Paris, Keromantisan yang Tak Berkesudahan
- 22 Jun 2026 08:57 WIB
- Pontianak
Dunia mengenalnya sebagai pusat mode karena nama-nama besar dalam industri fashion, sebut saja Chanel, Dior, Saint Laurent, Givenchy, Hermes, Louis Vuitton, memang memulai debutnya di Paris, tepatnya di arrondissement atau distrik ke delapan.
Kemajuan industri fashion ini di Paris juga didukung oleh tersedianya kain maupun bahan-bahan berkualitas terbaik di kota ini, yang bila ditilik sejarahnya, sedikit banyak berhutang pada Raja Louis XIV yang berkuasa pada 1643.
Saya dengar ceritanya, karena menyukai kemewahan, termasuk dalam hal berpakaian, sang raja kemudian membina seniman-seniman setempat untuk menghasilkan berbagai barang terbaik untuk konsumsi pribadi maupun dijual ke luar negeri untuk mendatangkan devisa.
Sementara itu gaya cutting edge tersedia di arrondissement ketiga, seperti di gerai Merci yang saya dapati menjual aneka barang high fashion dengan potongan harga menarik, mulai dari sepatu, wewangian, hingga perhiasan, di
mana kompleks pertokoan ini juga dilengkapi toko bunga, toko buku bekas, dan kafe.
Pilihan tentu tak akan salah dengan mengunjungi tiga departement store paling ternama di Paris, yaitu Le Bon Marche yang telah beroperasi sejak 1850-an dengan mengandalkan lima ribu lapak makanan gourmet.
Lalu Printemps yang disebut-sebut memiliki toko kosmetik terbesar di dunia. Dan tentu saja Galeries Lafayette yang bertempat di gedung art nouveau tujuh lantai dan setiap Jumat menggelar peragaan busana dengan bahasa pengantar Inggris.
Katanya, banyak yang berseloroh bahwa toko-toko terbaik di Paris tidak menjual pakaian, namun menjual gaya hidup. Berada di Paris, saya kira, siapa pun akan menyetujui seloroh tersebut.
Eiffel Tower. Berapa kali pun melihat Menara Eiffel, siapa pun tak bisa menolak desir yang tiba-tiba memenuhi dada. Merupakan tujuan wisata paling terkenal di Paris, menara yang dibangun pada 1888 ini menyediakan tangga maupun elevator bagi yang ingin menikmati wajah kota dari ketinggian lantai dua menara ini.
Bagi yang tidak menyukai keramaian, dapat mengunjungi Eiffel di malam hari sambil menikmati cahaya yang menghiasi bangunan besi yang ikonik ini.
Untuk sebuah pengalaman berkesan, di puncak Eiffel terdapat bar yang buka hingga pukul 22 dan menawarkan aneka minuman dengan kisaran harga antara 12 hingga 21 Euro. Sedangkan bagi yang ingin bersantap istimewa, di lantai satu menara terdapat Restaurant 58 yang menyajikan aneka menu untuk makan siang dan makan malam sambil menikmati Paris dari ketinggian.
Bila bukan pertama kali ke Paris, namun tetap ingin menikmati Eiffel dan terlebih bila matahari sedang bersinar cerah, manfaatkanlah lapangan hijau yang mengelilingi menara ini dengan menggelar tikar piknik di Champs de Mars.
Dalam perjalanan menuju Eiffel, mampirlah di rue cler yang tak jauh dari menara untuk membeli keju, baguette, dan sebotol wine. Rue Cler adalah salah satu tempat terbaik di Paris untuk berbelanja makanan. Tak jauh dari Menara Eiffel dan dapat ditempuh dengan 15 menit berjalan kaki, terdapat Museum Rodin yang kerap disebut-sebut sebagai salah satu museum patung terbaik di Eropa. Auguste Rodin sendiri adalah pematung revolusioner Prancis dan salah satu karyanya yang terkenal adalah patung The Thinker.
Gang-gang berlantai satu yang dijulangi kubah putih Gereja Sacre Coeur di sekitar Montmartre, dengan mudah membuat siapa pun bagai berada di Paris pada era 1920-an. Walau berada di tengah Paris yang modern dan merupakan salah satu tempat paling ramai turis, keunikan Montmartre adalah suasana pedesaannya yang tetap terpelihara.
