Mengungkap Kisah di Balik Novel “Gang Damai”
- 07 Sep 2026 16:29 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Dunia literasi tidak selalu lahir dari gagasan yang besar dan rumit. Terkadang, cerita justru tumbuh dari hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi dengan tetangga, percakapan keluarga, hingga kebiasaan orang-orang di sekitar dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan sebuah karya sastra.
Hal tersebut tergambar dalam proses lahirnya novel Gang Damai karya Adenisa Ramadhani Putri. Novel tersebut menjadi karya perdana Adenisa yang kemudian dikembangkan melalui program inkubasi penulis Banyumas Internation Literacy Festival. Gang Damai mengangkat kehidupan bertetangga dengan pendekatan yang ringan, tetapi tetap menyelipkan sejumlah isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Cerita mengenai proses lahirnya novel tersebut dibahas dalam program Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto yang membahas Cerita di Balik Novel “Gang Damai” pada Minggu, 6 September 2026. Dalam program tersebut, Adenisa Ramadhani Putri hadir sebagai penulis novel Gang
Damai, bersama Rahmi Wijaya selaku founder Banyumas Internation Literacy Festival (Buildfest) untuk membicarakan proses kreatif, pengalaman mengikuti inkubasi penulis, hingga pesan yang ingin disampaikan melalui novel tersebut.
Bagi Adenisa, ide untuk menulis Gang Damai muncul ketika ia mengetahui adanya program inkubasi penulis Banyumas. Setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan cerita, ia memilih mengangkat berbagai kemungkinan cerita, ia memilih mengangkat sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni kehidupan bertetangga.
Adenisa mengatakan dirinya ingin membuat cerita yang tidak terlalu berat untuk ditulis, tetapi tetap memiliki makna. Kehidupan bertetangga kemudian dipilih karena memiliki banyak dinamika yang sebenarnya dekat dengan masyarakat.
“Karena saat itu tuh lagi mikir nih, apa ya, nulis apa ya yang kerasa dekat sama kita tapi enggak pusing, maksudnya enggak berat-berat banget,” ujar Adenisa dalam siaran tersebut.
Pilihan tersebut membuat Gang Damai tidak hanya menjadi cerita mengenai kehidupan sehari-haro, tetapi juga ruang bagi Adenisa untuk memasukkan berbagai persoalan yang lebih serius. Menariknya, persoalan tersebut tidak disampaikan dengan gaya bahasa yang berat.
Menurut Rahmi, salah satu daya Tarik karya tersebut justru terletak pada cara Adenisa mengemas isu yang cukup kompleks melalui kehidupan bertetangga. Novel tersebut menyentuh isu seperti childfree dan vasektomi, tetapi dikemasi melalui dialog serta narasi yang ringan sehingga lebih mudah diterima pembaca muda.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena sasaran pembaca Gang Damai berada pada kelonpok pembaca muda, termasuk pelajar dan pembaca seusia Adenisa. Dengan bahasa yang lebih sederhana, isu yang mungkin terasa berat dapat diperkenalkan secara perlahan kepada pembaca.
Inspirasi Gang Damai juga tidak sepenuhnya berasal dari imajinasi. Adenisa mengakui bahwa pengalaman pribadi ikut memengaruhi proses penulisan. Salah satunya berasal dari percakapan dan kebiasaan yang terjadi di lingkungan keluarganya.
Salah satu contoh yang kemudian masuk ke dalam bagian awal novel berisi dari candaan ayahnya. Adenisa menceritakan bagaimana sang ayah sering melontarkan celetukan spontan yang justru dapat dikembangkan menjadi bagian dari cerita.
Hal tersebut menunjukkan bahwa inspirasi menulis sebenarnya dapat muncul dari berbagai hal sederhana. Percakapan yang terdengar sepele, kebiasaan keluarga, maupun kejadian yang dijumpai sehari-hari dapat menjadi bahan untuk membangun cerita.
Selain pengalaman keluarga, kehidu[an bertetangga juga menjadi sumber utama cerita. Bagi Adenisa, hubungan antartetangga memiliki banyak karakter dan situasi yang dapat dikembangkan menjadi cerita yang dekat dengan pembaca.
Dengan demikian, Gang Damai berangkat dari sesuatu yang familiar. Pembaca tidak harus terlebih dahulu memahami konsep sastra atau isu sosial tertentu untuk menikmati ceritanya karena kehidupan bertetangga menjadi pintu masuk untuk mengenali persoalan yang lebih luas.
