Psikologi Perdamaian: Cara Melatih Otak untuk Tidak Membenci
- 13 Agt 2026 07:04 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Saat berkecimpung dalam media sosial terkadang kita sering menjumpai komentar-komentar buruk, bahkan merujuk pada perilaku judging. Perbedaan pendapat hingga perbedaan dalam suatu pandangan dapat memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik.
Hal tersebut dibahas dalam program Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto, bersama Uswatun Hasanah. S.Psi.,M.A. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Selasa (11/8/2026).
“Lontaran kebencian tidak selalu muncul dari konflik besar. Dalam praktik nya, kebencian dapat berawal dari hal yang terlihat sepele, seperti memberikan penilaian terhadap seseorang hanya karena berasal dari kelompok yang berbeda,” ujarnya.
Menurutnya, manusia memang secara alami cenderung membentuk kelompok sebagai bagian dari kebutuhan untuk memiliki rasa aman dan rasa memiliki. Identitas kelompok dapat terbentuk berdasarkan asal daerah, keluarga, suku, profesi, pilihan politik, hingga kesamaan hobi maupun kegemaran.
“Masalah yang muncul ketika identitas kita tadi itu dibangun dengan cara merendahkan kelompok lain yang berbeda dengan kita. Nah, itu problem besarnya,” lanjutnya.
Ia juga menjelaskan dalam psikologi sosial terdapat konsep in-group dan out-group. in-group merupakan kelompok yang dianggap sebagai bagian dari diri sendiri, sedangkan out-group adalah kelompok yang dipandang berada diluar kelompok.
Kecenderungan menilai kelompok sendiri lebih positif dan kelompok lain secara negatif memunculkan stereotipe. Stereotipe kemudian dapat berkembang menjadi prasangka apabila tidak dikoreksi dengan informasi yang benar.
Uswatun juga menyebut, otak manusia memang cenderung menggunakan jalan pintas kognitif dalam menghadapi dunia yang kompleks. Proses tersebut membuat seseorang lebih mudah mengelompokkan orang berdasarkan karakteristik tertentu tanpa pernah mengetahui sifatnya secara personal. “Padahal tidak semua orang itu kayak gitu,” ungkapnya.
Prasangka dapat berkembang menjadi tindak diskriminasi ketika penilaian negatif tidak hanya berada dalam pikiran, tetapi mulai diwujudkan melalui tindakan. Jika berlangsung terus-menerus, diskriminasi juga dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap kehidupan sosial.
Kebencian yang berkembang dapat berujung pada dehumanisasi, yakni ketika seseorang tidak lagi melihat kelompok lain sebagai manusia yang memiliki perasaan dan kehidupan. Kondisi ini dapat memicu diskriminasi, perundungan, serta polarisasi. Menurutnya, perbedaan merupakan suatu hal yang sehat, khususnya dalam kehidupan demokrasi. Masyarakat tidak memiliki kewajiban untuk memiliki pandangan yang sama.
Persoalan muncul ketika perbedaan membuat seseorang berhenti melihat pihak lain sebagai manusia. Dalam konteks ini, psikologi perdamaian tidak hanya berbicara mengenai ketiadaan konflik. Konflik merupakan hal yang normal dalam kehidupn bermasyarakat, yang terpenting adalah bagaimana konflik tersebut dikelola dan bisa terselesaikan secara konstruktif.
“Perdamaian bukan berarti tidak adanya konflik sama sekali,” jelas Uswatun. Perbedaan dapat dikelola melalui dialog serta pencarian solusi bersama sehingga konflik tidak berkembang menjadi sesuatu yang destruktif.
Ia juga menambahkan, dalam membangun perdamaian masyarakat tidak dituntut untuk selalu mencari kesamaan dalam segala hal. Yang diperlukan adalah menemukan titik temu dan tujuan bersama yang dapat menjadi dasar untuk berkolaborasi. (Safira)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....