Mengenal, Memahami, dan Mengamalkan Al-Qur’an dalam Kehidupan
- 02 Sep 2026 08:59 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Di tengah dinamika kehidupan yang terus berkembang, manusia membutuhkan pedoman untuk menentukan arah dan mengambil sikap dalam menjalani kehidupan. Al-Qur’an menjadi salah satu pedoman bagi umat Islam yang mengandung petunjuk dalam berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut dibahas dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Ustaz Drs. Daliman, M.Pd. pada Selasa, 1 September 2026.
Dengan mengusung tema “Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia”, pembahasan dalam program tersebut mengajak pendengar untuk melihat kembali kedudukan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Tidak hanya berkaitan dengan persoalan ibadah, Al-Qur’an juga memberikan arahan mengenai akhlak, kehidupan pribadi, serta hubungan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Ustaz Daliman menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai sumber petunjuk yang diyakini kebenarannya oleh umat Islam. Menurutnya, keyakinan terhadap Al-Qur’an menjadi dasar bagi seorang muslim dalam menerima dan menjalankan petunjuk yang terdapat di dalamnya.
“Al-Qur’an itu adalah sebagai petunjuk. Maksudnya adalah Al-Qur’an merupakan petunjuk yang mutlak kebenarannya,” ujarnya
Al-Qur’an juga berfungsi sebagai pembeda antara sesuatu yang benar dan salah, serta antara yang hak dan yang batil. Dengan fungsi tersebut, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi dasar bagi umat Islam dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan.
“Di dalam Al-Quran itu ada petunjuk-petunjuk mengenai ibadah, mengenai syariah. Walaupun tidak rinci, kemudian dirinci dalam hadis. Ada juga petunjuk mengenai akhlak, budi pekerti, mana yang baik, mana yang buruk ….. dan yang keempat yaitu petunjuk tentang amal keduniaan, yaitu mengenai bagaimana tentang kehidupan pribadi, bagaimana berkehidupan sosial, bagaimana berkehidupan bermasyarakat, dan sebagainya,” ujar Ustaz Daliman
Cakupan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berhubungan dengan hubungan manusia kepada Allah, tetapi juga memberikan nilai dan arahan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungan sosialnya. Karena itu, memahami Al-Qur’an menjadi penting agar petunjuk yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan secara lebih luas dalam kehidupan.
Kedekatan dengan Al-Qur’an dapat dibangun melalui proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap. Dalam dialog tersebut, Ustaz Daliman menyoroti pentingnya pendidikan dalam menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an. Menurutnya, proses tersebut dapat dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian diperkuat melalui sekolah dan masyarakat.
Keluarga memiliki peran penting karena menjadi lingkungan pertama tempat seorang anak memperoleh pendidikan. Pengenalan terhadap Al-Qur’an dapat dilakukan sejak anak masih berada di lingkungan keluarga, misalnya dengan membiasakan anak mendengarkan dan mempelajari bacaan Al-Qur’an. Selain keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat pembelajaran. Keberadaan lembaga pendidikan Al-Qur’an seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dapat menjadi salah satu sarana bagi anak-anak untuk belajar membaca Al-Qur’an secara lebih terarah.
Ketiga lingkungan tersebut perlu saling mendukung agar proses mengenalkan Al-Qur’an tidak berhenti pada pembelajaran formal. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membentuk kebiasaan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Proses tersebut membutuhkan ketelatenan, ketekunan, dan kegigihan. Terlebih, generasi muda saat ini memiliki banyak aktivitas dan pilihan hiburan, termasuk penggunaan telepon genggam. Karena itu, diperlukan upaya bersama agar pembelajaran Al-Qur’an tetap menjadi bagian dari keseharian.
“Yang utama kita tidak hanya membaca terjemahnya tetapi yang lebih aktual adalah kita membaca Al-Qur’annya kemudian membaca terjemahnya,” ungkap Ustaz Daliman
Bagi masyarakat yang belum memahami bahasa Arab, membaca terjemahan dapat membantu memahami arti dari ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, ia menganjurkan agar pembacaan terjemahan tetap disertai dengan usaha mempelajari bacaan Al-Qur’an dalam bahasa aslinya. Menurutnya, membaca Al-Qur’an dan memahami terjemahannya dapat berjalan beriringan. Bagi orang yang belum mampu membaca tulisan Arab, memulai dari terjemahan bukanlah sesuatu yang harus membuat seseorang berhenti belajar. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi langkah awal untuk kemudian berusaha mempelajari bacaan Al-Qur’an.
