Bertahun-tahun di Balik Mikrofon, Penyiar Radio Mitra Bagikan Suka Duka Siaran

  • 12 Sep 2026 13:20 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Menjadi penyiar radio tidak hanya tentang kemampuan berbicara di depan mikrofon. Di balik suara yang setiap hari menemani pendengar, terdapat proses panjang yang diwarnai pengalaman, penyesuaian diri, hingga berbagai situasi yang tidak selalu dapat diprediksi. Hal tersebut turut dirasakan oleh para penyiar yang telah bertahun-tahun berkecimpung di dunia broadcasting.

Cerita mengenai perjalanan dan pengalaman menjadi penyiar radio dibagikan Emily dan Sandy dari Radio Mitra Media dalam program Special Talk Pro 2 RRI Purwokerto “Radio Day with Radio Crew”, Kamis (10/9/2026). Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian obrolan menjelang peringatan Hari Radio pada 11 September.

Keduanya memiliki perjalanan yang berbeda sebelum akhirnya menjadi bagian dari Radio Mitra Media. Sandy mengawali ketertarikannya terhadap radio dari pertimbangan mengenai karakter pekerjaannya. Ia mengaku sebagai pribadi yang cenderung introvert dan sempat mencoba pekerjaan yang menuntut banyak interaksi dengan orang lain.

“Kalau aku sebenarnya kan anaknya introvert banget. Pernah beberapa coba kerja di tempat yang intinya berhubungan dengan banyak orang. Bisa, tapi ternyata capeknya capek banget gitu kan. Setelah dipikir-pikir radio kan ga terlalu berinteraksi dengan banyak orang ‘tadinya’ karena mikirnya cuma siaran” ujar Sandi.

Menurut Sandi, anggapan bahwa bekerja di radio hanya berhadapan dengan sedikit orang ternyata tidak sepenuhnya benar. Seorang penyiar tetap harus berinteraksi dengan narasumber dan terlibat dalam berbagai kegiatan di luar studio.

Meski demikian, ia menilai dunia radio tetap memiliki ruang yang sesuai dengan dirinya. Interaksi dengan banyak orang memang tetap ada, tetapi frekuensinya dirasakan tidak sebanyak pekerjaan lain yang pernah dijalaninya.

Sementara itu, Emily justru memiliki ketertarikan terhadap radio sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi Emily, radio bukan sekadar profesi yang baru dikenalnya ketika dewasa. Ketertarikan tersebut telah tumbuh sejak dirinya menjadi pendengar radio. Ia bahkan terbiasa menggunakan radio portable dan mengirimkan salam melalui wartel ketika masih duduk di bangku sekolah.

“Jadi ke wartel cuma modal 500 perak ya, terus telfon kaya say hi buat siapa, kenalan sama siapa, gitu kan,” ungkap Emily.

Ketertarikannya semakin berkembang ketika memasuki dunia perkuliahan. Emily bergabung dengan divisi radio di kampus hingga kemudian memperoleh informasi mengenai kesempatan bekerja di sebuah radio. Kesempatan tersebut menjadi salah satu pintu yang membawanya semakin jauh menekuni dunia penyiaran.

Perjalanan panjang tersebut kemudian mempertemukan Sandy dan Emily dengan berbagai pengalaman selama menjadi penyiar.

Salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan penyiar adalah berinteraksi dengan narasumber. Setiap narasumber memiliki karakter dan cara berkomunikasi yang berbeda. Kondisi tersebut membuat penyiar harus mampu menyesuaikan alur percakapan agar pembahasan tetap berjalan.

“Aku kan termasuknya yang kalau misalnya ketemu sama orang baru kan agak susah beradaptasi ya. Harus mengeluarkan banyak energi lah. Nah itu tuh aku ngomong sedikit, dia ngomongnya panjang banget. Itu kan ketolong banget ya,” ujar Sandi.

Bagi Sandi, bertemu dengan narasumber yang komunikatif justru dapat membantu dirinya dalam menjalankan siaran. Sebagai orang yang membutuhkan energi lebih ketika beradaptasi dengan orang baru, narasumber yang mampu bercerita panjang membuat proses wawancara terasa lebih ringan.

Sebaliknya, tantangan muncul ketika narasumber memberikan jawaban yang singkat dan minim informasi. Dalam kondisi tersebut, penyiar harus kembali mencari pertanyaan lain agar percakapan tidak berhenti.

Pengalaman sebagai penyiar juga tidak hanya berlangsung di dalam ruang siar. Emily dan Sandy turut merasakan berbagai kegiatan off air yang mempertemukan mereka secara langsung dengan masyarakat maupun pendengar

Bagi Sandy, salah satu pengalaman yang cukup berkesan adalah ketika dirinya mengikuti kegiatan di luar studio, termasuk kegiatan yang melibatkan kunjungan ke sejumlah posyandu dan acara dengan panggung. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang berbeda karena dirinya lebih sering menjalankan aktivitas sebagai penyiar dari balik mikrofon.

