Amaliah Utama Menggapai Keberkahan Bulan Dzulhijjah
- 08 Jun 2026 08:49 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu waktu istimewa atau Asyhurul Hurum di dalam Islam yang dipenuhi dengan peluang amal dan keberkahan luar biasa. Ustaz Enjang Burhanuddin Yusuf menegaskan bahwa 10 hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan yang tidak terbantahkan bahkan pahala amalan di dalamnya dapat melebihi ibadah jihad fisabilillah.
Keutamaan besar ini bersandar pada Al-Qur'an Surah Al-Fajr ayat 1-2 dan hadis sahih riwayat Imam Bukhari. Ustaz Enjang memaparkan sejumlah amaliah utama yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan umat Muslim selama fase tersebut, khususnya bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.
Amalan pertama adalah memperbanyak zikir seperti tahmid, takbir, tasbih, dan tahlil yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Kedua, menghidupkan syiar takbir yang terbagi menjadi takbir mutlak (sejak awal bulan) dan takbir muqayyad (terikat waktu setelah shalat wajib mulai subuh 9 Dzulhijjah hingga asar 13 Dzulhijjah).
Ketiga, melaksanakan ibadah puasa sunnah dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah, dengan penekanan khusus pada puasa Arafah (9 Dzulhijjah) yang memiliki fadilah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
"Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah ketimbang 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Bahkan ketika sahabat bertanya apakah bisa menandingi jihad fisabilillah, Rasulullah menjawab tidak, kecuali bagi seseorang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali membawa apapun karena syahid," ujarnya dalam Dialog Mutiara Pagi, Selasa (19/05/26).
Terkait dengan ibadah qurban, Ustadz Enjang menjelaskan adanya hukum makruh bagi orang yang hendak berkurban untuk memotong kuku dan mencukur rambut sejak memasuki tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurbannya selesai disembelih pada hari Idul Adha. Mengutip pandangan Imam an-Nawawi, hikmah kesunahan ini adalah agar seluruh anggota tubuh orang yang berkurban diselamatkan dari panasnya api neraka di akhirat kelak.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa perbedaan penentuan tanggal 9 Zulhijah antara Indonesia dan Makkah merupakan hal yang wajar karena adanya perbedaan letak geografis (matlak). Oleh karena itu, masyarakat awam cukup mengikuti ketetapan ulama atau pemerintah di negara masing-masing tanpa perlu memperdebatkannya.
Lebih mendalam, momentum kurban dinilai memiliki nilai spiritualitas dan kepedulian sosial yang tinggi. Belajar dari kisah Nabi Ibrahim A.S. dan Nabi Ismail A.S., ibadah kurban mengajarkan kepatuhan mutlak dan penanaman ketauhidan yang kokoh kepada generasi muda.
Menurut Ustaz Enjang, fondasi iman dan agama menjadi benteng utama pelindung anak-anak di era modern dari ancaman kejahatan siber, radikalisme melalui gim, serta pornografi di media sosial. Hewan kurban secara simbolis memotong nafsu kebinatangan dalam diri manusia, sementara pembagian dagingnya menjadi wujud nyata kepedulian sosial agar rezeki yang dimiliki dapat dinikmati bersama oleh kaum fakir miskin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....