Gelaran Kedua Eurasia Public Lecture Soroti Aktivisme Digital Anak Muda

  • 12 Sep 2026 13:18 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Eurasia International Public Lecture Series kembali digelar di UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Sabtu (12/9/2026) pagi. Memasuki gelaran kedua, kegiatan tersebut menghadirkan Dosen Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman, Luthfi Makhasin, S.IP., M.A.P., Ph.D.

Direktur Program Pascasarjana UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Dr. Moh. Roqib, M.Ag., mengatakan, kegiatan tersebut menjadi kesempatan positif bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan baru di luar materi perkuliahan reguler.

Menurutnya, mahasiswa perlu terbiasa mengenali berbagai hal baru dan berbeda, termasuk perbedaan bahasa, budaya, maupun lingkungan. Kemampuan mengenali sesuatu yang berbeda dinilai penting untuk membangun pemahaman dan sikap terbuka dalam kehidupan masyarakat yang semakin beragam.

"Mahasiswa perlu mengikuti tema-tema multikulturalisme dan literasi dengan baik, kemudian memikirkan tindak lanjutnya agar pengetahuan yang diperoleh dapat dikembangkan untuk kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Prof. Roqib juga mendorong mahasiswa memanfaatkan berbagai peluang yang muncul melalui kerja sama internasional, termasuk beasiswa, pelatihan, dan pengembangan kompetensi.

Sementara itu, Luthfi Makhasin dalam paparannya mengangkat tema “Youth Digital Activism and Political Multiculturalism in Southeast Asia”, atau aktivisme digital anak muda dan multikulturalisme politik di Asia Tenggara. Luthfi menjelaskan, perkembangan internet dan telepon pintar telah menciptakan ruang publik digital yang semakin luas bagi generasi muda.

Ruang tersebut memungkinkan anak muda menyampaikan gagasan, membangun solidaritas, dan terlibat dalam berbagai persoalan sosial maupun politik.

Lutfhfi mengatakan, "aktivisme digital anak muda di Asia Tenggara memiliki potensi besar untuk membangun solidaritas dan partisipasi politik lintas batas. Tetapi, potensi tersebut juga dibarengi dengan berbagai kerentanan di ruang digital."

Menurut Luthfi, salah satu tantangan tersebut berasal dari cara kerja algoritma platform digital yang dapat mendorong konten viral dan polarisasi dibandingkan informasi yang mendukung kepentingan publik.

Selain itu, pengawasan negara dan regulasi ruang siber juga dapat memengaruhi ruang kebebasan masyarakat dalam menyampaikan pandangan politik. Luthfi juga menyoroti fenomena echo chamber, ketika pengguna digital lebih banyak berinteraksi dengan informasi dan kelompok yang memiliki pandangan serupa.

Kondisi tersebut berpotensi memperkuat polarisasi dan membuat anak muda semakin rentan terhadap informasi yang tidak terverifikasi. Karena itu, literasi media dan literasi politik menjadi bagian penting dalam membangun aktivisme digital yang lebih kritis.

"Aktivisme digital tidak cukup hanya dengan menyukai, membagikan, atau mengikuti sebuah tren. Anak muda perlu memiliki literasi media dan politik agar aktivitas digital dapat berkembang menjadi partisipasi kewargaan yang lebih bermakna,” ungkapnya.

Dalam paparannya, Luthfi juga menekankan pentingnya menghubungkan aktivitas digital dengan aktivitas nyata di masyarakat. Aktivisme yang berlangsung di media sosial perlu diperkuat dengan gerakan komunitas, organisasi, dan partisipasi langsung di ruang publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....