Filsafat Secangkir Kopi: Tentang Rasa yang Tak Bisa Diseragamkan
- 04 Agt 2026 14:58 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID Purwokerto – Dalam dinamika interaksi sosial sekarang, seringkali terjebak pola komunikasi yang tanpa disadari justru bersifat merusak secara psikologis, yaitu invalidasi emosi. Sebagaimana dalam program Ruang Psikologi di Pro 1 RRI Purwokerto bersama Imam Faisal Hamzah, S.Psi., M.A. selaku Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, bertemakan "Invalidasi Emosi dalam Secangkir Kopi" pada Senin, (3/8/2026).
Kita bukan sekedar membahas mengenai kopi itu sendiri, melainkan sebuah metafora tentang bagaimana budaya nongkrong sering kali menjadi medium bagi seseorang untuk menyepelekan perasaan orang lain. Invalidasi emosi terjadi ketika seseorang menolak, meremehkan, atau tidak mengakui perasaan yang dialami oleh lawan bicaranya.
"Bukan si kopi ini yang kemudian ajaib, kemudian langsung hilang stres kita itu enggak ya. Tapi justru adalah respon-respon sosial yang kemudian terjadi ketika seseorang itu ngopi," ujarnya.
Seringkali, ini dilakukan dengan maksud baik seperti menenangkan teman sedang bersedih atau mengalami musibah namun eksekusinya justru melukai perasaan. Contoh sering ditemukan penggunaan kata-kata seperti "Sabar ya" atau "Nanti juga selesai kalau sambil ngopi" saat sedang dalam kondisi krisis atau trauma. Meski niatnya menghibur, ini bisa memicu perasaan bahwa emosi yang dirasakan tidaklah penting atau harus disembunyikan.
Maka sangat pentingnya peran mendengarkan tanpa menghakimi, teruatama saat seseorang bercerita tentang masalahnya, sering kali mereka tidak membutuhkan solusi instan atau nasihat (seperti "sabar ya" tersebut), melainkan hanya ingin didengarkan dan perasaannya divalidasi.
"Memahami emosi kita sendiri dulu. Jadi ketika kemudian kita lagi sedih, coba untuk kemudian memahami apa yang membuatku sedih. Jangan kemudian mendenial." ungkapnya.
Penelitian dan pengalaman klinis menunjukkan bahwa respons yang tidak empatik dapat membuat seseorang merasa terisolasi, bahkan memicu trigger yang memperburuk kondisi mental. Seperti, saat seseorang berduka, kata-kata klise seringkali tidak membantu proses penyembuhan, namun menciptakan jarak emosional. Bahkan di lingkungan terdekat, ketidakmampuan merespons dengan validasi yang tepat menyebabkan seseorang enggan berbagi cerita kembali di masa depan.
Imam Faisal menekankan pentingnya empati dan keberadaan media sebagai perantara komunikasi. Kopi, makan bersama, atau kegiatan lainnya hanyalah media untuk menurunkan ketegangan (tensi stres), bukan solusi ajaib bagi masalah emosional. Ketika kita tidak tahu cara merespons, langkah terbaik adalah dengan menjadi pendengar yang baik (aktif mendengarkan) atau sekadar mengulang poin yang disampaikan lawan bicara agar mereka merasa didengarkan.
"Kalau merasa bahwa kita kurang empatik, ya mending kita diam saja, kita dengarkan. Atau kalau misalnya tidak bisa memvalidasi emosi, minimal melakukan probing atau mengulang apa yang disampaikan lawan bicara agar mereka merasa didengarkan," tegasnya.
Langkah krusial dalam menghindari perilaku invalidasi emosi adalah dengan melakukan refleksi diri. Kita perlu memahami emosi kita sendiri terlebih dahulu sebelum mencoba memvalidasi emosi orang lain. Menyadari bahwa setiap manusia memiliki mekanisme pertahanan (defense mechanism) dan mekanisme penyelesaian masalah (coping mechanism) yang berbeda adalah kunci. Yang efektif bukanlah tentang memberikan solusi instan, melainkan tentang penerimaan penuh atas apa yang dirasakan oleh sesama. (Fattah Zakaria)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....