Bertahannya Pande Besi: Tradisi Kerajinan Besi Desa Pasir Wetan Banyumas

  • 22 Agt 2026 08:22 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Desa Pasir Wetan yang terletak di Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, dikenal luas sebagai kawasan dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya yang bersandar pada industri olah besi, khususnya jasa las dan kerajinan tempa. Disini Wahyu Tempa salah satu bengkel pande besi tradisional yang berlokasi strategis di RT 02/RW 01, Desa Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Dentuman palu dan percikan api las telah lama menjadi denyut nadi perekonomian lokal yang menggerakkan kehidupan warga sehari-hari. Keahlian mengolah logam di desa ini diwariskan secara turun-temurun seperti usaha Wahyu Tempa yang dimiliki Haryono (43) dan ayahnya Wahyudi (60) telah berdiri sejak 1980-an. Hal ini menjadikan tradisi pertukangan besi sebagai identitas mata pencaharian utama warga setempat.

"Mesin-mesin besar sanggup membuat ribuan pisau dalam sehari mas, tapi kualitas dan kepadatannya tidak bisa menyamai hasil tempaan tangan langsung," ungkap Haryono, saat ditemui RRI, Jum'at (21/8/2026).

Di tengah kepungan barang-barang pabrikan yang murah, bengkel tempa lokal seperti Wahyu Tempa ini memilih bertahan sebagai pengrajin, bukan produsen massal. Pengelola bengkel memegang teguh prinsip kualitas di atas kuantitas dengan menghasilkan produk yang jauh lebih padat dan tajam dibandingkan hasil cetakan industri. Pendekatan ini membuat produk tempa dari desa ini memiliki tempat tersendiri di hati para pelanggan yang mengutamakan daya tahan.

Kemandirian ekonomi warga desa juga tercermin dari keteguhan mereka dalam menjaga keadilan berniaga. Banyak tawaran kerja sama skala besar yang menuntut produksi massal murah tanpa jaminan pembayaran memadai ditolak demi mempertahankan idealisme usaha. Selain melayani pembuatan alat-alat umum, ketrampilan tangan pengrajin di Desa Pasir bahkan sanggup memenuhi pesanan kustom berkerumitan tinggi dari para kolektor.

"Dari perusahaan industri sering meminta harga murah mas, tapi untuk dijual kembali dengan sangat mahal, belum lagi tanpa adanya uang muka (DP) atau pembayaran di akhir. Makanya saya lebih fokus ke pelanggan petani atau pedagang kecil," ujar Haryono

Modernisasi pun diterapkan secara bijak tanpa menghilangkan esensi keahlian tradisional pengrajin. Penggunaan alat pendukung seperti mesin penempa listrik sejak tahun 2020 membantu mereduksi beban fisik para pekerja yang sebelumnya dilakukan 4 orang. Meski demikian, insting manusia dalam membaca suhu api dan membentuk pola saat logam membara tetap menjadi penentu utama kualitas akhir produk.

Tahapan produksi dilakukan secara presisi mulai dari pemotongan besi batangan, pembakaran pada tungku ber-blower, hingga tahap penempaan awal dan manual. Proses pembuatan diakhiri dengan tahap finishing menggunakan gerinda dan kikir manual untuk memastikan ketajaman bilah. Keahlian empiris ini bahkan kerap menarik perhatian civitas akademika untuk menjadikannya sebagai objek penelitian lintas disiplin.

Diferensiasi pasar yang sehat juga tercipta antar sesama pelaku usaha besi di lingkungan desa. Persaingan tidak sehat dapat dihindari karena masing-masing bengkel memiliki ceruk pelanggan tersendiri serta menyediakan layanan purna jual seperti jasa reparasi alat. Pendekatan ini menawarkan keberlanjutan fungsi produk di tengah budaya konsumtif barang sekali pakai.

Sebagai langkah perbaikan berkala, saat ini tempat usaha pengolahan besi di desa tersebut sedang mengalami proses renovasi fisik fasilitas bangunan. Pembenahan infrastruktur tempat kerja ini difokuskan untuk meningkatkan standar keselamatan serta kenyamanan area operasional. Langkah pembaruan ini menjadi komitmen pemilik usaha dalam menjaga keberlangsungan produksi di segala kondisi cuaca.

Pembaruan tempat usaha ini menegaskan optimisme para pengrajin besi di Desa Pasir Wetan dalam menatap masa depan industri kerajinan logam lokal. Renovasi yang dilakukan tidak hanya melindungi peralatan dan keselamatan pekerja, tetapi juga menjamin kelancaran pesanan para pelanggan tanpa terkendala musim. Dedikasi masyarakat Desa Pasir Wetan membuktikan bahwa tradisi olah besi tradisional akan terus berdiri kokoh dan relevan melintasi zaman. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....