Sebelum menjadi sebuah novel, Gang Damai terlebih dahulu melewati proses seleksi dalam program inkubasi penulis Banyumas. Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian Banyumas International Literacy Festival dan menjadi ruang bagi penulis untuk mengembangkan karya mereka. Dalam prosesnya, peserta terlebih dahulu diminta mengajukan proposal karya. Proposal tersebut kemudian dikurasi untuk melihat gagasan, calon pembaca, serta arah karya yang akan dikembangkan.
Rahmi menjelaskan bahwa proposal menjadi bagian penting karena penyelenggara ingin melihat apakah penulis memahami karya yang hendak dibuat, termasuk siapa calon pembacanya.
”Kadang-kadang penulis itu punya gagasan tapi enggak punya calon pembaca,” jelas Rahmi. Karena itu, penulis perlu memahami siapa yang akan membaca karya tersebut dan bagaimana karya itu dapat diterima oleh masyarakat.
Pada proses seleksi tersebut, terdapat sekitar 36 proposal yang masuk. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 proposal lolos tahap awal, sebelum akhirnya 13 karya dipilih untuk diterbitkan. Para peserta kemudian mendapat tantangan untuk menyelesaikan naskah sesuai dengan proposal yang telah diajukan.
Program tersebut tidak hanya memberikan ruang bagi penulis untuk menghasilkan ruang bagi penulis untuk menghasilkan karya, tetapi juga membantu mereka untuk memahami bahwa sebuah buku memiliki ekosistem yang lebih luas. Sebuah karya sastra tidak hanya perlu selesai ditulis, tetapi juga perlu memiliki pembaca dan dapat diterima oleh masyarakat.
Bagi Adenisa, mengikuti inkubasi penulis memberikan pengalaman baru yang sebeumnya belum pernah ia dapatkan. Ia mengaku sudah senang menulis sejak kecil, seperti menulis puisi dan cerita, tetapi karya-karya tersebut lebih sering disimpan sendiri atau hanya dibuat untuk memenuhi tugas kuliah. Karena itu, Gang Damai menjadi langkah penting karena merupakan karya pertama yang benar-benar ia kembangkan hingga diterbitkan.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah bertemu dengan penulis-penulis lain dalam program tersebut. Selain mendapatkan lingkungan baru, Adenisa juga memperoleh editor yang membantu mengembangkan isi novelnya. Dalam proses penyuntingan, Adenisa mendapat masukan untuk memasukkan isu-isu yang sedang ramai dibicarakan, seperti vasektomi dan childfree. Ia kemudian diminta melakukan riset sebelum memasukkan isu tersebut ke dalam cerita.
Proses tersebut sempat membuatya harus mengubah sebagian isi naskah. Namun, setelah melewatinya, Adenisa menyadari bahwa keberadaan editor justru membantu membuat karyanya berkembang.
“Kalau enggak ada editor ini dan juga enggak ada usulan-usulan itu, kayanya aku enggak bakal berkembang gitu dan stuck di situ-situ aja,” ungkapnya.
Masukan tersebut menunjukkan bahwa proses kreatif dalam menulis tidak selalu berjalan lurus. Sebuah karya dapat mengalami perubahan berkali-kali sebelum mencapai bentuk akhirnya. Bagi Adenisa, proses revisi yang sempat melelahkan justru menjadi bagian penting dalam penyempurnaan Gang Damai.
Menyelesaikan sebuah novel bukan perkara mudah, terlebih ketika penulis harus menjalani aktivitas lainnya. Adenisa sendiri saat mengikuti program tersebut masih berstatus sebagai mahasisiwa dan aktif dalam berbagai kegiataj organisasi. Kesibukan tersebut menjadi salah satu tantangan selama proses penulisan. Di satu sisi, ia harus menyelesaikan tanggung jawab perkuliahan dan organisasi, sementara di sisi lain terdapat tenggat waktu untuk menyelesaikan naskah.
Rasa lelah bahkan muncul berkali-kali selama proses penulisan. Adenisa mengaku mengalami burnout dan beberapa kali membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya agar dapat kembali melanjutkan karya.
Dukungan tersebut datang dari teman dan keluarga. Ketika merasa lelah, ia mencoba mencari cara untuk mengembalikan semangat, termasuk menonton film yang menghibur dan meminta saran kepada orang terdekat.
