Penting Menjaga Lisan dan Tangan sebagai Bukti Kesejatian Iman dan Islam
- 25 Agt 2026 21:20 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID Purwokerto – Kesejatian iman dan Islam tidak hanya ditunjukkan melalui pengakuan lisan atau rutinitas ibadah. Ukurannya juga terlihat dari akhlak dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan KH. Mintaraga Eman Surya. L.c., M.A. dalam program Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Purwokerto bertajuk "Aja Ngaku Mukmin Muslim Nek Lambene nDawir lan Tangane Nggrathil", pada Senin 24 Agustus 2026.
“Yang pertama bertakwalah kepada Allah dimanapun kita berada. Yang kedua, kalau memang nyatanya kita namanya manusia pasti ada salah-salahnya, ya. Kalau sudah berbuat salah, segera ditutupi dengan kebaikan-kebaikan. Dan yang ketiga, kita berkhalifah manusia dengan akhlaq yang baik,” ujar Ustaz Mintaraga.
Seorang Muslim dan Mukmin sejati seharusnya mampu memberikan rasa aman kepada orang-orang di sekitarnya serta menjaga kehormatan dan hak mereka. Terutama larangan mengganggu orang lain melalui lisan dan tangan. Lisan dapat menyakiti hati melalui perkataan, celaan, maupun ucapan yang merendahkan orang lain. Pada sekarang ini, gangguan melalui lisan juga diwujudkan melalui tulisan dan komentar di media sosial.
“Kalau mulut kan suara kalau nggak direkam cepat hilang, cuma bekasnya di hati masih ada. Kalau lidah itu lebih tajam dari berdang. Kalau berdang melukai tubuh tapi nanti tubuh yang luka juga bisa sembuh. Tapi kalau lisan sudah melukai hati, dia sembuhnya lama,” lanjutnya
Sebagai Mukmin juga dituntut untuk membuat orang lain merasa aman dari gangguan terhadap harta dan jiwanya. Hal tersebut menjadi salah satu ukuran bahwa keimanan tidak berhenti pada keyakinan, tetapi menghasilkan perilaku yang memberikan ketenangan kepada sesama. Dengan demikian, keberadaan seorang Mukmin seharusnya tidak menjadi sumber keresahan bagi orang-orang yang hidup dan berhubungan dengannya.
Islam juga berkaitan dengan keselamatan, sehingga seorang Muslim hendaknya menjadi orang yang mampu menyelamatkan orang lain dari gangguan lisan dan tangannya. Tangan tidak hanya bermakna tindakan fisik, tetapi juga dapat berkaitan dengan mengambil atau mengganggu hak orang lain. Karena itu, pengakuan sebagai seorang Muslim seharusnya terlihat dari perilaku yang membuat orang lain merasa aman.
Ibadah yang dilakukan seorang Muslim seharusnya menghasilkan perubahan dalam perilaku. Syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi harus memiliki dampak terhadap hubungan seseorang dengan sesama. Begitu pula iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, dan takdir seharusnya membentuk pribadi yang lebih berhati-hati, tenang, optimis, dan berakhlak baik.
Menjaga lisan dan tangan juga perlu diterapkan dalam lingkungan terdekat, termasuk keluarga, tetangga, dan tempat kerja. Seseorang tidak cukup terlihat baik ketika berada di masjid atau ketika menyampaikan ceramah, tetapi harus mampu menjaga perilakunya ketika kembali ke kehidupan sehari-hari. Ukuran tersebut dapat dilihat dari apakah orang-orang yang berada di sekitarnya merasa damai dan nyaman dengan keberadaannya.
"Jalan menyakiti ini tentu bukan hanya dengan tangan, tapi dengan mulut juga. Bahkan yang mengerikan itu menyakiti dengan mulut. Karena mulut ini, ya kalau sekarang mungkin bukan cuma mulut ya, tapi tangan melalui mencet-mencet di media social,” tegasnya.
Dalam kehidupan bertetangga, seorang Muslim juga dianjurkan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Jika ada tetangga yang mengganggu, seseorang tetap dapat memilih untuk bersikap baik dan menyelesaikan persoalan melalui cara yang tepat. Bahkan, masalah yang muncul dapat menjadi bahan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri tanpa harus larut dalam permusuhan.
Memberikan nasihat kepada orang lain juga dilakukan dengan memperhatikan kondisi, waktu, kemampuan, dan cara penyampaiannya. Niat untuk mengajak kepada kebaikan memang penting, tetapi penyampaian yang tidak tepat dapat membuat nasihat dianggap sebagai sikap menghakimi atau julid. Karena itu, seseorang perlu memahami keadaan orang yang dinasihati dan menggunakan kata-kata yang lembut serta merendah.
Baik Mukmin dan Muslim bukan hanya persoalan identitas, tetapi juga tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Menjaga agar orang-orang di sekitarnya tidak terganggu hartanya, jiwanya, maupun kehormatannya, maka seorang Muslim harus menjaga lisan dan tangan untuk tidak menyakiti, hingga iman dan Islam dapat terlihat nyata melalui akhlak yang memberikan rasa aman, ketenangan, dan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. (Fattah Zakaria)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....