Opini Ageng Widodo MA: Merdeka untuk Siapa?

  • 22 Agt 2026 21:16 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto-Bulan Agustus selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Jalan-jalan dihiasi bendera Merah Putih, berbagai perlombaan digelar, dan semangat memperingati kemerdekaan Republik Indonesia terasa di berbagai penjuru negeri.

Namun, di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: merdeka untuk siapa?

Kemerdekaan selama ini sering dipahami sebagai pembebasan dari penjajahan. Sebuah bangsa dinyatakan merdeka ketika terbebas dari kekuasaan bangsa lain. Tetapi, apakah kemerdekaan cukup dimaknai sebatas itu?

Dalam kehidupan sehari-hari, kemerdekaan juga berarti terbebas dari ketidakberdayaan, diskriminasi, ketidakadilan, serta bentuk-bentuk kekuasaan yang membuat individu maupun kelompok masyarakat kehilangan ruang untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Di sinilah relasi antara kekuasaan dan masyarakat menjadi penting untuk diperbincangkan.

Pada dasarnya, kekuasaan hadir untuk mengatur kehidupan bersama, menciptakan keteraturan, meningkatkan kesejahteraan dan memastikan keadilan. Namun, kekuasaan dapat kehilangan maknanya ketika berubah menjadi alat dominasi. Masyarakat tidak lagi ditempatkan sebagai subjek, melainkan sekadar objek dari kebijakan.

Ketika suara masyarakat tidak didengar, ketika kelompok tertentu terus berada di posisi yang lemah, dan ketika akses terhadap pendidikan, ekonomi maupun pengambilan keputusan tidak tersedia secara adil, maka pertanyaan tentang makna kemerdekaan menjadi relevan kembali.

Sebab, penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik.

Ia dapat hadir dalam bentuk ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi dan ketidakberdayaan. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, ketidakberdayaan tersebut terkadang diterima sebagai sesuatu yang biasa. Masyarakat terbiasa menunggu bantuan, terbiasa menjadi penerima program dan akhirnya kehilangan keberanian untuk menentukan masa depannya sendiri.

Karena itu, pemberdayaan masyarakat seharusnya menjadi bagian penting dalam mengisi kemerdekaan.

Pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan. Bukan pula sekadar menjalankan program dengan anggaran tertentu. Pemberdayaan harus mampu mengubah posisi masyarakat dari objek menjadi subjek.

Dari sekadar menunggu program menjadi mampu merancang program. Dari hanya menerima keputusan menjadi turut menentukan keputusan. Dari posisi yang dieksploitasi menjadi memiliki power untuk memperjuangkan kepentingannya.

Ukuran keberhasilan pembangunan dengan demikian tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak program yang telah dilaksanakan atau berapa besar anggaran yang telah diserap.

Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: apakah masyarakat memiliki kemampuan untuk menentukan kehidupannya sendiri? Apakah mereka memiliki kesempatan yang adil? Apakah mereka memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan kritik?

Kemerdekaan akan terasa lebih nyata ketika petani memiliki posisi tawar terhadap hasil produksinya. Ketika perempuan memiliki ruang yang setara dalam mengambil keputusan. Ketika masyarakat miskin memperoleh akses terhadap pendidikan dan kesempatan ekonomi. Dan ketika setiap warga dapat menyampaikan kritik tanpa takut kehilangan hak-haknya sebagai warga negara.

Pada titik inilah kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera maupun slogan-slogan nasionalisme.

Kemerdekaan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Momentum Agustus semestinya menjadi kesempatan untuk bercermin. Apakah pembangunan yang kita lakukan sudah benar-benar memberdayakan masyarakat? Apakah kekuasaan telah digunakan untuk menghadirkan kesejahteraan dan keadilan? Ataukah masih ada kelompok masyarakat yang hanya menjadi objek dari berbagai kebijakan?

Mengisi kemerdekaan berarti memastikan tidak ada masyarakat yang ditinggalkan. Tidak ada kelompok yang terus-menerus ditempatkan sebagai objek. Dan tidak ada kekuasaan yang berjalan tanpa kritik serta kontrol publik.

Sebab, kemerdekaan sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan.

Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga memiliki daya, kesempatan, martabat dan keberanian untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Maka, di bulan kemerdekaan ini, mari kita kembali bertanya: sudahkah kita benar-benar merdeka? (Ageng Widodo M.A)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....