Arsitektur , Dari Garis Menjadi Cerita: Bagaimana Bentuk Menjadi Makna

  • 17 Agt 2026 17:24 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Seni, sastra, arsitektur berbeda medium, tapi sama-sama berangkat dari garis dan sama-sama mencari makna. "Dari garis menjadi cerita" mengingatkan kita, jangan takut memulai. Karena makna tidak datang di awal tetapi dibentuk, digores, ditulis, dan dibangun.

Arsitektur bukan hanya sekadar berbicara tentang bentuk bangunan yang indah, tetapi juga menyimpan cerita, filosofi, serta nilai budaya di dalamnya. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto, yang menghadirkan dua mahasiswa Arsitektur Universitas Wijayakusuma (Unwiku) Purwokerto, W. Dimas Satriyo dan Triyono, pada Minggu 16 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Dari Garis Menjadi Cerita, Karya Seni, Sastra dan Arsitektur”, perbincangan tersebut mengulas keterkaitan antara garis, seni, sastra, filosofi, dan arsitektur. Keduanya menjelaskan bahwa kemampuan menggambar memang menjadi bagian dari proses belajar arsitektur, tetapi bukan berarti mahasiswa arsitektur harus sejak awal mahir menggambar.

Dimas sendiri mengatakan, kemampuan menggambar lebih tepat dipandang sebagai salah satu modal dalam mempelajari arsitektur. Menurutnya, mahasiswa tetap dapat berkembang meskipun tidak memiliki kemampuan menggambar yang sangat baik sejak awal.

“Tidak harus jago gambar. Kalau bisa gambar itu menjadi nilai plus, tetapi yang penting memahami teknik dan prosesnya,” ujar Dimas.

Sementara itu, Triyono menambahkan bahwa kemampuan menggambar merupakan bonus yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan gagasan. Dalam proses perkuliahan, mahasiswa mempelajari tahapan mulai dari konsep, sketsa, gambar dua dimensi hingga mengembangkannya menjadi bentuk tiga dimensi. Menurut Dimas, garis menjadi salah satu dasar penting dalam arsitektur. Dari sebuah garis, mahasiswa dapat mengembangkan bentuk menjadi denah, fasad, hingga komposisi ruang dan material.

Salah satu karya yang dibawa dalam program tersebut adalah tugas rupa dasar. Karya itu menunjukkan bagaimana sebuah garis dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk geometris melalui perubahan ukuran, jarak, dan komposisi. Bentuk dua dimensi tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi karya tiga dimensi.

Triyono juga memperkenalkan sebuah maket kawasan yang menjadi salah satu hasil tugas perkuliahannya. Maket tersebut menggambarkan kawasan dengan sejumlah fungsi, mulai dari area penerimaan, edukasi, hingga penginapan.

Setiap penempatan ruang memiliki pertimbangan tersendiri. Area penginapan, misalnya, ditempatkan di bagian yang lebih tenang agar pengunjung dapat merasakan suasana yang nyaman. Sementara area edukasi dirancang lebih komunal karena digunakan untuk berbagai aktivitas bersama.

Bagi mahasiswa arsitektur, maket bukan sekadar miniatur bangunan. Maket menjadi media untuk menyampaikan gagasan kepada dosen maupun calon klien. Melalui bentuk tiga dimensi, sebuah konsep dapat lebih mudah dipahami dibandingkan hanya melalui gambar teknis.

Pembahasan juga mengarah pada kekayaan arsitektur Nusantara. Dimas menilai Indonesia memiliki keragaman arsitektur yang sangat besar karena setiap daerah dan suku memiliki karakter serta nilai budaya masing-masing. Ia mencontohkan bagaimana unsur budaya dapat diterapkan dalam karya arsitektur modern.

Salah satunya terlihat pada penggunaan bentuk gunungan wayang sebagai elemen dalam sebuah rancangan. Bentuk tersebut tidak hanya menjadi ornamen, tetapi dapat memiliki fungsi tertentu, seperti menjadi bagian dari kolam.

Menurutnya, filosofi menjadi salah satu titik awal dalam merancang sebuah bangunan. Konsep metafora juga dapat digunakan dengan mengambil inspirasi dari bentuk alam, benda, maupun simbol budaya untuk menghasilkan karakter tertentu pada bangunan.

Dimas menilai arsitektur memiliki hubungan erat dengan seni dan sastra. Jika sastra dapat menyampaikan cerita melalui kata-kata, arsitektur dapat menyampaikan cerita melalui ruang, bentuk, cahaya, material, dan pengalaman yang dirasakan manusia ketika berada di dalamnya.

Dalam kesempatan tersebut, keduanya juga menyoroti peluang arsitektur tradisional untuk kembali hadir di masa depan. Tren arsitektur modern yang cenderung minimalis dinilai muncul sebagai respons terhadap kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Namun, nilai-nilai tradisional tetap dapat dipertahankan dengan mengemasnya sesuai kebutuhan masa kini.

Menutup perbincangan, Triyono menyampaikan bahwa bangunan tidak hanya sekadar berdiri, tetapi menyimpan cerita di dalamnya. Sementara Dimas mengajak generasi muda untuk terus belajar dan berkontribusi melalui bidang arsitektur.

“Jadilah mata air yang jernih, yang memberikan kehidupan bagi sekitarmu,” ujar Dimas, mengutip pesan yang selama ini dipegangnya. (Safira)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....