3 Langkah Literasi Digital: Cari, Saring, Bagikan
- 01 Sep 2026 15:01 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Kemudahan mengakses informasi melalui media sosial membuat masyarakat dapat menerima dan menyebarkan berita dalam waktu singkat. Namun, derasnya arus informasi juga membuat masyarakat perlu lebih cermat dalam memilah informasi agar tidak mudah terprovokasi atau ikut menyebarkan berita yang belum terbukti kebenarannya.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Literasi Digital Pro 1 RRI Purwokerto bersama Riski Tri Wismanawati, S.Hum., Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), edisi Selasa,( 1 /9/ 2026.) Dengan mengusung tema “Cerdas Mencari, Memilih, dan Membagikan Informasi, Riski mengajak untuk lebih bijak dalam mencari, memilih, dan membagikan informasi di tengah fenomena banjir informasi.
Perkembangan teknologi membuat masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai penyebar bahkan produsen informasi. Informasi yang dikemas dengan judul yang menarik dan menyentuh emosi, seperti misalnya ajakan untuk segera menyebarkan informasi kepada keluarga atau teman, dapat membuat seseorang terburu-buru membagikan informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.
Kurang kemampuan dalam menyaring informasi dapat berdampak pada kesalahan dalam mengambil keputusan. Informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain, selain itu juga dapat memicu konflik, hingga menyebabkan kepanikan di masyarakat.
Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencari tahu sumber informasi. Masyarakat perlu memperhatikan siapa yang membuat atau menerbitkan informasi tersebut, berasal dari lembaga mana, serta apakah terdapat data yang dapat mendukung informasi tersebut.
Selain sumber informasi, tanggal dan konteks informasi juga perlu diperiksa. Informasi yang beredar di media sosial tidak selalu merupakan informasi terbaru. Foto lama dapat kembali digunakan untuk membangun pemberitaan baru, sementara judul sebuah artikel juga belum tentu menggambarkan keseluruhan isi.
“Jangan kita keburu share suatu informasi hanya karena melihat judulnya, tapi kita juga harus benar-benar baca dulu, kita pahami dulu kontennya itu apa, konteksnya itu sedang membicarakan apa,” jelas Riski.
Untuk memastikan informasi yang diteruma benar-benar dapat dipercaya, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum membagikannya.
Pertama, cek sumber informasi dengan melihat siapa yang membuat atau menerbitkannya. Kedua, cek tanggal untuk memastikan apakah informasi tersebut masih relevan. Ketiga, cek konteks, terutama dengan membaca keseluruhan isi dan tidak hanya berpatokan pada judul.
Keempat, bandingkan sumber yang ada di berita atau informasi tersebut dengan sumber lain yang kredibel, seperti media terpercaya atau lembaga resmi. Kelima, pertimbangkan dampaknya. Masyarakat perlu memikirkan apakah informasi tersebut memang bermanfaat untuk diketahui orang lain atau justru berpotensi menimbulkan kepanikan dan kesalahpahaman.
| Baca juga: Tips Terhindar dari Kejahatan Siber |
Dengan demikian, banyaknya orang yang sudah membagikan sebuah informasi bukan menjadi jaminan bahwa informasi tersebut benar. Informasi tetap perlu diverifikasi berdasarkan sumber dan data yang dapat dipercaya.
Perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru melalui penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Informasi yang diberikan oleh AI, termasuk melalui platform seperti ChatGPT, tidak seharusnya diterima begitu saja tanpa pengecekan.
Riski menjelaskan bahwa pengguna tetap perlu memeriksa sumber dan referensi yang digunakan AI, terutama ketika informasi tersebut berkaitan dengan data atau peristiwa tertentu.
Sebagai contoh, ketika mencari data mengenai jumlah korban bencana melalui AI, informasi tersebut perlu dibandingkan dengan sumber resmi yang berwenang dalam menangani bencana. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan data yang diperoleh benar-benar akurat.
“Jadi kita memang harus cari second opinion untuk mencari akurasi data yang disajikan dari AI,” ujar Riski.
Di tengah derasnya informasi digital, perpustakaan juga memiliki peran dalam membantu masyarakat untuk menemukan sumber informasi yang kredibel. Perpustakaan UMP tidak hanya menyediakan sumber bagi civitas akademika, tetapi juga melakukan edukasi literasi kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan dan titik baca.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat untuk memperoleh referensi yang lebih terpercaya ketika mengalami kesulitan dalam menemukan sumber informasi. Selain koleksi fisik, perpustakaan UMP turut menyediakan berbagai sumber digital dan database ilmiah.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat baca sekaligus kesadaran masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan informasi singkat dari media sosial, tetapi juga mencari informasi yang memiliki dasar dan sumber yang jelas.
Pada akhirnya, menjadi pengguna media sosial yang bijak tidak berarti harus menjadi orang yang paling cepat membagikan informasi. Justru, kecepatan tersebut perlu diimbangi dengan tanggung jawab terhadap informasi yang disebarkan.
Riski mengajak masyarakat untuk membiasakan tiga langkah sederhana setiap kali menerima informasi, yaitu “berhenti sejenak, memahami dan mengecek informasi, kemudian menentukan apakah informasi tersebut memang perlu dibagikan”.
“Kecepatan infromasi itu penting, tapi lebih penting lagi tanggung jawab kita terhadap informasi yang kita sebarkan,” pungkasnya. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....