Desa tempat seniman berkumpul sejak abad XIX berkat keberadaan tempat hiburan malam Moulin Rouge dan Le Chat Noir ini kini juga menjelma menjadi pusat industri kreatif warga setempat yang hadir dalam bentuk kafe, butik, toko vintage, dan perusahaan start up kecil-kecilan.
Selain berbelanja atau menikmati kopi dengan sepotong pastry yang menyajikan pemandangan ke arah Sacre Coeur, dari puncak bukit di Montmartre yang berada di tepi kanan Sungai Seine menyajikan pemandangan kawasan arrondissement atau distrik ke 18 dari ketinggian.
Puncak bukit ini juga bersejarah karena pernah digunakan oleh pasukan Henry IV untuk melontarkan artileri pada perebutan Paris di konflik berkepanjangan antara penganut Katolik dan Protestan pada 1590, serta digunakan lagi untuk melakukan hal yang sama oleh pasukan Rusia yang menginvasi Paris.
Saya tidak ingin melewatkan juga menjelajahi jalan-jalan utama, seperti rue des Martyrs, rue Lamarck, rue Caulaincourt, rue des Abbessed, selain jalan-jalan kecil di belakang Sacre Coeur, kebun anggur mungil di Rue des Saules, dan bekas studio Pablo Picasso di rue Revignan.
Berbagai produk desainer ternama, mulai yang berkebangsaan Prancis, seperti Sandro, Eric Bompard, Longchamp, dan Vanessa Bruno hingga perancang internasional, seperti Jimmy Choo, Kenzo, Marni, Michael Kors, Paul Smith, Tod's dan Sonia Rykiel dengan harga setidaknya 33 persen lebih murah dari yang ada di outlet resminya dapat ditemukan di La Vallee Village.
Berada tak jauh dari Disneyland Paris di Marne la Vallee atau 40 menit berkendara dari Paris, tempat yang populer di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Paris ini juga dapat diakses naik kereta menuju Marne la Vallee Chessy Parcs Disney. Terdiri dari 110 butik premium, La Vallee Village pun menyediakan layanan shuttle dua kali sehari dari Place des Pyramides dengan tiket dua arah seharga 13 25 Euro.
Saya rasakan, pengalaman berbelanja di sini tak cuma dari segi merek-merek yang tersdia, namun juga layanan personal yang memudahkan pengunjung, seperti personal stylist yang merekomendasikan berbagai budana dan aksesoris sesuai kepribadian, dan jasa membawakan belanjaan atau hands free shopping supaya pengunjung dapat lebih leluasa berbelanja.
Arpege, restoran mengolah aneka menu sayuran, buah dan rempah yang dielevasi. Ketenaran namanya, menghilangkan menu daging merah di restoran ini, kemudian membeli sebidang tanah di Sarthe, kemudian di tahun-tahun berikutnya membeli lagi tanah di Eure dan Manche, untuk dijadikan ladang untuk memasok kebutuhan restoran.
Semua hasil ladang tersebut tiba di Arpege sesaat sebelum jam makan siang. Sehingga buah, sayur, dan rempah yang digunakan pada menu-menunya belum pernah disimpan di kulkas, dan hal tersebut sangat berpengaruh dalam rasa.
Ketersediaan bahan pun membuat restoran ini selalu berubah setiap harinya, sehingga selalu memberikan kejutan bagi para pengunjung. Salah satu menu yang direkomendasikan adalah telur panas dingin atau telur tanpa kulit yang direbus di air mendidih dengan whipped cream yang telah diberi cuka sherry, daun chives, dan sirup maple dari Kanada. Vol-au-bent atau puff pastry yang berlubang di tengah dengan anggur Cotes du Jura, kacang polong, dan lobaknya pun banyak dipuji.
Saya dengar, Septime adalah salah satu nama yanh menyumbangkan alasan Paris sebagai salah satu destinasi kuliner terbaik di dunia. Pengalaman bersantap di sini beragam dan tak harus mahal. Restoran-restoran berkualitas baik dengan sederet penghargaan masih banyak yang terjangkau, seperti Septime milik Chef Bertrand Grebaut, yang merupakan bekas anak buah Alain Passarf di Arpege.