Baginya, dukungan dari lingkungan menjadi salah satu alasan mengapa ia mampu menyelesaikan novel tersebut. Ia juga tidak selalu menulis dalam waktu khusus. Inspirasi dapat muncul kapan saja, termasuk ketika sedang berada di perjalanan atau melihat kejadian tertentu di jalan. Karena itu, Adenisa memilih mencatat ide yang muncul agar tidak terlupakan. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu cara untuk mengumpulkan bahan cerita dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang menjadi ciri dari novel Gang Damai adalah cara novel tersebut menyampaikan isu yang cukup serius melalui cerita yang ringan. Adenisa sengaja menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal agar pembaca dapat mengikuti cerita dengan lebih mudah.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan keinginannya untuk membuat pembaca merasa dekat dengan cerita. Persoalan yang dibicarakan tiddak disampaikan seperti sebuah pembahasan akademis, tetapi melalui percakapan dan dinamika kehidupan bertetangga.
Menurut Rahmi, pendekatan semacam itu dapat menjadi cara untuk memperkenalkan isu kepada pembaca yang mungkin masih awam. Isu yang berat tidak harus selalu dijelaskan menggunakan istilah yang kompleks. Cerita yang sederhana justeu dapat menjadi suatu persoalan yang lebih jauh.
Dengan cara tersebut, sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Cerita juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan berbagai persoalan sosial kepaya masyarakat, terutama pembaca muda.
Di balik lahirnya Gang Damai, terdapat pula cerita mengenai berkembangnya ruang literasi bagi penulis-penulis baru di Banyumas. Program inkubasi tersebut memberikan kedempatan bagi mahasiswa maupun masyarakat dari berbagai usia untuk mengembangkan karya. Rahmi menyebutkan bahwa program tersebut tidak membatasi usia peserta. Siapa pun dapat mengikuti inkubasi selama memiliki gagasan dan kemauan untuk mengembangkan karya.
Antusiasme terhadap program tersebut juga menunjukkan adanya pertumbuha minat terhadap kegiatan literasi. Dalam siaran tersebut disebutkan jumlah proposal meningkat dari sekitar 36 pada tahun sebelumnya menjadi sekitar 42 pada tahun berikutnya.
Perkembangan tersebut tidak hanya dilihat dari jumlah peserta. Terbitnya buku-buku baru juga dapat mendorong penulis lain untuk ikut mencoba. Ketika seseorang berhasil menerbitkan karya, pengalaman tersebut dapat menjadi motivasi bagi orang lain untuk melakukan hal serupa.
Hal tersebut sejalan dengan semangat program literasi yang ingin membuka ruang bagi lahirnya penulis baru. Dalam informasi resmi BILF, karya Gang Damai juga tercatat sebagai salah satu buku yang termasuk dalam rangkaian karya penerima Ahmad Tohari Awards.
Kisah di balik Gang Damai pada akhirnya tidak hanya bercerita tentang bagaimana sebuah novel ditulis. Proses tersebut juga menunjukkan bagaimana seorang penulis belajar mengamati lingkungan, menemukan gagasan, melakukan riset, menerima kritik, hingga menyelesaikan karya.
Rahmi mengingatkan calon penulis agar terlebih dahulu memiliki niat untuk belajar dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Menurutnya, banyak hal yang dianggap sederhana sebenarnya dapat menjadi bahan cerita.
“Barangkali resep masakan ibumu bisa jadi buku. Barangkali asbunnya bapak, asbunnya teman, itu bisa jadi ide untuk buku, ujar Rahmi.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti dari perjalanan Gang Damai. Cerita tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kehidupan sehari-hari dapat menjadi sumber inspirasi ketika seseorang mau memperhatikan dan mengarsipkan pengalaman yang ditemuinya.
Bagi Adenisa, Gang Damai juga bukan akhir dari perjalanan menulis. Ia berharap dapat kembali menghasilkan karya berikutnya dan bahkan mengembangkan cerita lain yang masih berkaitan dengan kehidupan di lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, Gang Damai memperlihatkan bahwa sebuah karya sastra dapat lahir dari sesuatu yang sederhana, yaitu kehidupan bertetangga, percakapan keluarga, pengalaman sehari-hari, serta keberanian untuk mencoba. Dari sebuah gagasan yang awalnya hanya terasa dekat dengan kehidupan, cerita tersebut kemudian berkembang melalui proses panjang hingga menjadi sebuah novel.
Lebih dari sekadar kisah tentang sebuah gang, perjalanan Gang Damai menjadi gambaran bahwa literasi dapat tumbuh ketika masyarakat memiliki ruang untuk mencoba, belajar, dan berkarya. Sebab, terkadang cerita yang paling dekat dengan kehidupan justru menjadi cerita yang mudah menemukan pembacanya. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....