qur’an.
Ia menilai kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi pegangan dalam kehidupan. Dengan memiliki satu amalan yang terus dijaga, seseorang memiliki pengingat untuk tetap dekat dengan Allah sekaligus melatih dirinya untuk konsisten.
Pada akhirnya, istiqamah bukan hanya tentang bertahan dalam satu keadaan, tetapi tentang kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika menghadapi berbagai perubahan kehidupan. Manusia memiliki banyak peran yang harus dijalankan, mulai dari sebagai hamba Allah, anggota keluarga, tetangga, teman, hingga rekan kerja. Seluruh peran tersebut perlu dijalani dengan penuh tanggung jawab dan tetap berada dalam koridor yang telah ditetapkan Allah.
“Kesimpulan pagi hari ini tadi bagaimana kita hidup sudahlah gitu kita pahami betul bahwa kita sebagai hamba Allah, sebagai khalifah, posisi kita tadi saya ulangi lagi ya, sebagai istri, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai ibu, sebagai tetangga, sebagai anak, sebagai rekan kerja. Udah fokuskan pada itu. Tetap konsisten, komitmen, kita jalani dan jangan keluar dari koridor Allah,” tegas Ustaz Mintaraga.
Dengan demikian, istiqamah dapat menjadi pegangan untuk menjalani kehidupan secara lebih teguh. Bukan berarti manusia tidak akan menghadapi masalah, perubahan, maupun kegagalan, tetapi bagaimana setiap keadaan tersebut disikapi tanpa kehilangan arah. Tetap berusaha, menjalankan peran, menjaga ketaatan, serta menerima hasil dengan penuh keyakinan menjadi bagian dari upaya menjaga istiqamah dalam kehidupan. (Novita Widya Putri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....