Kemanfaatan Sesama Jadi Tolak Ukur Dampak Ibadah Bagi Masyarakat
- 19 Sep 2026 10:56 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Ibadah dalam Islam dinilai tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga harus memberikan dampak positif dalam kehidupan sosial. Kemanfaatan dan kemaslahatan bagi orang lain menjadi salah satu ukuran penting dari pelaksanaan amal dalam kehidupan sehari-hari.
Ust. Dr. Shofiyulloh, M.H.I., dalam dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Sabtu, 19 September 2026 mengatakan berbagai bentuk ibadah seharusnya mendorong seseorang untuk memperbaiki perilaku dan memberikan manfaat kepada lingkungan. Dengan demikian, kesalehan individu juga memiliki konsekuensi sosial.
“Pahala itu bergantung pada tingkat kemanfaatan dan tingkat kemaslahatan yang dihasilkan,” katanya.
Ia mencontohkan salat yang dilakukan secara rutin. Menurutnya, ibadah tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan seseorang kepada Allah, tetapi juga memiliki dampak sosial. Salah satunya tercermin dari kemampuan salat dalam mencegah seseorang melakukan perbuatan keji dan mungkar.
“Sholat itu bukan hanya kemudian beribadah kepada Allah murni, tidak. Tapi dampak, efek dari orang yang salat itu mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Itu adalah dampak sosial,” ujarnya.
Ust. Shofiyulloh menjelaskan, dampak tersebut seharusnya terlihat dalam perilaku seseorang setelah menjalankan ibadah. Seseorang yang telah mendekatkan diri kepada Allah melalui salat semestinya memiliki dorongan untuk menjauhi tindakan yang merugikan maupun mengambil hak orang lain.
Konsep kemanfaatan juga berlaku dalam hubungan ekonomi, termasuk aktivitas jual beli. Menurutnya, transaksi harus mempertimbangkan falah atau kesejahteraan serta kemaslahatan kedua belah pihak.
" Penjual tidak boleh melakukan penipuan, menyembunyikan kecacatan barang, ataupun menetapkan harga secara tidak wajar demi memperoleh keuntungan sepihak. Transaksi juga harus dilakukan secara sukarela tanpa adanya unsur pemaksaan.,Tambahnya.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa amanah sosial juga berlaku dalam aktivitas ekonomi. Setiap pihak perlu menjaga hak dan kepentingan pihak lain agar transaksi memberikan kenyamanan dan kemaslahatan bersama.
Ia menambahkan, nilai ibadah idealnya tercermin dalam karakter seseorang. Ketika ibadah dilakukan secara baik dan terus-menerus, nilai tersebut diharapkan membentuk perilaku yang membuat seseorang enggan melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
" Dengan demikian amanah dalam kehidupan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah secara ritual, tetapi juga melalui perilaku sosial dan aktivitas sehari-hari, dan setiap tindakan diharapkan juga memberikan manfaat serta tidak merugikan orang lain.,"Pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....