Menepis Budaya FOMO Mahasiswa dalam Kualitas Insan Cita HMI Hukum Unsoed

  • 29 Agt 2026 11:31 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID Purwokerto - Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal arus tren kini makin marak melanda kehidupan para mahasiswa baru di lingkungan perguruan tinggi. Hal tersebut menjadi bahasan menarik dalam program Academic Forum Pro 2 RRI Purwokerto Kamis 27 Agustus 2026. Acara tersebut menghadirkan Mizar Hilman dan Nabilah Zara dari HMI Hukum Universitas Jendral Soedirman.

Dalam acara tersebut dikupas fenomena dunia perkuliahan dan pengembangan diri generasi muda. Dengan mengusung tema "Berani Beda di Tengah Budaya FOMO Mahasiswa: Kualitas Insan Cita", hal ini menjelaskan bahwa rasa takut tertinggal ini sangat rentan dialami oleh mereka yang belum memiliki arah tujuan yang jelas.

"Banyak budaya FOMO atau Fear of Missing Out atau rasa takut ketertinggalan itu banyak banget ditemuin di mahasiswa-mahasiswa, terutama mahasiswa baru yang belum tahu dia mau ngapain di kampus," ujar Mizar Hilman.

Kecenderungan dalam bersikap FOMO umumnya dipicu oleh keinginan kuat untuk mendapatkan jaringan pertemanan atau circle sosial secara cepat. Lingkungan kampus yang dipenuhi oleh mahasiswa aktif dan berprestasi tak jarang memunculkan kecemasan tersendiri bagi mereka yang belum menemukan jalur aktivitasnya. Akibatnya, timbul kebiasaan asal mengikuti berbagai kegiatan, organisasi, hingga jam komitmen nongkrong tanpa mempertimbangkan minat dasar serta kesanggupan kapasitas diri.

Kendati kerap dianggap negatif, fenomena FOMO sebenarnya memiliki dua sisi dampak yang tergantung pada cara mahasiswa menyikapinya. Sisi positif dari dorongan ini dapat mengarahkan mahasiswa untuk berani mencoba kompetisi, melatih keterampilan baru, serta mengasah bakat yang membawa manfaat nyata, sebaliknya dampak buruk timbul ketika dorongan ikut-ikutan.

"Dampaknya ada baik, ada yang buruk. Nah kalau FOMO yang baik itu, ternyata setelah kita ada di dalam situ, kita jalani, kita rasakan kebermanfaatannya, ternyata nyaman orang-orangnya sefrekuensi, terus banyak benefit yang kita dapat. Nah FOMO yang kurang baik itu asal-asalan ikut, jadi asal banyak temen," tegas Nabilah.

Sebagai sarana pembentuk benteng pendirian, konsep lima Kualitas Insan Cita yang diusung oleh HMI Hukum Unsoed hadir memberikan kerangka panduan hidup yang relevan. Lima pilar tersebut mencakup insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, insan yang bernafaskan Islam, serta insan yang bertanggung jawab. Kerangka nilai ini dirancang untuk mendasari pola pikir mahasiswa agar tidak mudah goyah di tengah derasnya tekanan sosial perkuliahan.

Pilar insan akademis menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan sebagai tolak ukur integritas dan keseimbangan kecerdasan mahasiswa. Pencapaian aspek kognitif dan intelektual harus ditempatkan sebagai prioritas utama di atas sekadar perburuan eksistensi sosial semata. Mahasiswa yang kokoh secara akademis akan memiliki landasan berpikir kritis dalam memilah ajakan yang berdatangan di sekitarnya.

Selanjutnya, pilar insan pencipta dan insan bertanggung jawab menjadi pembeda utama antara individu yang mandiri dengan mereka yang sekadar FOMO. Insan pencipta mendorong mahasiswa untuk berani menjadi pelopor karya dan gagasan baru daripada sekadar menjadi pengikut pasif. Mizar menegaskan bahwa mahasiswa seharusnya berperan sebagai pencetus perubahan.

"Dari budaya fear of missing out ini atau orang yang ikut-ikutan... kita di sini diajak untuk bagaimana kita yang menciptakan, bukan kita yang mengikuti. Kita yang menjadi pelopor, bukan kita yang menjadi pengikut," pungkasnya.

Membentengi diri dampak buruk FOMO, dengan membangun kemampuan berani tampil beda yang berorientasi positif. Bukan bertujuan mencari perhatian, namun bentuk keteguhan pendirian dan kecocokan passion pribadi. Kemampuan menolak hal-hal kurang bermanfaat (saying no) menjadi keterampilan yang sangat penting, menjaga efisiensi waktu dan kesehatan mental.

Keberhasilan menavigasi kehidupan kampus tidak ditentukan dari seberapa banyak kegiatan yang diikuti demi gengsi sosial. Diharapkan mampu meningkatkan nilai tawar (value) dan kapasitas diri melalui pengasahan keterampilan komunikasi, kepekaan sosial yang matang, serta kedekatan komunikasi dengan keluarga.

Dengan menerapkan nilai-nilai Kualitas Insan Cita, mahasiswa dapat bertransformasi menjadi pribadi mandiri yang berdampak positif bagi masyarakat tanpa harus kehilangan jati diri di tengah arus FOMO. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....