Eurasia Public Lecture Dorong Penguatan Jejaring Akademik Lintas Negara

  • 05 Sep 2026 18:10 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto- Direktur Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., menilai Eurasia International Public Lecture Series menjadi momentum untuk memperluas ruang dialog akademik dan mempertemukan perspektif lokal dengan perkembangan global. Hal tersebut disampaikan Prof. Roqib saat memberikan sambutan dalam pembukaan Eurasia International Public Lecture Series di UIN Saizu Purwokerto, Sabtu 5 September 2026 pagi di depan ratusan peserta yang merupakan mahasiswa UIN Saizu Purwokerto.

Prof. Roqib mengatakan, keberadaan forum akademik lintas negara penting untuk membuka jalan bagi berkembangnya kajian yang tidak hanya berorientasi pada persoalan di tingkat lokal, tetapi juga mampu membaca berbagai isu dari perspektif global. Menurutnya, dinamika tersebut berkaitan dengan konsep globalisasi dan glokalisasi yang membuat interaksi antarbudaya dan antarnegara semakin tidak dapat dipisahkan.

“Kita berharap jalan ini kemudian semakin melapangkan kajian kita bukan saja di tingkat lokal tetapi global. Ada glokalisasi, ada globalisasi,” ujar Prof. Roqib.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan public lecture tersebut juga menjadi bagian dari upaya menindaklanjuti agenda global yang telah dirumuskan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB. Salah satu perhatian utamanya adalah bagaimana pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan keseimbangan alam, ekologi, kehidupan sosial, serta keberagaman budaya.

Menurut Prof. Roqib, pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya dipahami sebagai persoalan menjaga lingkungan, tetapi juga membutuhkan kesadaran manusia untuk memahami keberagaman yang ada di sekitarnya. Setiap masyarakat memiliki budaya dan identitas masing-masing sehingga kebanggaan terhadap budaya sendiri perlu berjalan beriringan dengan sikap menghormati serta memahami budaya masyarakat lain.

“Kita bangga dengan budayanya, tetapi menghormati dan memahami budaya orang lain sehingga kehidupan kemanusiaan ini akan berkembang dengan baik,” katanya.

Prof. Roqib menambahkan, perspektif keberagaman tersebut menjadi semakin relevan dalam membangun hubungan antarlembaga pendidikan dan masyarakat lintas negara. Ia berharap kegiatan Eurasia dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya interaksi yang lebih luas, sehingga perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan berbagai gagasan dan pengalaman.

Lebih lanjut, ia berharap jejaring kerja sama yang telah terbangun melalui kegiatan Eurasia dapat terus diperluas dengan melibatkan perguruan tinggi lain di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Menurutnya, pengembangan jejaring tersebut penting agar interaksi yang sudah terjalin dapat semakin kuat dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan kehidupan manusia dan keberlanjutan lingkungan.

“Harapannya bisa berkembang ke situ sehingga interaksi yang sudah dibangun ini terus menjalin dengan kuat dengan berbagai pihak yang ingin menjaga dunia ini menjadi nyaman, lebih nyaman dihuni oleh kita semua,” ujar Prof. Roqib.

Ia menyebut, perluasan jejaring tersebut telah mulai terlihat dari keterlibatan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dalam kegiatan Eurasia. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu rangkaian kegiatan, tetapi berkembang menjadi hubungan akademik yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Prof. Roqib juga menyinggung keberagaman bahasa dan latar belakang peserta dalam kegiatan tersebut sebagai gambaran nyata bahwa komunikasi lintas budaya membutuhkan keterbukaan. Menurutnya, keterbatasan dalam memahami bahasa maupun budaya lain justru menjadi alasan bagi setiap orang untuk membangun hubungan dan belajar dari pihak lain.

“Inilah dunia kita yang memang ragam sekali. Kita menyadari bahwa kita penuh keterbatasan, karena itu saling membutuhkan pada orang lain,” kata Prof. Roqib.

Melalui Eurasia International Public Lecture Series, Prof. Roqib berharap mahasiswa memperoleh pengalaman akademik yang lebih luas sekaligus memiliki kemampuan melihat persoalan dunia melalui berbagai perspektif. Ia menilai perjumpaan dengan narasumber dan pengalaman dari negara lain dapat memperkaya cara pandang mahasiswa dalam memahami isu kemanusiaan, budaya, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....