Tips Terhindar dari Kejahatan Siber

  • 15 Jul 2026 07:42 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID. Purwokerto-

PURWOKERTO – Kejahatan siber terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital. Untuk mengantisipasi berbagai bentuk penipuan dan penyalahgunaan data, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan serta menerapkan kebiasaan berinternet yang aman.

Hal tersebut disampaikan Nailul Barokah, S.Kom., M.Si. dalam program Literasi Digital Pro 1 RRI Purwokerto bertema "Masyarakat Cerdas Digital: Bijak dan Aman di Ruang Siber", Selasa (14/7/2026).

Menurut Nailul, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun. Kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol akan membuat akun lebih sulit diretas. Pengguna juga disarankan mengaktifkan autentikasi dua faktor (two-factor authentication/2FA) sebagai lapisan keamanan tambahan.

"Gunakan password yang kuat dan berbeda untuk setiap akun. Jangan gunakan tanggal lahir atau informasi yang mudah ditebak. Aktifkan juga autentikasi dua faktor agar akun memiliki perlindungan tambahan," ujar Nailul.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak sembarangan mengklik tautan atau mengunduh file dari sumber yang tidak dikenal. Banyak pelaku kejahatan siber memanfaatkan tautan palsu atau teknik phishing untuk mencuri informasi pribadi, seperti kata sandi, data perbankan, hingga kode OTP.

"Jika menerima pesan yang meminta data pribadi, password, atau kode OTP, jangan langsung percaya. Verifikasi terlebih dahulu kepada pihak resmi. Ingat, kode OTP tidak boleh diberikan kepada siapa pun," tegasnya.

Nailul juga mengingatkan agar masyarakat tidak membagikan data pribadi secara berlebihan di media sosial. Informasi seperti alamat rumah, nomor telepon, tanggal lahir lengkap, maupun lokasi secara langsung (real time) dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan atau pencurian identitas.

"Jejak digital yang kita tinggalkan bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, batasi informasi pribadi yang dibagikan di media sosial dan pikirkan dampaknya sebelum mengunggah sesuatu," jelasnya.

Di samping itu, perangkat digital perlu diperbarui secara berkala agar sistem keamanan tetap terlindungi dari ancaman terbaru. Penggunaan aplikasi resmi yang diunduh melalui toko aplikasi terpercaya juga menjadi langkah penting untuk menghindari malware.

"Selalu lakukan pembaruan sistem operasi dan aplikasi karena pembaruan tersebut umumnya membawa perbaikan keamanan. Hindari mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak resmi karena berpotensi mengandung malware," katanya.

Apabila menerima pesan yang menawarkan hadiah, meminta transfer uang, atau mengatasnamakan instansi tertentu, masyarakat diminta melakukan verifikasi terlebih dahulu melalui saluran resmi sebelum memberikan informasi atau melakukan transaksi.

"Kunci utama menghadapi kejahatan siber adalah jangan mudah panik dan jangan mudah tergiur. Biasakan melakukan verifikasi sebelum mengklik tautan, memberikan data pribadi, maupun melakukan transaksi digital," pungkas Nailul.

Melalui edukasi literasi digital, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa keamanan di ruang siber merupakan tanggung jawab bersama. Dengan menerapkan kebiasaan digital yang aman, risiko menjadi korban kejahatan siber dapat diminimalkan sehingga teknologi dapat dimanfaatkan secara produktif, bijak, dan bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....