Jadi Flanerie di Paris yang Romantis

  • 21 Jun 2026 14:47 WIB
  •  Pontianak

Tak heran Paris dijuluki salah satu kota paling romantis di dunia. Kalau pun Hollywood tak menjadikan kota ini sebagai latar dalam berbagai produksinya, tata kota dan aura kota ini tetap membuat siapa pun ingin melambatkan ritme hidup dan menyerap setiap hal yang ditangkap mata, setiap aroma yang sampai ke penciuman, setiap suara yang terdengar, dan setiap rasa yang dikecap lidah.

Kaum kafe, begitu kesan saya untuk Paris. Warga Paris menjadikan jalan kaki, duduk-duduk atau berdiri, dan memperhatikan orang-orang sekitar menjadi sebuah seni.

Pada suatu sore hari yang hangat, pintu-pintu kafe dibuka lebar. Tak ada yang memisahkan dengan trotoar dan jalanan di luar. Tak banyak hal yang lebih Prancis ketimbang seni saling memperhatikan penampilan orang lain, atau voyeurisme dan saling mempertontonkan diri, yang terjadi di kafe-kafe Paris.

Bagaimanapun juga. Dalam hal mengisi waktu luang, memerhatikan orang lain merupakan salah satu hal yang paling mendarah daging dalam diri orang Paris. Pada 1800-an, saat industrialisasi mengubah Paris menjadi salah satu metropolis besar dunia, flanerie, kata yang berarti berjalan kaki tak tentu arah tetapi sambil memperhatikan orang-orang yang lewat, naik derajat menjadi suatu bentuk seni.

Flaneur atau orang yang melakukan flanerie, seperti penulis novel Honore de Balzac dan pujangga Charles Baudelaire, akan berjalan-jalan di grands boulevards di Bantaran Kanan Paris. Di tempat itu trotoar lebar serta kafe-kafe bermunculan dan memberikan sudut pandang yang sempurna untuk melayangkan pandangan kepada orang-orang yang lewat yang tak terlupakan. Gosipnya, beberapa flaneur berjalan-jalan bersama kura-kura peliharaannya agar mereka benar-benar berjalan lambat.

Saya hanya menemukan sedikit gema dari dunia yang dipaparkan Baudelaire dan Balzac. Toko-toko bermerek dunia berkilauan di bawah balkon besi tempa, warga Paris bergegas melaluinya tanpa melepaskan pandangan dari ponsel yang mereka genggam.

Saya berbelok dari Boulevard Haussmann dan menuju Galerie Vivienne, salah satu passages, koridor berisi toko berderet-deret dengan atap kaca menaungi jalannya, yang terkenal di Paris.

Hanya sedikit tempat yang mengingatkan kembali akan tahun 1800-an. Orang Paris menambahkan sebuah unsur penting, atap kaca, sehingga cahaya matahari bisa membanjiri bagian dalamnya. Inilah yang menciptakan apa yang disebut Walter Benjamin, seorang pengkritik sosial abad XX, sebagai sebuah miniatur kota.

Koridor ini membentuk jalanan yang nyaris terus menyambung dari boulevard besar menuju titik kumpul para seniman, Montmartre. Di jalanan ini orang-orang, seperti halnya barang dagangan, mengiklankan diri sendiri. Dengan kata lain, tempat sejati seorang flaneur.

Di bawah atap kaca Galerie Vivienne, dengan ujung berupa gerbang lengkung neoklasik yang diapit lukisan bidadari, saya berdiri di sisi sebuah toko buku antik. Saya siap untuk menerapkan sendiri sedikit flanerie. Jendela toko itu memantulkan meja-meja kafe di dekat situ sehingga saya bisa mengamati orang-orang yang duduk di meja yang bersebelahan.

Setiap koridor jalanan Paris memiliki kisahnya sendiri, hanya setengah terungkap seiring saya berjalan melaluinya. Di Passage de Panoramas, terkenal di novel Nana karya Zola, sebagai tempat sang wanita simpanan yang namanya menjadi judul cerita itu menemui kekasih-kekasihnya. Saya perhatikan seorang wanita yang telah berumur, dengan baju sifon biru yang berlebihan, duduk sendirian di teras L’Arbre a Cannelle, sebuah brasserie atau resto bar dengan fasad kayu berukiran rumit dari abad XIX.

Ia tegak duduk di kursinya. Rambutnya yang dicat pirang ditata dengan gaya flapper, ikal yang menjadi tren di tahun 1920-an. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang. Tapi tak ada yang datang. Di seberang jalan, di sebuah toko perangko bekas dan langka, seorang pria tua pemilik toko duduk sendiri di balik meja kasirnya. Ia pelan-pelan menikmati sepotong steak tartar dan segelas anggur merah. Saya kira mungkin ia seorang duda yang tak terbiasa dengan kesendirian, atau ia sudah makan seperti itu selama 65 tahun.