Sementara itu, Emily menikmati kegiatan off air karena kesempatan tersebut membuatnya dapat bertemu langsung dengan pendengar. Salah satu kegiatan yang menurutnya menyenangkan adalah ketika terlibat dalam acara nonton bareng maupun kegiatan yang mempertemukan penyiar dengan audiens secara langsung.

“Kalau aku sih lebih suka kalau misalkan ada off air, kayak nonton bareng film atau apa gitu ya. Terus ketemu sama orang-orang yang mungkin selama ini cuma dengerin kita, jadi bisa ketemu langsung,” jelas Emily.

Menurut Emily, kegiatan di luar studio memang membutuhkan tenaga lebih karena penyiar harus berhadapan langsung dengan banyak orang. Namun, pengalaman tersebut justru memberikan suasana berbeda dibandingkan ketika hanya berinteraksi melalui siaran.

Selain narasumber, pendengar menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang penyiar. Interaksi yang terbangun dapat memberikan pengalaman menyenangkan, tetapi pada situasi tertentu juga menghadirkan tantangan tersendiri.

“Ada aja pendengar yang nyebelin, ngatur banget. Kadang-kadang mereka kan minta nomer gitu ya,” ungkap Sandy.

Berbagai karakter pendengar membuat penyiar perlu memahami batasan dalam membangun hubungan dengan audiens. Kedekatan dengan pendengar memang menjadi salah satu kekuatan radio, tetapi tetap diperlukan batas yang sehat agar interaksi tidak mengganggu kehidupan pribadi penyiar.

Di sisi lain, pengalaman positif dari pendengar tetap menjadi salah satu hal yang membuat profesi penyiar terasa menyenangkan. Sapaan, dukungan, hingga kiriman makanan menjadi bentuk perhatian yang dapat memberikan kesan tersendiri bagi penyiar.

Bagi penyiar, respons pendengar menjadi tanda bahwa keberadaan mereka di balik mikrofon tetap memiliki arti. Interaksi tersebut juga menunjukkan bahwa radio tidak hanya bekerja melalui suara, tetapi membangun hubungan dengan audiens yang mendengarkan.

Adapun di tengah perkembangan teknologi, keberadaan radio menghadapi tantangan baru. Perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin dekat dengan gawai dan platform digital membuat industri radio perlu ikut menyesuaikan diri.

Perubahan tersebut membuat konsep konsumsi radio turut berkembang. Pendengar tidak lagi hanya mendengarkan suara penyiar, tetapi dapat menyaksikan aktivitas penyiar ketika siaran berlangsung.

“Dengan adanya kemajuan teknologi sekarang, itu tetap aja kita masih bisa siaran, tapi mungkin dengan cara ya tetap ngikutin zaman. Karena sekarang udah apa-apa serba digital dan nggak menutup kemungkinan, kita juga sekarang siarannya pun digital, kayak sekarang deh YouTube, iya, TikTok, iya,” jelas Emily.

Sandy menambahkan bahwa radio sebenarnya telah mulai beradaptasi dengan perkembangan digital. Aktivitas siaran melalui TikTok maupun platform streaming menjadi salah satu bentuk penyesuaian yang dilakukan.

Menurutnya pendengar radio konvensional masih tetap ada. Ia masih menemukan pendengar yang menggunakan perangkat radio untuk mengikuti siaran dan bahkan menyampaikan permintaan lagu tanpa melalui platform digital.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak serta-merta menghilangkan keberadaan radio konvensional. Sebaliknya, radio memiliki karakter tersendiri yang membuat pengalaman mendengarkan siaran berbeda dengan membuat daftar putar musik melalui handphone.

Bagi keduanya, keberadaan radio di tengah perkembangan digital bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Radio justru menemukan cara baru untuk mempertahankan karakter sekaligus memperluas jangkauan melalui teknologi.

Menjelang Hari Radio yang diperingati setiap 11 September, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dunia radio terus berkembang bersama zaman. Suara yang sebelumnya hanya hadir melalui perangkat radio kini dapat menjangkau masyarakat melalui berbagai platform digital.

Bagi Sandi, radio masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Sementara Emily melihat radio sebagai sesuatu yang tetap melekat dalam perjalanan hidupnya sejak kecil hingga kini menjadi bagian dari profesinya.

Melalui pengalaman Emily dan Sandi, kehidupan seorang penyiar memperlihatkan bahwa suara yang terdengar sederhana dari radio ternyata menyimpan cerita panjang di baliknya. Ada proses belajar, tantangan, kejutan, hingga pengalaman yang membuat profesi tersebut tetap memiliki warna tersendiri. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....