Antusiasme Peserta Warnai Eurasia Internasional Public Lecture Series ke 2
- 12 Sep 2026 18:14 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi Eurasia Internasional Public Lecture Series ke-2 di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto. Sejumlah mahasiswa aktif menyampaikan pertanyaan terkait tantangan generasi muda dalam menghadapi derasnya arus informasi dan perkembangan kecerdasan buatan di ruang digital.
Salah satunya Putri yang mempertanyakan bagaimana generasi muda seharusnya bersikap ketika bermedia sosial serta bagaimana memastikan informasi yang diterima benar dan dapat dipercaya. Sementara itu, Iksan menyoroti maraknya informasi di media sosial dan pentingnya kehati-hatian agar generasi muda tidak ikut menyebarkan berita bohong atau hoaks.
Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber Eurasia Internasional Public Lecture Series ke-2, Luthfie Makhasin, menekankan pentingnya media and information literacy atau literasi media dan informasi bagi generasi muda. Menurut Luthfie, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan memang memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat masyarakat kehilangan sikap kritis dalam memeriksa sumber dan kebenaran informasi.
Ia mengingatkan, informasi yang beredar di ruang digital perlu diperiksa terlebih dahulu melalui proses cross check. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah membandingkan informasi dengan sedikitnya tiga sumber yang berkaitan.
"Kita harus cross check informasinya sampai paling tidak tiga sumber yang berkait," jelas Luthfie.
Ia juga mendorong generasi muda menerapkan prinsip 5W+1H ketika menerima informasi. Sikap tersebut, menurutnya, menjadikan pengguna media sosial tidak sekadar sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pembelajar dan detektif yang melakukan pengujian silang sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi. Luthfie menegaskan, pengguna media sosial tidak seharusnya terburu-buru meneruskan atau membagikan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
"Ketika Anda berinteraksi di media sosial, Anda harus memosisikan diri sebagai pembelajar dan yang kedua adalah detektif," ungkapnya.
Selain kemampuan memverifikasi informasi, Luthfie juga mengingatkan generasi muda untuk memperhatikan kompetensi sumber informasi, terutama ketika menyangkut isu agama dan sains. Menurutnya, seseorang yang mengklaim diri sebagai ahli dalam bidang tertentu tetap perlu diperiksa latar belakang dan kompetensinya. Di tengah perkembangan AI, ia menilai teknologi dapat membantu mempercepat proses memperoleh dan mengolah informasi, tetapi tidak menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir kritis, kreatif, serta melakukan proses pembelajaran secara mandiri.
"AI itu adalah mesin. Yang namanya mesin itu tidak bisa diajak berteman. Algoritma adalah bahasa mesin yang kadang-kadang bisa bersifat manipulatif tergantung siapa yang memprogramnya," katanya.

Mahasiswa Berkomitmen Lebih Bijak Bermedia Sosial
Materi yang disampaikan dalam Eurasia Internasional Public Lecture Series ke-2 turut mendorong mahasiswa untuk melakukan refleksi terhadap kebiasaan mereka dalam menggunakan media sosial. Putri mengungkapkan, setelah mengikuti sesi tersebut, dirinya akan lebih bijak dalam bermedia sosial, terutama dengan memastikan terlebih dahulu kebenaran informasi yang diterima sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
"Kalau saya sendiri sebagai Gen Z, otomatis nanti ketika saya bermedia sosial saya akan lebih bijak dan juga lebih mencari tahu apakah informasi yang saya dapatkan ini benar ataupun tidak benar," ujar Putri.
Sementara itu, Iksan menyatakan akan lebih selektif dalam memilih berita yang diperoleh melalui media sosial. Hal tersebut dilakukan agar dirinya tidak ikut menyebarkan informasi bohong atau hoaks yang beredar di ruang digital.
"Saya bakal lebih memilih lagi tentang berita-berita yang saya dapat di media sosial agar tidak ikut menyebarkan hoaks yang disebarkan oleh para buzzer," kata Iksan.
Komitmen tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dalam Eurasia tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku mahasiswa dalam menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital. Melalui penguatan literasi media dan informasi, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pengguna media sosial yang kritis, bertanggung jawab, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....