Bahaya Perilaku Munafik bagi Diri Sendiri dan Lingkungan Sosial

  • 09 Sep 2026 16:12 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Perilaku munafik tidak hanya berkaitan dengan persoalan pribadi, tetapi juga dapat berdampak pada hubungan sosial. Kebiasaan berdusta, mengingkari janji, hingga mengkhianati amanah dapat mengikis kepercayaan dan memicu keretakan hubungan dengan prang lain. Pada saat yang sama, perilaku tersebut juga dapat membuat pelakunta kehilangan ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Ustaz Drs. Daliman, M.Pd pada Selasa, (8/9/2026). Program ini mengusung tema Perilaku Munafik, Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain.

Ustaz Daliman menerangkan bahwa munafik dapat dipahami sebagai kondisi ketika perkataan dan perbuatan seseorang tidak sesuai denga napa yang ada di dalam hatinya. Dengan kata lain, terdapat ketidaksesuaian antara apa yang diyakini atau dirasakan dengan apa yang ditampilkan kepada orang lain.

Ustaz Daliman mengawali pembahasannya dengan menjelaskan tiga ciri perilaku munafik sebagaimana disebutkan dalam hadis. Ketiganya berkaitan dengan perkataan, janji, dan amanah.

“Apabila berkata ia berdusta. Apabila berjanji ia mungkar atau ingkar. Apabila diberi amanat, di aitu khianat,” jelas Ustaz Daliman.

Dusta membuat perkataan seseorang tidak lagi dapat dipercaya karena tidak sesuai dengan kenyataan. Sementara itu, ingkar janji menunjukkan ketidakmampuan atau ketidakmauan seseorang untuk memenuhi apa yang telah disampaikannya kepada orang lain. Adapun pengkhianatan amanah terjadi ketika seseorang tidak menjalankan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, baik berupa harta, tanggung jawab, maupun jabatan.

Ketiga perilaku tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan lingkungan sekitarnya. Kepercayaan yang telah dibangun dapat hilang ketika seseorang berulang kali berkata tidak sesuai kenyataan, tidak menepati janji, atau menyalahgunakan amanah.

Menurut Ustaz Daliman, perilaku munafik dapat merusak hubungan sosial dan bahkan memicu perpecahan maupun permusuhan. Hal tersebut terjadi karena perilaku seperti kebohongan dan pengkhianatan amanah tidak hanya berdampak kepada pelakunya, tetapi juga kepada pihak yang menjadi sasaran perbuatannya. Salah satu contohnya adalah ketika seseorang berjanji untuk mengembalikan utang tetapi tidak menepatinya. Dalam kondisi tersebut, pihak lain kehilangan hak yang seharusnya diterima.

Dampak yang lebih luas dapat memicu ketika perilaku tersebut dilakukan oleh seseorang yang memiliki pengaruh atau kekuasaan. Semakin luas tanggung jawab dan kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula pihak yang berpotesi terkena dampaknya.

“Semakin tinggi jabatan kekuasaan seseorang, kalau dia bersikap munafik, ini akan membahayakan banyak sekali orang,” ujar Ustaz Daliman.

Karena itu, persoalan kejujuran dan amanah tidak hanya penting dalam hubungan antarpersonal, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Janji yang disampaikan oleh seseorang yang memiliki posisi kepemimpinan, misalnya, dapat menyangkut kepentingan banyak orang.

Selain merugikan orang lain, perilaku munafik juga memberikan dampak bagi pelakunya. Hilangnya kepercayaan dari orang lain dapat membuat seseorang dijauhi hingga mengalami keterasingan dalam lingkungan sosial.

Tidak hanya itu, kebiasaan berbohong juga dapat membuat hati dan pikiran tidak tenang karena muncul kekhawatiran bahwa kebohongannya akan diketahui. Seseorang dapat terus merasa waswas terhadap kemungkinan terbongkarnya perkataan atau perbuatannya.

Ustaz Daliman juga menjelaskan bahwa dalam perspektif agama, perilaku munafik merupakan perbuatan dosa. Karena itu, mempertahankan perilaku tersebut tanpa adanya upaya untuk memperbaiki diri dapat membawa dampak buruk terhadap kehidupan seseorang.

Menurutnya, sifat munafik bukanlah sesuatu yang semata-mata merupakan bawaan sejak lahir. Lingkungan dan pendidikan memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku seseorang. Keluarga, pertemanan, serta pergaulan sosial dapat menjadi faktor yang memengaruhi munculnya kebiasaan tertentu.

“Fitrah manusia itu sebenarnya baik. Nah, tetapi kemudian bisa menjadi tidak baik karena pengaruh orang tua,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pengaruh yang dimaksud bukan semata-mata faktor keturunan, melainkan terutama pendidikan dan lingkungan tempat seseorang tumbuh.

Untuk menghindari perilaku munafik, Ustaz Daliman mengingatkan pentingnya memperkuat niat, menjaga lisan, dan perbuatan, serta menghindari kebiasaan berbohong. Seseorang juga perlu melakukan introspeksi secara terus-menerus untuk melihat apakah perkataan dan perbuatannya sudah berjalan sesuai dengan nilai yang diyakini.

Selain itu, memilih lingkungan pertemanan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Menurutnya, seseorang sebaiknya memilih teman yang baik dan tidak terbiasa melakukan kebohongan. Sementara ketika menghadapi orang yang diduga melakukan perilaku munafik, ia mengingatkan agar seseorang tidak terburu-buru menuduh. Informasi yang diterima perlu diklarifikasi atau dilakukan tabayun terlebih dahulu.

“Tabayun ini bahasa sekarang klarifikasi. Jadi jangan buru-buru menuduh orang lain itu salah sebelum kita mempunya bukti yang kuat,” katanya.

Jika perlu memberikan nasihat, Ustaz Daliman menganjurkan agar dilakukan dengan cara yang santun dan bijaksana. Tujuannya agar nasihat dapat diterima tanpa menimbulkan konflik baru. Ia juga mengingarkan pentingnya mendoakan agar orang tersebut dapat menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan kebaikan.

Pada akhirnya, Ustaz Daliman mengajak masyarakat untuk menjaga keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Kejujuran, menepati janji, serta menjaga amanah menjadi bagian penting dalam membangung kepercayaan, baik dalam hubungan pribadi maupun kehidupan sosial.

“Perkataan dan perbuatan kita ini supaya sinkron, sejalan. Apa yang kita katakana, apa yang kita perbuta,” tutupnya. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....