Eurasia International Public Lecture Series Digelar di UIN Saizu Purwokerto
- 05 Sep 2026 18:03 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, PURWOKERTO – Eurasia International Public Lecture Series resmi dibuka di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Sabtu 5 September 20206 pagi. Kegiatan menghadirkan Loch Leaksmy dari Royal University of Phnom Penh, Kamboja, dengan tema “The Asian Community from the Perspective of the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs): Cambodian Experiences and My Efforts.”
Kegiatan dibuka oleh Prof. Dr. H. Suwito, M.Ag., Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Saizu Purwokerto. Dalam sambutannya, Prof. Suwito mengatakan, kegiatan public lecture internasional tersebut menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, khususnya dalam memahami keberagaman budaya dan perspektif global.

Menurutnya, Islam memberikan perhatian besar terhadap penguasaan pengetahuan dan kemampuan memahami berbagai sumber sebagai dasar dalam mengambil keputusan secara bijaksana. Konsep tersebut, kata dia, memiliki keterkaitan erat dengan multikulturalisme yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Orang hidup itu pasti berbeda dan tentu kultur itu berbeda. Kultur antara satu budaya dengan budaya lain tentu berbeda,” ujar Prof. Suwito.
Prof. Suwito juga mengapresiasi kerja sama antara Eurasia Foundation for Asia dan UIN Saizu Purwokerto. Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus diperkuat melalui berbagai kegiatan akademik dan pengembangan jejaring dengan lembaga pendidikan di dalam maupun luar negeri.
Sementara itu, Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, mengatakan, penyelenggaraan Eurasia International Public Lecture Series merupakan bagian dari upaya memperluas kajian akademik dari tingkat lokal menuju perspektif global. Menurut Prof. Roqib, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menindaklanjuti agenda global yang dirumuskan PBB, khususnya terkait pembangunan berkelanjutan yang mencakup aspek lingkungan, ekologi, sosial, dan keberagaman budaya.
“Kita berharap jalan ini kemudian semakin melapangkan kajian kita bukan saja di tingkat lokal tetapi global,” kata Prof. Roqib.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap keberagaman tidak berarti meninggalkan identitas budaya sendiri. Sebaliknya, masyarakat perlu bangga terhadap budaya masing-masing sekaligus mampu memahami dan menghormati budaya orang lain.
“Kita bangga dengan budayanya, tetapi menghormati dan memahami budaya orang lain,” ujarnya.
Prof. Roqib berharap jejaring Eurasia terus berkembang dan tidak hanya melibatkan UIN Saizu dan UNSOED, tetapi juga perguruan tinggi lain di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Menurutnya, perluasan jejaring tersebut penting untuk memperkuat interaksi antarlembaga dalam membangun kehidupan yang lebih nyaman dan berkelanjutan.
Sementara itu, Dian Bayu Firmansyah, M.Pd., selaku penasehat pelaksana Eurasia International Lecture Series tersebut menjelaskan, penyelenggaraan Eurasia di UIN Saizu dilatarbelakangi keberhasilan pelaksanaan kegiatan serupa di UNSOED yang dinilai memberikan dampak positif. Menurut Bayu, keberhasilan tersebut kemudian mendorong adanya gagasan agar kegiatan Eurasia dapat diperluas dan tidak hanya dinikmati oleh satu perguruan tinggi.
“Kami di UNSOED itu memang punya cita-cita ingin berdampak ke sekitar, sehingga program Eurasia ini tidak hanya dinikmati oleh UNSOED, tapi juga kampus-kampus yang ada di Purwokerto,” jelas Bayu.
Ia mengatakan, perluasan kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kerja sama antarperguruan tinggi, tetapi juga turut meningkatkan citra Kota Purwokerto sebagai bagian dari jejaring akademik internasional. Bayu menambahkan, rangkaian Eurasia International Public Lecture Series di UIN Saizu dilaksanakan sekitar empat hingga lima bulan, mulai September hingga Januari.
Kegiatan dijadwalkan berlangsung hampir setiap pekan dengan menyesuaikan agenda para narasumber. Untuk peserta, Bayu menjelaskan, mahasiswa yang mengikuti kegiatan akan berganti dan disesuaikan dengan mata kuliah yang diampu oleh masing-masing dosen. Kegiatan tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan pesantren, termasuk dalam pembelajaran bahasa. Lebih lanjut Bayu mengatakan, Eurasia Foundation diharapkan dapat memberikan dampak terhadap pendidikan, terutama dalam membuka wawasan mahasiswa agar tidak hanya terpaku pada bidang ilmu yang sedang dipelajari.
“Harapannya mahasiswa itu terbuka pikirannya, tidak hanya mempelajari bidang ilmunya yang saat ini dipelajari saja, tapi bisa melihat dunia ini secara lebih luas dari berbagai perspektif bidang ilmu,” Pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....