Pembelajaran juga tidak terbatas pada usia tertentu. Ust. Daliman menceritakan pengalamannya mengajak orang-orang yang sudah berusia lanjut untuk belajar membaca Al-Qur’an. Meskipun harus memulai dari dasar, proses tersebut tetap dapat dilakukan selama terdapat kemauan untuk belajar.
Menurutnya, rasa malu karena belum lancar membaca Al-Qur’an seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar. Kesalahan dalam proses belajar merupakan bagian dari perjalanan seseorang untuk meningkatkan kemampuan. Hal yang lebih penting adalah adanya kemauan untuk terus berusaha.
“Yang penting sebenarnya bagi kita bukan bacaan yang bagus. Kadang-kadang kita itu malu kalau bacaannya tidak bagus atau salah. Sebenarnya tidak perlu seperti itu. Sebab yang namanya kita belajar agama itu, termasuk belajar Al-Quran itu, belajarnya saja sudah merupakan bagian dari ibadah,” jelas Ustaz Daliman
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses mengenal Al-Qur’an dapat dimulai dari hal sederhana. Tidak harus menunggu mampu membaca dengan lancar, seseorang dapat memulai dari belajar huruf, membaca secara perlahan, hingga memahami aturan bacaan.
Selain kemampuan membaca dan memahami makna, kebiasaan juga menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan dengan Al-Qur’an. Dalam dialog tersebut, Ust. Daliman menyampaikan bahwa membaca Al-Qur’an dapat dilakukan secara rutin dengan jumlah yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Menurutnya, seseorang tidak harus langsung menetapkan target yang berat. Kebiasaan dapat dimulai dari membaca satu, dua, atau tiga lembar setiap hari. Waktu membacanya pun dapat disesuaikan, seperti pada pagi atau sore hari, maupun setelah melaksanakan salat.
“Kita setiap hari itu akan membiasakan membaca Al-Qur’an berapa lembar. Satu lembar, apa dua lembar, apa tiga lembar,” ungkapnya
Menurutnya, membaca Al-Qur’an secara rutin bukan hanya mengenai seberapa banyak ayat yang dapat diselesaikan, tetapi juga bagaimana kualitas bacaan tersebut dapat terus diperbaiki. Dengan membaca secara berulang, seseorang memiliki kesempatan untuk menjadi semakin lancar sekaligus memahami aturan membaca Al-Qur’an dengan lebih baik.
Hal tersebut menunjukkan bahwa membangun hubungan dengan Al-Qur’an membutuhkan proses yang konsisten. Kebiasaan yang dilakukan secara bertahap dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari sehingga membaca Al-Qur’an tidak hanya dilakukan pada waktu tertentu, tetapi menjadi aktivitas yang terus dipelihara.
Mengenal dan memahami Al-Qur’an pada akhirnya perlu diwujudkan dalam tindakan. Sebab, Al-Qur’an tidak hanya ditujukan untuk dibaca, tetapi juga menjadi pedoman yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi dasar bagi seorang muslim dalam menentukan sikap dan perilaku.
“Mari kita sebagai kaum muslimi berupaya untuk melaksanakan, untuk mengamalkan apa yang ditunjukkan, diperintahkan di dalam Al-Qur’an, berupa perintah kita laksanakan, kalau berupa larangan, yaitu kita tinggalkan,” ungkap Ustaz Daliman
Pengamalan tersebut membuat hubungan seseorang dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada aktivitas membaca. Pemahaman terhadap isi Al-Qur’an kemudian dapat menjadi dasar untuk membentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, proses mengenal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an merupakan rangkaian yang saling berkaitan. Mengenal menjadi langkah awal untuk mendekatkan diri dengan Al-Qur’an. Selanjutnya, membaca dan mempelajari maknanya menjadi bagian dari proses memahami. Setelah memahami, nilai dan petunjuk yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan tersebut juga menunjukkan bahwa proses mendekatkan diri dengan Al-Qur’an tidak harus dilakukan dengan langkah yang besar. Kebiasaan sederhana seperti meluangkan waktu untuk membaca, mempelajari terjemahan, memperbaiki bacaan, serta berusaha menerapkan nilai-nilai yang dipahami dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Pada akhirnya, Al-Qur’an diharapkan tidak hanya menjadi kitab yang dibaca pada waktu-waktu tertentu, tetapi benar-benar hadir sebagai pedoman dalam kehidupan. Dengan mengenal, memahami, dan mengamalkan ajarannya, umat Islam dapat menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari sekaligus sebagai rujukan dalam menghadapi berbagai persoalan. (Novita Widya Putri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....