Takut kepada Allah Jadi Benteng Menolak Ajakan Zina

  • 12 Agt 2026 20:21 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Keimanan seseorang dapat diuji ketika berhadapan dengan godaan dan kesempatan untuk melakukan maksiat. Rasa takut kepada Allah SWT dinilai menjadi salah satu benteng yang mampu mendorong seseorang menolak ajakan zina dan menjaga kehormatan diri.

Hal tersebut disampaikan Hj. Sri Ningsih, S.Pd., M.Si. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Rabu (12/8/2026). Kajian tersebut membahas tanda-tanda seseorang yang mampu menolak ajakan berzina karena memiliki rasa takut kepada Allah SWT.

Ustazah Ning menjelaskan, orang yang benar-benar takut kepada Allah menyadari bahwa setiap perbuatannya selalu berada dalam pengawasan-Nya, baik dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi. Kesadaran tersebut membuat seseorang lebih mampu mengendalikan diri ketika menghadapi godaan.

“Allah itu begitu dekat sehingga orang-orang yang merasakan tentang rasa takutnya kepada Allah, sadar bahwa Allah melihat apa yang dilakukan baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu upaya menjaga diri dari maksiat dapat dimulai dengan menjaga pandangan. Ia merujuk pada Surat An-Nur ayat 30 dan 31 yang memerintahkan laki-laki dan perempuan beriman untuk menjaga pandangan serta memelihara kehormatan diri. Menjaga pandangan dinilai penting karena godaan dapat bermula dari sesuatu yang terlihat dan kemudian memengaruhi pikiran maupun hawa nafsu. Karena itu, seseorang yang memiliki rasa takut kepada Allah tidak hanya menghindari zina, tetapi juga menjauhi berbagai hal yang dapat menjadi jalan menuju perbuatan tersebut.

“Orang yang takut kepada Allah bukan hanya menghindari zina itu sendiri, tetapi juga menjauhi rayuan, sentuhan, komunikasi yang mengarah kepada syahwat, dan berbagai pintu yang dapat mengantarkan kepadanya,” jelasnya.

Bahkan, dalam Surat Yusuf ayat 33, Nabi Yusuf AS memilih penjara daripada memenuhi ajakan yang dapat menjerumuskannya ke dalam perbuatan dosa. Menurut Hj. Sri Ningsih, kisah tersebut menunjukkan bahwa menolak godaan bukan berarti seseorang tidak memiliki keinginan, melainkan mampu mengendalikan hawa nafsunya karena takut kepada Allah.

Godaan zina dapat muncul melalui berbagai bentuk interaksi, termasuk di tengah perkembangan media sosial. Menurutnya, kemudahan komunikasi dan semakin kaburnya batas interaksi antara laki-laki dan perempuan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Ia menekankan pentingnya menjaga batas dalam pergaulan, termasuk dalam komunikasi pribadi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan atau kepentingan tertentu. Hal tersebut perlu diperhatikan karena interaksi yang awalnya dianggap sederhana berpotensi berkembang menjadi hubungan yang mengarah pada perzinaan.

Selain menjaga diri, pendidikan dari orang tua juga dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran anak terhadap pengawasan Allah. Beliau juga menyebut konsep muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia.

“Ketika seorang anak sudah tertanam dalam dirinya muroqobatullah, maka insyaallah walaupun tidak dalam pengawasan orang tua, dia tidak akan melakukan perbuatan yang tidak diridai oleh orang tua dan juga insyaallah yang tidak diridai oleh Allah SWT,” tuturnya.

Di akhir kajian, ia berharap pembahasan tersebut dapat menjadi pengingat sekaligus benteng moral, khususnya bagi generasi muda, agar mampu menjaga diri dari pergaulan yang dapat membawa kepada perbuatan maksiat. (Safira)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....