Begitu pun saat di kafe saya mengamati seorang pria muda karismatik dan seorang wanita pirang bergaun sempurna yang duduk di meja yang bersebelahan. Mata mereka seolah-olah tertuju ke arah buku yang mereka pegang. Mereka sepertinya bergantian saling melirik dan juga tersenyum. Di Paris, sebuah ciuman lebih dari sekedar ciuman, ini adalah saat yang dibagi dengan orang lain dalam kisah kota ini. Ketika mereka melangkah pergi, mereka tertawa. Saya melirik ke buku yang mereka tinggalkan. Saya buka, ternyata adalah buku orang telanjang yang erotis. Setiap pribadi di kota, adalah sebuah pertanyaan yang tak terjawab. Bagaimana kisah mereka, tergantung kepada imajinasi.

Jika kafe-kafe di bulevar dan koridor-koridor galeri mewakili dua dari teater urban besar yang menampilkan ville spectacle, teater yang ketiga adalah department strore. Inilah tempat yang disebut Balzac sebagai puisi indah tentang pajangan, menyanyikan stanza-stanza warnanya dari Medeleine sampai gerbang Saint Denis.

Pada abad XIX, tempat bisnis ini, yang inovatif pada masa itu, lebih dari sekedar membeli barang. Ini merupakan tempat untuk melihat dan dilihat, panggung peragaan tempat orang membanding-bandingkan pilihan busana. Seperti Studio 54, klub malam terkenal di New York tahun 1970-an, dengan mesin kasir.

Di Le Bon Marche, departement store tertua di Paris, tempat ini pula yang mengilhami novel perdagangan dan rayuan Zola, The Ladies’ Paradise. Meskipun Printemps dan Galeries Lafayette lebih dikenal, hanya di Le Bon Marche bisa menemukan sisa-sisa Paris kuno. Juga, kegiatan saling melakukan flanerie dan pamer yang amat menjabarkan budaya Kota Paris. Di kota ini, semuanya tentang melihat dan dilihat.

Soldes, adalah masa obral yang ditentukan oleh pemerintah. Semua warga Paris, baik kaya maupun miskin, keluar rumah untuk berbelanja, dan melihat siapa lagi yang juga sedang berbelanja. Semuanya adalah perlambang. Di New York atau London, yang penting adalah merek. Di sini perbedaannya lebih halus, bentuk sepatu, jahitan tas tangan, rancangan syal, semua membentuk bahasa visual yang kompleks yang digunakan warga Paris untuk berkomunikasi.

Keesokan hari, saya ke Cafe de Flore, di Boulevard St Germain. Jika bulver di Bantaran kanan dulu merupakan lokasi utama bagi flaneur pada abad XIX, terrasses kafe di Bouleverd St Germain menjadi rumah spiritual para penghuni kafe dari Lost Generation atau Generasi yang Hilang. Mereka adalah orang-orang yang menjadi dewasa pada zaman Perang Dunia Pertama.

Interior art deco Flore dulunya menyambut kaum cendekia seperti Jean Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Albert Camus. Kini, meski disambangi banyak pelancong, Flore bersama tetangga pesaingnya, Les Deux Magots, tetap menjadi salah satu tempat bagus di Paris untu mempraktikkan flanerie.

Pada hari terakhir di Paris, saya mengunjungi makam salah satu idola saya, Oscar Wilde. Penulis ini menghabiskan bulan-bulan terakhirnya di kota ini. Esainya tentang akal cerdas dan pertunjukkan, membuat saya jatuh cinta dengan ide ville spectacle. Makamnya seperti spinx, berada di balik kaca di pemakaman Pere Lachaise. Sebabnya, banyak pemujanya mencium makam itu sehingga permukaannya melapuk, ada yang datang meletakkan bunga, lalu pergi lagi.

Beranjak dari situ, di sebuah kafe, saya teringat fotografer Amerika Peter Turnley yang jatuh cinta kepada Paris pada 1975 dan pindah ke Ibukota Prancis ini pada 1978. “Paris selalu mengingatkan saya betapa hidup itu bisa begitu indah. Mungkin dibanding kota lain, lanskap visual di sini lebih menggambarkan puisi dan kekuatan cinta”, begitu Turnley mengungkapkannya dalam sejumlah foto di bukunya, French Kiss: Sepucuk Surat Cinta untuk Paris, terbit pada 2013.

Dan saya membaca buku itu di kafe, Cafe de Flore, sembari bergumam, persembahan bagi saat-saat menakjubkan penuh romantis ...

Penulis: Syafaruddin Daeng Usman

Baca juga: Close Encounter, Sebuah Pengalaman Perjalanan ke Eropa

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....