Seni Berkata “Tidak” tanpa Takut Mengecewakan Orang Lain

  • 16 Sep 2026 08:51 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Mengatakan “tidak” kepada orang lain sering kali bukan perkara mudah. Ada rasa sungkan, takut mengecewakan, hingga kekhawatiran hubungan menjadi renggang. Akibatnya, seseorang justru memilih mengatakan ”iya” meskipun sebenarnya tidak mampu atau tidak ingin memenuhi permintaan tersebut.

Hal tersebut dibahas dalam program Ruang Psikologi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Ayu Kurnia Sari, S.Psi., M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Dalam dialog yang mengangkat tema “Seni Mengatakan Tidak Tanpa Merasa Bersalah” pada Senin (14/9/2026). Ayu menjelaskan bahwa kebiasaan sulit menolak berkaitan erat dengan keinginan seseorang untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial.

“Kita sering kali bilang iya, padahal hati kita tuh sebenarnya enggak gitu. Terus pulang ke rumah tuh capek banget. Bukan karena pekerjaan yang berat, tapi karena pekerjaannya enggak sesuai sama hati kita,” ujar Ayu.

Menurutnya, mengatakan “iya” ketika sebenarnya tidak sanggup dapat membuat seseorang merasa lelah karena pekerjaan atau tanggung jawab utama justru terabaikan. Ayu juga membagikan pengalaman pribadinya ketika merasa sungkan untuk menolak permintaan dari orang yang memiliki relasi kuasa dengannya.

Sejak kecil, menurut Ayu, masyarakat Jawa juga mengenal nilai andhap asor yang mengajarkan kesopanan dan upaya menjaga ketentraman dalam hubungan sosial. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang menganggap penolakan sebagai sesuatu yang kurang baik.

Ia menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memang memiliki keinginan untuk menciptakan harmoni sosial. Karena itu, kekhawatiran bahwa penolakan akan merusak hubungan dapat muncul dengan sendirinya.

“Bukan masalah berat buat bilang enggak tuh enggak. Tapi lebih ke dia khawatir setelah bilang enggak nanti hubungannya jadi enggak harmonis lagi. Nanti aku enggak diterima di pertemanan itu. Nanti aku jauh dari temanku. Yang sebenarnya adanya cuma di otak,” jelasnya.

Namun, kekhawatiran tersebut belum tentu sesuai dengan kenyataan. Penolakan tidak selalu berarti seseorang tidak peduli terhadap orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana penolakan tersebut disampaikan dengan jelas dan tetap menghargai hubungan.

Ayu membagikan sejumlah cara yang dapat digunakan ketika seseorang berada dalam situasi sulit untuk mengatakan “tidak”. Salah satunya adalah menunda jawaban.

”Yang pertama kita bisa menunda. Misal contohnya gini, ‘nanti dulu ya, coba tak pikiran,” katanya.

Teknik tersebut dapat digunakan ketika seseorang merasa gugup atau tertekan karena harus memberikan jawaban secara langsung. Jawaban dapat diberikan kemudian melalui pesan jika komunikasi secara langsung terasa lebih sulit. Meski demikian, apabila sudah menjanjikan waktu untuk memberikan jawaban, seseorang tetap perlu memenuhi janji tersebut.

Cara berikutnya adalah dengan menyampaikan penolakan secara jelas dan langsung, tetapi tetap memberikan alasan.

“Cara yang kedua untuk menolak adalah jelas. Maksudnya sampaikan saja secara jelas, to the point. ‘Sorry banget nih, aku enggak bisa soalnya aku ada aktivitas X,” ujar Ayu.

Menurutnya, memberikan alasan dapat membantu orang lain memahami bahwa penolakan bukan semata-mata karena tidak mau membantu. Sebelum menerima permintaan, seseorang juga disarankan untuk mengetahui aktivitas dan prioritas yang sedang dimiliki.

Ayu menyarankan agar aktivitas utama dicatat sehingga seseorang dapat melihat dengan lebih jelas apakah dirinya masih memiliki waktu dan kemampuan untuk membantu orang lain. Dengan begitu, keputusan untuk mengatakan “iya” atau “tidak” dapat dibuat berdasarkan kondisi yang nyata, bukan sekadar perasaan sungkan.

Dalam menentukan apakah sebuah permintaan harus diterima atau ditolak, seseorang juga perlu melihat kondisi dirinya terlebih dahulu. Menurut Ayu, bukan hanya tingkat urgensi permintaan yang perlu diperhatikan, tetapi juga apakah diri sendiri sedang berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk membantu.

“Yang paling penting kita pertama ngebaca situasi kita,” tegasnya.

Untuk situasi yang berkaitan dengan keselamatan, seperti kecelakaan atau kondisi yang membahayakan nyawa dan kesehatan mental, konteksnya tentu berbeda. Namun, untuk permintaan yang tidak berada dalam kondisi darurat, seseorang tetap perlu mempertimbangkan kapasitasnya,

Penolakan juga tidak selalu harus berarti membantu. Salah satu caranya adalah dengan memberikan alternatif atau mendelegasikan bantuan. Misalnya, ketika seseorang diminta untuk mengerjakan suatu tugas tetapi sedang tidak memiliki waktu, ia dapat menawarkan orang lain yang lebih tersedia untuk mengerjakannya. Dengan cara tersebut, seseorang tetap dapat membantu tanpa mengorbankan tanggung jawab utamanya.

Dalam lingkungan kerja, batasan juga merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Ayu menilai permintaan bantuan satu atau dua kali masih dapat dimaklumi. Namun, jika seseorang terus-menerus meminta orang lain untuk mengerjakan tugas yang sebenarnya merupakan tanggung jawabnya, hal tersebut dapat mengganggu pekerjaan pihak yang membantu.

Jika seseorang belum menguasai suatu pekerjaan, menurut Ayu, akan lebih baik apabila ia mengakui keterbatasannya dan meminta untuk diajari. Dengan begitu, bantuan dapat menjadi kesempatan untuk belajar, bukan kebiasaan untuk terus bergantung kepada orag lain.

Pada akhirnya, keberanian untuk mengatakan “tidak” bukan berarti seseorang menjadi tidak peduli. Batasan diperlukan agar seseorang tetap dapat menjalankan tanggung jawabnya secara optimal.

“Jangan takut mengatakan tidak. Karena ada langkah, ada seninya, ada strateginya yang insyaAllah tidak menghambaat keharmonisan dalam hubungan,” ujar Ayu.

Ia menekankan bahwa komunikasi menjadi kunci salam menyampaikan penolakan. Seseorang dapat mengendalikan diri dan pikirannya, tetapi tidak dapat sepenuhnya megendalikan perkataan maupun persepsi orang lain.

“Clear communication is key. Kuncinya adalah komunikasi yang jelas, yang gamblang,” tuturnya.

Dengan memahami kapasitas diri, menentuk prioritas, serta menyampaikan alasan secara jelas, mengatakan “tidak” tidak harus selalu diikuti dengan rasa bersalah. Sebab, membantu orang lain memang penting, tetapi seseorang juga perlu memastikan dirinya untuk tetap mampu menjalankan tanggung jawab dan menjaga kondisinya sendiri. Seperti pesan Ayu, tujuan membantu seharusnya membuat seseorang menjadi orang yang bermanfaat, bukan dimanfaatkan. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....