Mengenali Shadow: Sisi Diri yang Selama Ini Tersembunyi
- 02 Sep 2026 15:06 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Mengenali diri secara utuh tidak hanya berarti memahami sisi positif yang ditampilkan kepada orang lain, tetapi juga menerima sisi diri yang selama ini disembunyikan. Hal tersebut dibahas dalam program Curhatnya Pro 2 Purwokerto bersama Nia Anggri Noveni, S.Psi., M.A., Dosen Fakultas Psikologi UMP pada Selasa, 1 September 2026.
Mengusung tema “Mengenal Shadow: Berdamai dengan Sisi Gelap Diri”, perbincangan tersebut mengajak pendengar untuk memahami konsep shadow dalam psikologi, yaitu sisi diri yang tidak disadari, diabaikan, atau tidak ingin ditampilkan karena adanya pengalaman masa lalu maupun kekhawatiran terhadap penilaian lingkungan.
“Shadow ini kan namanya bayangan. Tapi ini bukan sesuatu yang buruk, bukan sesuatu yang negatif, bukan sesuatu yang jahat. Itu jadi sisi diri yang tidak ingin ditunjukkan,” ujar Nia.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kemungkinan menyimpan sisi diri tertentu yang berbeda dari apa yang selama ini terlihat oleh orang lain. Seseorang yang dikenal baik, tenang, atau kuat tetap dapat memiliki emosi, keinginan, maupun kelemahan yang tidak ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari.
Munculnya shadow dapat dipengaruhi oleh luka atau pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, termasuk doktrin dan ekspektasi sosial yang diterima seseorang sejak kecil. Lingkungan dapat membuat seseorang belajar bahwa sisi tertentu dari dirinya tidak dapat diterima. Misalnya, anak yang terus-menerus diberi label sebagai “anak baik” dapat merasa bahwa kemarahan atau sikap egois merupakan sesuatu yang harus disembunyikan.
“Pada akhirnya karena kecenderungan makhluk sosial itu tadi dalam rangka untuk mendapatkan penerimaan sosial di masyarakat atau di keluarga, sisi yang tidak menguntungkan dirinya pada saat momen itu tidak ditunjukkan lagi,” ungkap Nia.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa keinginan untuk diterima dapat membuat seseorang menggunakan “topeng” atau persona yang berbeda sesuai dengan lingkungan sosialnya. Akibatnya, emosi atau karakter tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan harapan lingkungan justru ditekan dan menjadi bagian dari shadow.
Kondisi serupa juga dapat terjadi pada seseorang yang sejak kecil mendapat tuntutan untuk selalu kuat. Ketika sedang lelah atau merasa lemah, ia mungkin merasa tidak boleh menunjukkan kondisi tersebut karena bertentangan dengan gambaran diri yang selama ini dibentuk.
“Ketika misalnya dia lemah, enggak boleh ... kita harus kuat ... padahal manusia ada namanya lelah, ada namanya capek, perlu istirahat,” jelas Nia.
Dalam kehidupan sehari-hari, shadow dapat muncul ketika seseorang menghadapi situasi tertentu yang menjadi pemicu atau trigger. Reaksi yang dirasakan terkadang dapat terlihat berlebihan dibandingkan situasi yang sebenarnya terjadi.
Akan tetapi, trigger dapat menjadi kesempatan bagi seseorang untuk mulai bertanya kepada dirinya sendiri mengenai alasan di balik reaksi tersebut. Pertanyaan sederhana seperti “mengapa saya sangat marah terhadap hal ini?” atau “mengapa saya begitu takut melakukan hal tersebut?” dapat menjadi awal dari proses mengenali diri. Selain melalui situasi yang terjadi dengan orang lain, proses tersebut juga dapat dilakukan secara mandiri melalui refleksi dan journaling. Menuliskan pengalaman atau emosi yang muncul dapat membantu seseorang melihat pola tertentu dalam dirinya.
Shadow tidak selalu berupa emosi atau perilaku negatif. Sisi yang selama ini disembunyikan dapat pula berupa potensi positif yang belum berkembang karena seseorang takut mendapatkan penolakan.
Salah satu contohnya adalah rasa ingin tahu. Seseorang yang sejak kecil sering dianggap mengganggu ketika banyak bertanya dapat belajar untuk menahan keinginannya tersebut. Ketika dewasa, rasa takut dianggap bodoh dapat membuatnya enggan bertanya meskipun sebenarnya memiliki keinginan untuk belajar.
“Shadow ini bisa jadi potensi yang disembunyikan yang tidak ingin ditunjukkan, padahal itu potensial hanya karena masa lalu, hanya karena doktrin, hanya karena takut tidak diterima oleh masyarakat, oleh keluarga,” ujar Nia.
Mengenali shadow juga dapat membuka peluang pengembangan diri. Ketika seseorang mulai menyadari bahwa sisi tertentu dalam dirinya sebenarnya memiliki manfaat, ia dapat mempertimbangkan untuk menampilkannya secara bertahap dalam lingkungan yang aman dan suportif.
Pengalaman positif dari lingkungan juga dapat membantu mengubah pandangan seseorang. Misalnya, seseorang yang awalnya takut bertanya di kelas dapat menjadi lebih percaya diri setelah mendapatkan respons positif ketika pertama kali berani mengajukan pertanyaan.
“Kenali shadow kamu. Kenali itu adalah bagian dari diri kamu. Kenali bahwa sesuatu yang kamu tolak, sesuatu yang kamu tidak ingin tampilkan itu juga bagian dari diri kamu dan itu adalah sebuah cara untuk menjadi manusia yang utuh,” ungkap Nia.
Seseorang tidak harus selalu menjadi pribadi yang kuat, selalu baik, atau selalu tenang. Ada kalanya manusia merasa lelah, marah, takut, maupun ragu, dan emosi tersebut perlu diakui sebagai bagian dari pengalaman manusia.
Berdamai dengan shadow bukan tentang menghilangkan sisi diri yang tidak disukai, melainkan belajar mengenali, menerima, dan mengelolanya dengan cara yang tepat. Dengan memahami sisi diri yang selama ini tersembunyi, seseorang dapat lebih mengenal dirinya secara utuh dan memiliki ruang untuk berkembang menjadi lebih baik. (Novita Widya Putri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....