Restoran yang justru tutup pada Sabtu dan Minggu ini hanya buka Senin untuk makan malam dan Selasa hingga Jumat untuk makan siang dan makan malam. Keberadaan Septime telah ikut mendongkrak kawasan rue de Charonne tempatnya berada.
Dalam waktu singkat, Septime juga membuka restoran seafood bernama Clamato dan wine bar bernama Septime La Cave. Masakan Grebaut yang terkenal di Septime adalah kembang kol panggang dengan rumput laut dan mentega wasabi. Ciri khasnya adalah senang memadukan bahan-bahan yang tidak biasa namun tetap menghasilkan rasa yang seimbang, misalnya turbot dipadukan kubis Brussel, bacon dengan saus jamur, asparagus dengan tiram, hazelnut, dan krim. Hidangan penutup yang terkenal di sini adalah sorbet keju yang disajikan dengan purer apel dan pir.
Di Paris, tak semua tempat makan di sini berupa restoran mewah yang menyajikan haute cuisine, karena warga Paris juga gemar melahap baguette yang baru dipanggang dari boulangeri atau bakery setempat, atau mencicipi keju dengan bau menyengat di fromagerie atau toko keju. Oleh karena itu, di tiap distrik di Paris memiliki setidaknya satu pasar makanan yang menjual buah, roti, keju, hingga anggur, maupun kios-kios untuk makanan takeaway.
Penyuka kudapan manis dapat berkeliling toko permen, kue, dan cokelat terbaik di Paris, juga mampir di salah satu kafe terkenal, seperti Cafe de Flore dan Les Deux Magots yang dulunya sering dikunjungi penulis dan seniman terkenal, sebutlah seperti Ernest Hemingway hingga Pablo Picasso. Setelah seharian beraktivitas, tutup malam dengan menonton pertunjukkan kabaret di Moulin Rouge sembari menikmati makanan khas Prancis dan menyesap sampanye.
Saya menginap di Hotel Molitor Paris. Ketika membuka jendela memang tidak tampak Menara Eiffel. Namun hotel ini menawarkan pemandangan di luar jendela yang tak kalah unik, yaitu kolam renang yang pernah menjadi landmark Paris, yaitu Piscine Molitor yang pertama kali dibuka untuk umum pada 1929.
Selama 60 tahun, Piscine Molitot, namanya menginspirasi Yann Martel menuliskan novel Life of Pi, di mana nama panjang Pi adalah Piscine Molitor, menjadi pusat rekreaksi kaum bourjouis Paris di segala musim karena di musim dingin, airnya hangat.
Di kolam renang ini pulalah baju renang model bikini pertama kali diperkenalkan. Ketika itu perancang baju dalam wanita meminta seorang penari mengenangkan bikini rancangannya di Piscine Molitor dan tak butuh waktu lama bagi bikini untuk mendunia.
Ketenaran kolam renang ini memudar pada 1970-an, ketika musim dingin diubah menjadi rink ice skating yang ternyata kurang diminati warga Paris. Setelah bertahun-tahun terbengkalai, perlahan mulai ada yang iseng mencoreti dinding luarnya dengan graffiti dan lama-lama, seniman setempat mulai ikut-ikutan menggambari graffiti hingga ke kolam yang kering.
Karena tertutup graffiti dan justru malah menyisakan tampilan unik, Molitor pun kemudian menjadi tempat untuk memggelar konser, pesta, dan fashion show, sebelum kemudian Paris City Council mengumumkan niatnya untuk merestorasi Molitor dengan menggandeng Acchorhotels pada 2011. Beberapa tahun kemudian renovasi selesai dan dengan tetap mempertahankan kolam renang dan Acchorhotels menawarkan 124 kamar dan suite yang mengitari kolam renang bersejarah tersebut, sehingga mengingatkan akan layout kapal pesiar mewah.
Hotel di bawah brand MGallery by Sofitel ini kamar-kamarnya dirancang oleh arsitek Jean Philippe Nuel. Graffiti yang telah menjadi bagian dari sejarah hotel pun diadaptasikan di berbagai sudut lobi, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Penulis: Syafaruddin Daeng Usman
Baca juga: Jadi Flanerie di Paris yang Romantis
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....